Untuk Teman-Teman yang Meninggalkan Jawa Pos

COWASJP.COM – Tulisan ini adalah penyemangat untuk teman-teman, lebih tepatnya adek-adek angkatan, yang saat ini berbondong-bondong meninggalkan Jawa Pos. Entah karena harus mengambil pensiun dini atau entah karena diminta pensiun dini. Adek-adek angkatanku ini rata-rata usianya masih awal 40 tahunan, atau mungkin ada yang masih 37-38. Dan mereka harus pergi meninggalkan perusahaan, yang seperti halnya saya dulu, sangat kita cintai. Mengutip bahasanya Janesti Priyandini Prasetya, tempat yang membuat kita jadi bucin (budak cinta).

Bisnis media cetak memang ibarat matahari yang sedang terbenam. Sunset. Pergeseran platform media dan komunikasi menjadi digital memang membunuh media konvensional, terutama cetak, pelan tapi pasti.  Tetapi sunset tidak harus mati. Sunset juga indah. Sunset juga bisa dinikmati. Bergantung bagaimana kita mengelola masa-masa senja tersebut. Menjadi lebih kecil itu pasti, tetapi tidak harus menjadi mati. 

askring1.jpgDua tim sepakbola Jawa Pos Group, Askring (Asal Keringatan) adalah kenangan indah tak terlupakan. (FOTO: askring.blogspot.com)

Adek-adek saya ini, kabarnya, puluhan. Entah berapa orang. Ada yang menyebut 30an, ada yang bilang 50an. Para redaktur yang masih pada usia-usia produktif, dan mungkin usia puncak produktivitas dan kreativitas, harus menerima kenyataan pahit. Pensiun dini untuk kemudian dipekerjakan kembali sebagai karyawan kontrak dengan pendapatan yang tentu lebih rendah dari yang selama ini mereka terima. Beberapa teman menolak pensiun dini, pilihannya ya menerima pemberhentian dengan hormat. Saya bisa membayangkan kesedihan dan kegalauan mereka, seperti cerita salah seorang adek angkatan di Jawa Pos yang curcol via telepon dengan saya. 

Saya tidak dalam posisi bisa memberikan penilaian atas langkah “PHK massal” oleh manajemen Jawa Pos ini. Tidak etis. Tetapi saya ingin menyemangati adek-adek yang saat ini mungkin sedang galau karena harus meninggalkan kapal besar bernama Jawa Pos. Saya sudah merasakan itu 11 tahun lalu. Di tengah puncak karir saya, dalam usia 35 tahun, saya harus memilih untuk meninggalkan koran yang saat itu adalah yang terbesar kedua di Indonesia.

Tidak hanya meninggalkan Jawa Pos dan Graha Pena, tetapi juga meninggalkan kota Surabaya tercinta. Tiga bulan saya jumud dan tidak bisa move on, tetapi Alhamdulillah hingga 11 tahun berlalu saya masih hidup dan baik-baik saja. Baik-baik saja meski tidak jadi wartawan dan baik-baik saja meski tidak bekerja di perusahaan media yang saat itu sangat berpengaruh di Jawa Timur. I am totally fine.

askring2.jpg

Jadi, adek-adek dan teman-teman semua, ini adalah saat teman-teman terjaga dari tidur dan bangun dari mimpi. Di luar sana banyak sekali peluang dan kesempatan, jika kita mau belajar dan konsisten untuk terus memgembangkan diri. Yang usianya belum 40 tahun masih ada peluang berkarir di perusahaan lain, perusahaan bukan media akan lebih baik akan menjadi pengalaman baru.

Yang sudah di atas 40 harus belajar mandiri, dengan segala kemampuan dan jaringan yang dimiliki. Saat ini boleh kehilangan segalanya, tapi jangan kehilangan harapan. Karena teman-teman adalah orang-orang yang hebat dan terpilih. 

irul.jpgPenulis (berdiri) ngopi sama Cak Sukma dan Irul di Malang. (FOTO: istimewa)

Jawa Pos adalah sekolah terbaik. Tempat kita berlatih bekerja keras dan belajar tentang loyalitas tanpa batas. Tapi tetap saja kita adalah pribadi-pribadi yang tidak bisa selamanya menggantungkan hidup kepada orang lain kecuali kepada diri kita sendiri. Jadikanlah situasi yang sulit saat ini sebagai langkah awal untuk membuka horizon masa depan teman-teman yang lebih luas dan panjang. Jangan pernah menoleh ke belakang dan percaya bahwa di depan teman-teman sudah menunggu masa depan yang jauh lebih gemilang.

Mei 2009, di lantai 4 Graha Pena Surabaya, saya pamit kepada Chairman Jawa Pos saat itu, Bapak Dahlan Iskan. Beliau tampak kaget dan bertanya, “Anda mau pindah ke mana? Kalau di perusahaan media lagi, jangan. Di sini saja.

askring3.jpg

Tapi kalau di perusahaan lain, apalagi lebih baik dari Jawa Pos, silakan.” Teman-teman memberikan standing ovation, saya terharu, tetapi palu sudah diketuk dan tentu kita pantang surut ke belakang. Semangat dan salam sukses untuk teman-teman (tofan.mahdi@gmail.com)

Penulis adalah wartawan Jawa Pos 1997-2009.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda