Guest Editor di Harian DisWay (4)

Kehilangan Agama 25 Tahun

Foto Ilustrasi: Istimewa

COWASJP.COM – Ia seorang dokter spesialis penyakit dalam. Lebih khusus lagi: ahli penyakit ginjal. Yang merawat mertua saya. Sebelum wafat karena gagal ginjal. Di usia 72 tahun.

Saya bertemu dengannya, saat pengajian IDI kota Malang, Jawa Timur. Ia Sekjennya. Yang aktif mengumpulkan para dokter di Malang Raya. Untuk mengaji. Dan, saya beberapa kali diundang untuk memberikan kajian di sana.

Setelah beberapa kali mengisi kajian, saya menerima chatting darinya. Bahwa, ia baru tahu, kalau ia pernah merawat ayah mertua saya. Dan pernah menerima hadiah buku dari beliau. Beberapa judul. Ia sangat terkesan. Dan kemudian menulis chatting itu. Curhat. Cukup panjang. Sebagai berikut.

“Pak Agus, saya ingin berbagi pengalaman. Saya terlahir dari keluarga muslim yang taat. Keluarga suku Banjar, biasa begitu. Sampai setelah SMP, saya suka mendengarkan ceramah agama di langgar, di masjid atau TV. Setelah itu, tidak. Waktu khutbah Jum’at cenderung tidur. Karena merasa useless dan menyita waktu saya. Akal pikiran saya tidak terpuaskan dengan penjelasan mereka.”

“Tetapi hati nurani saya ingin terus dekat dengan Allah. Sehingga saya tetap salat, dan membantu kegiatan agama. Semata-mata karena hati nurani. Sehingga, saya membentuk pengajian dokter-dokter spesialis di Malang. Sampai suatu ketika Pak Agus memberikan ceramah pertama, saya menemukan sesuatu yang hilang: agama saya …”

“Baru dalam 2 bulan ini, saya punya waktu untuk membaca buku-buku Pak Agus. Pemberian mertua Pak Agus (almarhum). Saya sudah baca tiga buku: 'Tahajud Siang Hari Dhuhur Malam Hari', 'Bersatu dengan Allah', dan 'Mengubah Takdir'. Luar biasa. Kegelisahan intelektual saya terobati. Hati nurani saya terobati. Dan saya menemukan agama yang hilang selama 25 tahun dalam hidup saya …!!”

“Terima kasih. Anda telah mengubah hidup saya. Anda telah investasi besar kepada saya. Dan Allah akan membalasnya. Saya duga lebih dari separuh kalangan terpelajar memiliki pengalaman yang sama dengan saya. Hanya penjelasan Anda yang akan mengembalikan mereka dari kesesatan. Trims. Tak perlu ditanggapi …”

tahajud.jpg

Buku karya Agus Mustofa. (FOTO: tokopedia.com)

MasyaAllah. Teks chatting itu menggetarkan hati saya. Bukan karena apa-apa. Melainkan, karena merasakan ketulusan curhatnya. Dan lagi, dikarenakan prediksinya. Bahwa, ada lebih dari separuh kalangan terpelajar mengalami hal yang sama dengannya.

Prediksinya itu, memang lantas terbukti. Saya menemuinya, melalui berbagai interaksi dengan banyak kalangan. Ketika diundang untuk memberikan kajian di berbagai kota di Indonesia. Maupun di Singapura. Hong Kong. Australia. Saudia Arabia. Ataupun, ketika diminta memberikan kajian di kalangan mahasiswa Al Azhar, Mesir. Termasuk, yang melalui chatting secara pribadi. 

Banyak kalangan muda dan terpelajar merasa bosan dengan agamanya. Oh, bukan. Sejatinya, bukan dengan agamanya. Melainkan, dengan pola pengajarannya. Yang dogmatis. Doktrinal. Sekadar hafal dan menjalankan ritual. Tanpa memahami maknanya. Tanpa tahu alasannya. Pokoknya, jalankan saja. Kalau tidak, bakal berdosa. Dan jika dijalankan, bakal berpahala.

Tak jarang, mereka juga tidak begitu paham dengan apa itu ‘dosa’. Atau, apa itu ‘pahala’. Yang mereka ingat, jika berdosa bakal masuk neraka. Dan, jika berpahala bakal masuk surga. Agama menjadi suatu ritual dan kewajiban belaka. Dalam hidup mereka. Sekadar ancaman dosa, dan hadiah pahala.

Mereka merasa sekadar menjadi objek. Bukan subjek. Padahal, sesungguhnya Allah menempatkan manusia sebagai subjek agama. Yang diajari untuk berpikir. Menggunakan akal sehat. Bahwa, agama ini bermanfaat. Dan membawa maslahat. Bagi kehidupan mereka. Dan keluarganya. Dan para sahabatnya. Dan masyarakatnya. Bagi umat manusia. Seluruhnya.

Agama adalah 'The Way of Life'. Yang menjadi pilihan hidup seseorang. Semestinyalah, menyenangkan. Nyaman dijalankan. Memberi manfaat. Menghasilkan solusi. Atas berbagai masalah kehidupan. Yang seringkali menyesakkan dada.

Bahkan, puncak dari spiritualitas beragama, adalah munculnya rasa rindu. Untuk senantiasa berinteraksi dengan-Nya. Dalam segala bentuk ibadah. Yang memberikan kebaikan dan kebahagiaan. Kepada siapa saja yang menjalaninya ... (Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 7 Agustus 2020)

*Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda