Pensiun Dini ala Jawa Pos

COWASJP.COM – Ada candaan yang biasa kita dengar waktu masih muda. Saat masih belum bekerja. Ada celetukan: “Belum bekerja sudah mikir pensiun? Dapatkan pekerjaan dulu baru mikir pensiun.”  

Candaan tersebut memang sederhana, tapi ada juga benarnya. Mereka sudah memikirkan apa yang akan dilakukan saat hari tua nanti, setelah pensiun. Sebelum memperoleh pekerjaan sudah memikirkan bagaimana mensimulasikan langkah setelah pensiun. Dan, semua manusia punya hak untuk memikirkannya.

Tapi setelah masuk dunia kerja, setelah memperoleh pekerjaan, candaan seperti itu sepertinya hilang. Diganti dengan impian bakal mendapatkan penghasilan tetap tiap bulan. Bahkan sudah berpikir yang lain, punya rumah, mobil,  dan membahagiakan anak istri. Terlupa bagaimana setelah pensiun nanti.   

Konyolnya, sebelum semua impian tercapai, beberapa tahun kemudian perusahaan tempatnya bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk dirinya.   Ambyar sudah semua impian.   

Penghasilan tiap bulan sudah tidak ada lagi. Andai masih mendapatkan penghasilan tiap hari, mungkin dampaknya tak separah mereka yang terbiasa mendapatkan gaji bulanan selama bertahun-tahun.   

Akan lebih parah jika biasa mendapatkan penghasilan  superbesar, lantas tertangkap pihak berwajib karena kasus korupsi atau narkoba. Pusing berat. Sudah terbiasa dengan kehidupan mewah, langsung bangkrut begitu saja disita pihak berwajib.

Kasus terkini yang sedang marak di Indonesia adalah PHK. Perusahaan seolah memperoleh kesempatan emas gegara pandemi Covid-19. Mendapatkan momentum tepat untuk melakukan PHK!

Padahal, bisa saja sejak dari awal – sebelum pandemi mengglobal – perusahaan itu memang sudah salah urus. Tentu saja ada pula perusahaan yang benar-benar merugi gegara terdampak pandemi Covid-19.     

Untuk kasus perusahaan yang salah urus, jauh hari sebelum pandemi Covid-19 memang sudah termehek-mehek. Nah, prahara Covid-19 yang berkepanjangan inilah momentum paling pas melakukan langkah tragis: PHK. Atau tawaran pensiun dini dengan biaya minim. Meskipun dalam beberapa waktu sebelumnya, tidak ada tanda-tanda bahwa perusahaan tersebut mengalami kesulitan  finansial yang  parah. 

Hanya dalam tempo 3 – 4 bulan saja sejak pandemi Covid-19, langsung mengambil tindakan dratis terhadap karyawannya. Sementara para karyawannya  tak menduga perusahaan  kebanggaannya tiba tiba mem-PHK dirinya atau tawaran halus pensiun dini. Di mana keuntungan perusahaan selama ini? Masak langsung habis dalam 4 bulan? Masalah ini tidak pernah dijereng transparan. 

Memang bukan yang sesuatu yang aneh perusahaan mem-PHK karyawanny. Sudah tak terhitung contoh perusahaan yang melakukan PHK dengan cara pensiun dini.  Tapi biasanya  sudah terjadi masalah bertahun-tahun sebelumnya, tapi karena tak ketemu jalan keluarnya, maka PHK menjadi langkah terakhir.    

Biasanya hal ini terjadi pada perusahaan yang sedang  tumbuh dan besar. Kekurang hati-hatian, daya kreatifitas pengelolaan “mati”, bisa juga karena lalai,  dan tak pernah  menyiapkan berbagai  simulasi menghadapi kondisi buruk. 

Terlena, terbuai dengan kemakmuran.

Sudah terlanjur mempunyai karyawan berjibun dan tak semuanya produktif, mendadak kebingungan ketika terjadi sedikit goncangan.    

Sebelumnya manajemen perusahaan merasa baik baik saja dengan kondisi yang ada. Pemasukan masih jauh di atas  pengeluaran untuk gaji karyawan. Gaji karyawan pun sudah besar karena masa kerja. Mungkin juga bangga dengan kebesaran perusahaannya, baik itu pimpinan perusahaan  maupun orang-orang yang berada di dalamnya. 

“Tak mungkin perusahaan kita bangkrut!” pikir mereka. 

jp.jpgSigit Sugiarto, salah satu pelanggan setia Jawa Pos. Empat generasi pelanggan setia Jawa Pos. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Tapi ternyata semua “bayangan” itu sirna.  Apalagi pemilihan pengurus perusahaannya bukan berdasarkan kemampuan dan kompetensi. Ambyar adalah hal yang sangat wajar.

**

Kejadian terbaru  yang membuat publik terhenyak adalah  tawaran pensiun dini ala Jawa Pos terhadap para karyawannya. Dimulai dengan yang usia di atas 40 tahun, kemudian disusul dengan yang usia 30 tahun – 40 tahun. 

(Baca: Brand Jawa Pos Harus Tetap Terbit dan Hidup, Cowasjp.com).   

Orang luar seperti saya, ikut heran dan bingung. Berarti dana Jawa Pos untuk mempensiundinikan para karyawannya cukup besar.  

Sebab, lazimnya, tawaran pensiun dini kepada karyawan adalah tawaran yang paling menggembirakan untuk diterima.  Sering disebut Golden Shake Hand. Karena sepanjang yang saya ketahui, tawaran pensiun dini adalah tawaran yang menggiurkan untuk diterima tiap karyawan.  

Tapi, kalau pansiun dini atau Golden Shake Hand yang ditawarkan ternyata tidak menarik bagi karyawan, alamak itu bukan pensiun dini namanya.  

PHK dengan dana cekak atau  minimalis! Tidak menarik sama sekali. Tapi yang menarik justru provokasi entah dari mana, kalau tidak mau sekarang, tahun depan belum tentu sebesar sekarang pesangonnya.

Apakah demikian memperlakukan karyawan sebuah perusahaan sebesar Jawa Pos? Jawa Pos yang mempunyai  ratusan anak perusahaan, di mana pengembangan sumber dananya  berawal dari Jawa Pos. Kok bisa seperti itu? Entahlah.     

Akbatnya, muncul praduga terhadap pengurus Jawa Pos. Bermacam macam dan yang penting ada untung, demikian jalan pikirannya mungkin. Jika tak menguntungkan buat apa dilakukan pensiun dini.  Padahal perusahaan tersebut mestinya mempunyai tujuan jangka menengah dan panjang. Atau jangan-jangan tujuan jangka menengah dan panjangnya justeru tak pernah dirumuskan secara matang?

jp1.jpg

Karyawan adalah manusia yang mempunyai impian dan tujuan hidup saat dia memilih bekerja di suatu organisasi perusahaan. Tapi ternyata setelah menggantungkan hidup pada perusahaan tersebut, tiba tiba harus berhenti bekerja.    Siapkah mereka dipensiun dini? Tentu sangat sulit menghadapinya. Mereka harus memeras otak bagaimana mengelola pesangon agar bisa tetap hidup.

Jadi, candaan di awal tulisan: “Masuk kerja sudah harus mikir pensiun”, adalah hal yang seharusnya dilakukan oleh setiap karyawan. Termasuk karyawan Jawa Pos.

Dengan begitu mereka telah mempersiapkan diri sedini mungkin untuk menghadapi hal terburuk.

Efeknya mungkin karyawan kurang total bekerja, karena terus menerus mikir pensiun.  Tapi mereka tidak kaget ketika terjadi pemensiunan dini seperti yang dilakukan Jawa Pos sekarang ini. Mereka sudah siap dengan usaha sendiri yang sudah lama dirintisnya.  

Idealnya perusahaan yang baik  tentu mempersiapkan pansiun karyawan sedikitnya 5 tahun sebelum berakhirnya    masa tugas di perusahaan. Pegawai negeri saja mempersiapkan pekerjanya sebelum pensiun. MPP = masa persiapan pensiun. Padahal setelah pensiun mereka masih memperoleh uang pensiun tiap bulan.

Perusahaan apapun,  sebesar apapun, kalau sudah melaksanakan PHK masal sebelum usia pensiun, pasti perusahaan tersebut sedang  bermasalah. Dipastikan pengurus atau menajemen perusahaan tidak punya kompetensi memimpin perusahaan.    

Salah satu contohnya , perusahaan mobil Renault  Perancis yang  sempoyongan. Begitu Carlos Ghosn memimpin perusahaan, Renault kembali berkembang pesat. Begitu pula perusahaan mobil Nissan yang hampir bangkrut, begitu ditangani Carlos Ghosn, moncer lagi.

Tak perlu jauh-jauh.  Jawa Pos sendiri tahun 1982 ke bawah dikenal sebagai koran oplah sebecak!  Begitu ditangani Dahlan Iskan, Jawa Pos bertiwikrama menjadi kelompok perusahaan media yang menggurita ke segala sudut usaha.     

Jawa Pos yang sekarang – setelah Dahlan Iskan “lengser” – sempoyongan. Akhirnya terpaksa dan memaksa pensiun dini para karyawannya. Sulit membayangkan totalitas perjuangan para karyawan yang sejak usia 30 tahun sudah berstatus kontrak. Yang sewaktu-waktu bisa diputus kontraknya. 

Apakah Jawa Pos memang sudah tidak punya niat kuat untuk bangkit lagi? Oke korannya turun terpukul media online, tapi usaha-usaha lainnya bagaimana? Inovasinya seperti yang dilakukan koran Amerika bagaimana?

Di sinilah kepiawaian pengurusnya  diuji. Seberapa karatnya?   Kita tetap berdoa: semoga  Jawa Pos bisa keluar dari masalah dan segera bangkit. Kembali menjadi perusahaan yang disegani dan menjadi kebanggaan para pekerjanya. Kebanggaan saya juga tempo doeloe, sebagai almamater pertama .

Banyak para Cowasers (kumpulan para mantan Jawa Pos) sudah memprediksi Jawa Pos akan mengalami kesulitan, kalau tak ada perubahan. Sekarang inilah ujian kualitas Jawa Pos. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda