Eksklusif bersama Dirut Jawa Pos (2-Habis)

Jawa Pos Menuju Era Tabloid

Leak Kustiya (kiri) ketika Presiden Jokowi berkunjung ke markas besar Jawa Pos 2/2/2019. (FOTO: jpnn.com)

COWASJP.COM – Lama. Lama sekali wartawan cowasjp.com, Abdul Muis, tak berjumpa dengan Direktur Utama (Dirut) Jawa Pos Koran yang mengawali karir dari titik nol itu. Leak Kustiya!

Kali terakhir bersua dengannya ketika dia naik pangkat menjadi Pemimpin Redaksi (Pimred) Jawa Pos Koran. Prestasi yang luar biasa. Meroket tanpa melalui jenjang karir sebagai wartawan atau redaktur. Kejutan Besar!

Bagai Panglima TNI atau KSAD tanpa gemblengan “Candradimuka”-nya Akademi Militer (dulu Akabri). Yang tak akan terjadi di dunia militer dan kepolisian. ”Leak tidak pernah sama sekali menjadi personel Komando Pasukan Khusus (Koppasus)-nya jurnalistik. Tidak pernah bertempur di medan laga jurnalistik.”

Leak mengawali karir di Jawa Pos sebagai karikaturis. Ia kemudian jagoan di bidang desain grafis. Perwajahan Jawa Pos mengalami metamorfosis hingga kini adalah dari sentuhan kreasinya. Tapi dia berstatus pelaksana perubahan, bukan motor perubahan.  

Metamorfosis perwajahan Jawa Pos mengacu pada gebrakan luar biasa pada USA Today di Amrik. Seperti yang diungkap mantan Pemred JP Dr Dhimam Abror Djuraid. (BACA juga: Jawa Pos 1998 Jadi Trendsetter, 16/7/2020). 

Dan, ini semua berkat kepemimpinan Dahlan Iskan yang demokratis. Memberi kesempatan kepada anak buah untuk berpartisipasi dalam melakukan inovasi di tengah guncangan hebat Krismon. 

Dahlan Iskan pula yang memberikan tempat terhormat kepada Leak yang bukan lulusan Akademi Militer dan Kopassus-nya dunia jurnalistik itu. Jangan dilupakan sejarah ini!!

BACA JUGA: “Brand Jawa Pos Harus Tetap Terbit dan Hidup”‚Äč

Tak heran jika Dahlan Iskan sebagai CEO Jawa Pos saat itu nekad melakukan gebrakan baru. Mengangkat seorang pejabat tinggi redaksi tanpa melalui jalur Akabri dan Kopassus-nya jurnalistik. Bahkan Leak menjadi satu-satunya Pemred di dunia yang bukan berasal dari jalur Akabri dan Kopassus-nya jurnalistik. 

Bak seorang pemain bola, Leak coming from behind.

GUARDIAN.jpg

Leak muncul pada saat yang tepat. Saat Pak Dahlan mencari pasangan yang bisa kompak dan serasi dengan putrandanya: Azrul Ananda. Yang sabar meladeni Azrul Ananda. Ini karena Mas Solihin Awi yang digadang-gadang oleh Pak Dahlan menjadi Pemred -- sebagai pengganti Arif Afandi -- mengundurkan diri. 

Mas Solihin Awi merasa belum layak, karena waktu itu banyak senior yang dipandang lebih layak. Padahal, Mas Solihin kompak dan serasi dengan Azrul Ananda. Dan wawasan jurnalistiknya luas. Jelas kualitasnya. Dari jalur Kopassus-nya jurnalistik pula.

Setelah Mas Solihin mundur, dicarilah sosok yang bisa serasi dengan Azrul Ananda, Putra Mahkota Dahlan. Pilihan jatuh kepada anak desa dari Jawa Tengah ini. Naik pangkat Eksklusif  bersama Dirut Jawa Pos.

Bersama Azrul Ananda, Putra Mahkota Dahlan, anak desa dari Jawa Tengah ini membangun kepercayaan. Naik pangkat menjadi wakil direktur. Di Jawa Pos, Pemred setara dengan Wakil Direktur.

Setelah era Azrul Ananda berakhir, Leak naik pangkat lagi. Melambung tinggi. Menggantikan Azrul sebagai direktur utama. Azrul hengkang bersama perusahaan ciptaannya: DBL Indonesia.

Ya, takdir sudah menggariskan begitu. Leak yang dulu seniman kini tak lagi berpakaian ala kadarnya. Menyesuaikan kedudukan dan jabatannya. Tapi, gesturnya tetap nyeni. Luwes. Tidak kaku! 

Saat bertemu setengah jam di area parkir jajaran direksi Jawa Pos, Senin (03/04/2020) di Graha Pena Surabaya, Leak tak segan-segan tertawa meledak. Tak ada kesan dendam kepada siapa pun. Dia pun menerima semua kritik karyawan yang tersampaikan lewat running news di CowasJP.com.

Leak menyebut apa yang dilakukan ke depan tidak lain untuk menyesuaikan kebutuhan perusahaan dan pembaca. Sebuah perubahan atau revolusi diakui pasti ada dampaknya. Namun ia tetap berusaha meminimalisir efek negatifnya. 

Selain melakukan restrukturisasi dengan cara memensiunkan karyawan usia 30 tahun ke atas, Leak mengaku akan melakukan perubahan dalam produk. “Ke depan format koran sudah harus berubah Cak,” jelas Leak.

SUNDAY.jpg

Menurut dia, Jawa Pos Koran harus mengikuti perkembangan jaman. Evolusi sebuah media kini memasuki babak baru. Di era digital ini selera pembaca koran sudah berubah.

Dulu, kisah Leak (sesuai yang diceritakan para seniornya), Jawa Pos pernah mengalami oplah koran sebecak. Meroket hingga berbeca-becak. “Sekarang tinggal berapa becak. Nah, koran yang tinggal beberapa becak ini yang harus dikelola sesuai dengan kebutuhan pembacanya,” urainya.

Dakui Leak, saat ini oplah Jawa Pos boleh dibilang anjlok. Meskipun belum bisa dikatakan terjun bebas. Total oplah secara overall kisaran 100 ribu eksemplar. Surabaya Raya berada di kisaran 50 ribu eksemplar. “Persentase pelanggannya jauh lebih besar ketimbang eceran,” jelasnya. Walaupun para pelanggan JP sudah sangat banyak yang mrotholi.

Sektor eceran berkurang karena tempat penjual koran eceran mengalami  perubahan. Sejak pandemi Covid 19, banyak tempat eceran yang tidak beraktivitas. 

Seperti tempat-tempat publik di Bandara Juanda, Terminal Bungur Asih dan stasiun-stasiun. “Titik-titik besar penjual eceran yang berhenti ini sangat mengganggu. Bahkan di tempat tempat itu tidak boleh jualan,” keluh Leak.

Apalagi sejak dibarengi dengan PSBB. Kata Leak, pengaruhnya sangat signifikan. Aktivitas di jalan raya juga berkurang. 

Namun Leak yakin jika situasainya kembali normal, penjualan eceran bisa naik lagi. “Ini sangat temporer. Kondisi kemungkinan akan baik lagi,” akunya yakin.

Dia juga yakin kendati media digital merajalela, masyarakat masih membutuhkan informasi dari media cetak. Karena itu, Jawa Pos Koran harus melakukan terobosan baru untuk menyesuaikan keinginan pembaca.

Apakah bentuk terobosannya?

Akhir Agustus akan ada inovasi. Seperti yang dilakukan Jawa Pos pada 1997-1998. “Me-redesign format koran,” jelasnya. 

Meredesain itu ada fungsi ekonomi dan style-nya .”Kami ingin dapat dua-duanya,” ujar Leak. Berhasil mengubah format dan dapat keuntungan.

Ia menilai saat format koran 9 koloman berganti menjadi 7 koloman, masyarakat bisa menerima dengan baik. Walau koran 7 kolom ini sesungguhnya bukan ukuran yang benar-benar standar. 

TABLOID MINGGUAN

“Pak Dahlan saat itu menyebut young broadsheet (7 kolom). Broadsheet (9 kolom),” ungkapnya.  Tapi Leak melihat bahwa koran yang populer sebenarnya tabloid. Seperti The Sun dan Guardian. 

Mengubah format media itu, diakui Leak, tidak bisa langsung. Harus gradual. Jadi beda sekali dengan evolusi Jawa Pos 1998. Yang langsung dari koran 9 kolom menjadi 7 kolom.

Mengapa harus gradual? “Saya kira tidak boleh diabaikan kebiasaan 7 kolom. Lah kalau langsung diubah menjadi Tabloid seperti Tempo, kan orang terkejut,” ungkapnya. 

Akan tetapi Harian DI’s Way yang terbit 4 Juli 2020 sudah melakukannya. Langsung!

Menurut Leak, wacana ke arah bentuk tabloid bermula saat Jawa Pos ulang tahun yang ke-67, empat tahun lalu (2016). Wacana itu digulirkan lagi. Tabloid Jawa Pos jadi pembicaraan hangat di Empire Palace, Surabaya.

“Saya buka file lagi. Ternyata menarik ini. Karena kita ingin ada perubahan.  Terutama di edisi hari Minggu,” aku Leak.

Hasil eveluasinya, tidak ada koran terbit Minggu yang cukup berhasil. Seperti halanya di Singapura. Koran The Straits Times. Edisi Minggu-nya lebih tebal dua atau tiga kali dari edisi Senin sampai Sabtu. “Ternyata tidak menguntungkan,” ucap Leak.

Mengapa? Lantaran edisi Minggu tidak memberi nuansa konten yang bersentuhan dengan bisnis. “Bisnis itu bagian dari need (kebutuhan) pembaca,” terangnya. 

Sehingga, edisi Minggu Jawa Pos sedikit banyak mengikuti media besar. Kompas misalnya, di edisi Minggu-nya memperdalam news, hiburan, seni dan budaya “Apakah contoh sukses koran besar seperti itu? Ternyata tidak,” cetusnya.

Karena itu, menurut Leak, Jawa Pos khusus edisi Minggu akan mengubah format koran 7 koloman menjadi bentuk Tabloid. “Soal isi kontennya masih kita godok,” katanya.

Intinya, lanjut Leak, diperjuangkan bisa menyentuh pembaca. Apakah diperkuat konten seninya, budayanya, atau news dan bisnisnya.”Konten yang baru akan berbeda dengan yang kemarin-kemarin. Kita akan sodorkan ke pembaca. Bagaimana responnya. Akan kita lihat dulu,” sambungnya lagi. Ibaratnya trial and error dululah.

Selain konten baru, ukuran font hurufnya akan menyesuaikan dengan pembaca. Font tersebut akan sangat berpengaruh pada format tulisan. “Kalau teksnya diperbesar, memang akan lebih nyaman untuk kaum yang sudah berumur,” jelas Leak.

Dari hasil surveinya, kaum milenial kurang minat dengan format koran sekarang. Sudah bosan. Karena itu, pihaknya akan mencoba memulai evolusi dari edisi Minggu. “Edisi Minggu akan dibuat lebih tebal,” janjinya.

Sedangkan untuk edisi harian, Senin hingga Sabtu, formatnya tetap 7 koloman. Karena format ini sudah berhasil. “Saya kira tidak perlu diubah,” tegas Leak.

Namun demikian, dia tidak menampik suatu saat tidak menutup kemungkinan Jawa Pos menjadi tabloid. “Kita punya mekanismenya. Kita jalankan dulu di edisi yang responnya kurang baik (hari Minggu). Setelah itu kita akan bertanya kepada pembaca,” ungkapnya.

Jika edisi Minggu berbentuk tabloid, maka konsekuensinya adalah volume teks akan berkurang. Meskipun halaman bertambah. Secara space akan menuntut tulisan yang lebih lebih ringkas. “Filosofisnya bunga-bunga tulisan akan berkurang. Penyajian tulisan akan lebih straight ke esensi isi,” jelas Leak

Terobosan 6 koloman itu, diakui Leak bukan berarti akan ada dampak efisiensi di percetakan. Karena edisi Minggu yang 7 kolom itu kalau ditekuk menjadi halaman tabloid. Dari 20 halaman menjadi 40 halaman. Dan, kalau 24 halaman menjadi 48 halaman. Tetap tak mengubah biaya produksi.

Di samping itu, pihaknya juga tidak akan mengurangi harga langganan. Harga langganan koran tetap Rp 120 ribu per bulan. Eceran dibandrol Rp 6.000 per eksemplar. ”Kami pinginnya kalau pembeli membelinya sesuai bandrol, maka margin pengecer atau asongan cukup baik,” harap Leak.

Ketika ditanya, apakah terobosan ini bagian dari mengadopsi manajemen lama? Leak tidak membantah, “Ee.. bisa jadi. Karena broadsheet muda bukan ukuran yang ideal,” akunya.

Untuk saat ini yang ukuran 7 koloman itu tinggal Jawa Pos dan Kompas. Bahkan Grup Kompas sudah 6 kolom. Seperti Tribun. Bisnis Indonesia juga sudah 6 koloman, Republika juga 6 kolom.

Kini tinggal Jawa Pos Koran masih 7 koloman! (*)

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda