Setelah Setahun mobil Kijang LGX Hilang (9)

Terima Kasih Magda

Sebelum masuk kapal. Penulis (paling kiri) bersama dua petugas Serse Polres Gresik dan mobil Kijang LGX. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Sayang sekali saya tidak punya foto Pak Bello, Kabid Humas Polda NTT. Padahal beliau dan Magda sangat membantu proses pengembalian mobol Kijang LGX saya yang hilang itu. 

Waktu itu saya tidak terpikirkan bahwa kisah itu 16 tahun kemudian (2020) akan saya tuliskan di cowasjp.com.

Para pembaca pasti ingin tahu foto kedua beliau, tahun 2004. Bahkan foto kedua beliau saat ini. 

Kembali pada kisah membawa pulang mobil Kijang LGX itu dari Kupang ke Surabaya, lanjut perjalanan darat Surabaya ke Gresik. 

Suasana hati pagi menjelang pulang ke Jatim terasa berbeda. Selain disambut sang bayu pagi yang sejuk dan laut biru dari balik jendela kamar, juga karena kami akan pulang naik kapal laut .

Ini pengalaman pertama naik kapal laut penumpang berukuran besar.

Dan yang terpenting sambil membawa pulang mobil yang "berkelana" sampai ke Pulau Timor di provinsi NusaTenggara Timur.

Sebelum check out, kami sarapan dulu di hotel. Jam 9.00 kami sudah sampai di dermaga pelabuhan Tenau Kupang.

Di pelabuhan hanya ada 1 Kapal besar dan beberapa kapal kecil yang  bersandar di dermaga. Tujuan kapal kapal kecil itu ke kepulauan di sekitar perairan NTT dan NTB

Pelabuhan Tenau Kupang, selain untuk berlabuhnya kapal-kapal laut lokal, saat ini menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal layar (yacht) dari luar negeri, yaitu Australia, Timor Leste dan New Zealand. 

Pelabuhan Tenau menjadi salah satu tempat persinggahan dalam kegiatan Sail Indonesia dari Darwin, Australia menuju beberapa pulau di Indonesia.

Pelabuhan ini memiliki 2 sisi dermaga. Sisi luar dapat disandari kapal dengan kapasitas cargo vessel 180 meter, dan sisi dalam untuk supply vessel 100 meter.

Sebelum memasuki kapal, saya menjabat erat tangan Magda dan saya rangkul sambil menepuk nepuk pundaknya. Demikian pula Magda.

Ada perasaan haru karena harus berpisah.

"Terima kasih ya. Kalau nggak ada Magda, mungkin om nggak sampai ke sini", ucap saya sambil memegang lengannya. Sebelum berpisah.

"Terima kasih juga om, suatu saat nanti di lain kesempatan, kita bisa ketemu lagi. Mungkin di Jawa", katanya menghibur.

Saya beranjak dan membawa masuk mobil ke dalam perut kapal Marina II.

Palka kapal itu dapat diisi puluhan mobil dan truk.

Saya naik ke geladak, dengan harapan Magda masih ada di dermaga. Saya lambaikan tangan, Magda membalas melambaikan kedua tangannya. KMP Marina II mulai bergeser dan bergerak meninggalkan dermaga ke tengah laut.

lumba2.jpgIkan lumba-lumba berlompatan mengiring perjalanan kapal. (FOTO: Guritno Baskoro)

Kami menempati kelas 2. Fasilitas kamar tidur pakai AC dan 2 tempat tidur susun. Bisa diisi untuk empat orang setiap kamarnya.  Kamar yang kami tiduri, hanya diisi bertiga. Selain itu di luar kamar ada TV berukuran besar yang  bisa untuk karaoke. Makannya diantar ke kamar.

Selain kelas 2, ada juga kelas 1 dan kelas ekonomi.

Jika jenuh di kamar, saya berkeliling ke ruangan lain dan naik ke geladak atau ke mini bar untuk sekadar ngopi.

Di geladak kapal, saya berkenalan dengan anak muda asal Jember. Sama seperti saya, juga pernah tinggal lama di Jember. Logat Jembernya sangat kental. Panggilannya  Gonok. Ia sering bolak balik naik kapal ini. Dari Surabaya ia kulakan HP. Dijualnya ke Kupang. Kemudian dari Kupang ia membawa kain tenun untuk dijual di Surabaya.

Ia sering juga ke Ende Flores. Ia kulakan batu alam koral dari Ende, satu truk engkel sekali jalan. Lalu, dijual ke Surabaya.

Sebulan dua kali ia Ke Ende. Dari jualan batu koral, ia bisa membangun rumah di Surabaya dan Jember.

Menjelang malam, kapal bersandar di pelabuhan Ende - Flores. Di dermaga pelabuhan sudah menunggu puluhan calon penumpang baru. Ada 3 truk engkel dan beberapa sepeda motor. Tentunya  mereka hendak ke Surabaya.

Selain itu, kapal menurunkan penumpang yang hendak ke Flores.

Kapal singgah di Ende cukup lama.

Malam itu juga, kapal meneruskan perjalanan. Melewati Selat Sumba di sisi selatan pulau Flores kemudian berbelok ke utara melintasi Laut Flores dan menuju Laut Jawa.

Yang saya ingat,  menjelang tengah malam, laju kapal dihadang ombak besar. Kapal diombang ambingkan gelombang laut Selat Sumba yang dalam itu. Badan kapal bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tampiasan air laut menghantam kaca jendela. Keras sekali. Badan kapal terasa membubung naik tinggi, setelah itu turun seperti akan ditelan gelombang air laut. Keadaan itu terjadi berulang kali  sepanjang malam.

Saya pasrah sambil "ndremimil" menderaskan doa.

Esoknya, air laut kembali tenang. Setelah makan pagi kami naik ke geladak. Menikmati pemandangan laut biru dan langit putih bersih.

Ada puluhan ikan dolphin  (lumba-lumba) berlomba mengikuti kapal. Sesekali mereka meloncat ke atas permukaan air, seperti sedang menyapa kami. "Selamat pagi kawan." (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda