Setelah Setahun Kijang LGX Hilang (8)

Serah Terima Lancar, Pak Bello Sangat Baik

Indahnya Pantai Lasiana, 12 km dari Kupang. (FOTO: nativeindonesia.com)

COWASJP.COM – Saya mengitari mobil Kijang itu sambil mengamati bagian tubuh luarnya. Masih asli. Tidak ada yang berubah. Pun bagian dalamnya. Sangat terpelihara dengan baik.

Menurut Magda (keponakan saya yang tinggal di Kupang), segala keperluan administrasi sudah disiapkan, tinggal penandatangan serah terima mobil saja.

Jarak bandara ke Polda NTT hanya 13 km. Kami meluncur ke sana, tidak sampai seperempat jam sudah sampai.

Kami diterima di salah satu ruangan, dan di situ sudah ditunggu dua anggota polisi dari Polda NTT dan beberapa orang yang menyaksikan.

Setelah saling memperkenalkan diri, ternyata Bapak Kabid Humas tidak berada di tempat, beliau sedang di luar kantor bersama Kapolda dan pejabat Pemkot lainnya.

Proses serah terima mobil berjalan mulus, tidak ada kendala sedikitpun.

Sebelum jam 12. 00 waktu Indonesia bagian tengah kami berpamitan.

Selanjutnya, Magda mengajak kami menuju  pantai Lasiana. Jaraknya 12 km dari kota dan ditempuh tidak lebih dari setengah jam. Di situ kami mampir di salah satu rumah makan seafood yang bertebaran di pinggir pantai. Kami menikmati masakan ikan laut khas Kupang. Ikan Kuah Asam, namanya. 

Rumah makan ini menghadap ke laut Sawu yang air lautnya biru berkilauan di kaki langit. Mempesona sekali. 

Setelah itu kami check in di hotel sekitar pantai Lasiana.

kuppang.jpgPantai Lasiana. (FOTO: jejakpiknik.com)

Kami menginap di sebuah hotel. Bangunan hotel itu berdinding kayu. Atap gentingnya semacam jerami. Saya lupa nama hotel itu.

Saya booking 2 kamar. Yang satu kamar untuk saya dan Magda. Kamar lainnya untuk anggota yang mengawal saya.

Malamnya kami diundang oleh keluarga Pak Bello (Kabid Humas Polda NTT) di rumah makan Taman Laut Handayani.

Rumah makan ini letaknya di pinggir pantai Kelapa Lima dan sekarang berseberangan dengan hotel Aston Convention Kupang. Saat saya ke sana, hotel itu belum berdiri.

Kami mengambil tempat di salah satu saung. Di situ kami menikmati tarian ombak yang disinari cahaya rembulan. Eksotis sekali.

Kesan saya terhadap beliau sangat humble, ramah dan penuh kekeluargaan. Tidak menunjukkan bahwa beliau orang penting di jajaran instansinya.

Pada kesempatan ini, saya juga menyampaikan permohonan maaf karena telah merepotkan beliau serta saya sampaikan pula rasa syukur dan terima kasih yang tak terhingga sehingga saya bisa membawa mobil pulang kembali.

"Hanya karena kehendak Tuhan lah, mobil ini bisa kembali kepada pemiliknya. Semoga berkah. Kita hanya menjalankan tugas", ujar beliau bersahaja.

Setelah saling berbagi cerita, kami berpisah sekaligus kami mohon pamit karena besok kami harus kembali ke Jawa.

Sebuah pertemuan yang penuh kekeluargaan dan meninggalkan kesan yang mendalam. Suatu kenangan yang indah.

Selanjutnya kami bersama Magda masih berkeliling di jalanan kota Kupang. Lalu singgah di warung kopi dan menikmati kopi asli Kupang sampai larut malam. Malam pertama dan terakhir  di kota Kupang.

Magda tidak ikut menginap di hotel. Ia pulang ke tempat kostnya.

"Besok pagi saja om saya ke sini lagi" katanya. 

Esoknya sebelum sarapan pagi, kami jogging di pantai. Hanya beberapa langkah saja berjalan kaki dari tempat kamar kami menginap.

Pasir putih pantainya, ternyata bercampur dengan cangkang kerang.

kupang1.jpgCangkang kerang di Pantai Lasiana. (FOTO: Guritno Baskoro)

Cangkang kerang yang terbawa oleh air laut secara berulang terus menerus. Terdampar sampai ke pantai.

Yang berasal dari Laut Sawu di depan mata saya memandang. Yang membawa kerang sampai ke tepi pantai.

Cangkang kerang yang bermacam-macam bentuk dan warnanya itu oleh penduduk setempat dijadikan berbagai macam  kerajinan dan hiasan. Bahkan tidak hanya itu, saat ini sudah dimanfaatkan sebagai bahan campuran pakan ternak. Khususnya pakan ternak hewan petelur.

"Dihancurkan sampai halus dan dicampur dengan dedek. Lalu diberikan untuk pakan ternak bebek dan ayam", tutur petugas hotel ketika saya tanyakan kepadanya.

"Cangkang kerang dapat menguatkan kulit telur", katanya lebih lanjut.

Sayapun melanjutkan jalan pagi di pinggir pantai sekitar hotel. Pantai yang indah dengan pemandangan pohon kelapa yang menjulang tinggi.

Tidak lama kemudian, Magda datang.

Kami makan pagi dulu sebelum meninggalkan hotel menuju pelabuhan Tenau Kupang.

Hari kedua dan hari terakhir pertama kali ke kota Kupang.

Perjalanan panjang yang singkat untuk suatu misi yang bisa dibilang nekad. (Bersambung)

Penulis: Guritno Baskoro, pensiunan PT Petrokimia Kayaku, Gresik, Jatim.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda