Setelah Setahun Kijang LGX Hilang 7

"Senpi Laras Pendek Dititipkan Kapten Pilot"

Foto bersama Kepala Departemen Pemasaran PT Petrokimia Kayaku, Bapak Ir MGPL Tobing (tengah). (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Setelah dipastikan bahwa mobil itu bisa diambil, saya menghadap pimpinan tempat saya bekerja.

Tahun 2004, Kepala Departemen Pemasaran PT Petrokimia Kayaku Gresik dijabat oleh Bapak Ir MGPL Tobing. Beliau sudah mendengar mobil saya raib tahun 2003. Tapi beliau terheran-heran ketika saya ceritakan bahwa mobil itu ditemukan di Kupang dan saya akan mengambilnya. Setelah 1 tahun berlalu.

"Hebat kamu Bas, jarang loh kejadian seperti ini bisa ditemukan kembali. Semoga usaha Pak Baskoro sesuai rencana dan kembali ke Gresik dengan selamat," ucap beliau.

Saya minta kebijakan Pak Tobing agar dalam surat penugasan dituliskan tujuannya bukan ke Kupang. Tapi perjalanan dinas ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Agar isteri saya tidak tahu kalau saya sebenarnya ke Kupang untuk mengambil mobil yang hilang. "Karena isteri tidak setuju, kuatir terjadi sesuatu nantinya di Kupang," kata saya kepada Pak Tobing.

Waktu itu, di pedalaman Kalimantan Tengah sering tidak ada sinyal telepon. Sehingga saya tidak bisa menghubungi isteri atau sebaliknya. 

Kepada teman-teman kantor saya juga tidak bercerita dulu. Supaya tidak gundah.  Apalagi pada minggu itu ada pertemuan PIPPK (Persatuan Istri Pegawai Petrokimia Kayaku), bisa tambah heboh lagi. Nanti saja setelah dari Kupang, saya akan bercerita.

Ketika sirene jam istirahat siang berbunyi, pukul 12. 00 sampai 13.00 WIB) saya dipanggil Pak Tobing. Di ruang kerjanya beliau berkata: "Pak Bas, aku minta nomor rekeningmu ya. Aku mau transfer. Untuk tambahan sangu di Kupang."

Semula saya menolak, namun beliau memaksa saya supaya mau menerimanya. "Kamu kan sudah membantu saya. Saling membantulah", kata beliau lebih lanjut.

"Terima kasih Pak Maurits atas bantuannya," ucap saya terharu. Pak Maurits adalah nama panggilan MGPL Tobing. Ia tidak menyebutkan nilai nomimal yang akan ditransfernya.

Dari kantor bank di kawasan pabrik PT Petrokimia Gresik, beliau memberikan secarik kertas aplikasi pengiriman uang.

Saya tidak menyangka, di situ tertulis nilai rupiah senilai harga sepeda motor bebek matic 110 cc keluaran tahun 2019. Padahal waktu itu tahun 2004. Saya tidak menyangka.

kepala1.jpgDikawal dua petugas Reserse Polres Gresik (nomor 1 dan 2 dari kiri). Paling kanan penulis, Guritno Baskoro di atas kapal saat pulang dari Kupang ke Surabaya. (FOTO: istimewa)

Mata saya berkaca-kaca. Saya hanya bisa berucap terbata bata; "Terima kasih banyak Pak. Ini lebih dari cukup. Tuhan memberkati".

Empat kemudian beliau pensiun. Tepatnya 1 Desember 2008. Dan yang mengejutkan saya, pada 15 September 2015 beliau meninggal dunia karena sakit.

Yang selalu saya ingat dari pribadi Pak Ir. MGPL Tobing, beliau pekerja keras, berani ambil risiko dalam mengambil keputusan. Bertanggung jawab, humoris, dan sangat memperhatikan anak buah.

Jika bernyanyi suaranya merdu sekali. Jadi ingat lagu "Send Me The Pillow That You Dream On", yang sering dinyanyikannya. Dengan apik sekali.

Juga, lagu Batak kesukaannya, "Sai Anju Ma Ahu". Syairnya mengutarakan permohonan maaf yang tulus kepada seseorang yang dikasihinya. Sungguh indah untuk direnungkan dan dikenang bahwa saya pernah menjadi anak buahnya.

**

Keberangkatan ke Kupang sudah koordinasi sebelumnya dengan pihak Kepolisian Gresik. Setelah confirm, saya pesan tiket pergi pulang. Berangkat Jumat pagi. Penerbangan pertama tujuan Kupang. Pulang dari Kupang Sabtu dengan angkutan kapal laut penumpang. Tiba di Surabaya hari Minggu menjelang tengah malam.

Jumat pagi jam 05.00 WIB, kami bertiga sudah di dalam taxi tujuan Bandara Juanda. Jarak tempuh Gresik ke Juanda Sidoarjo kurang lebih 40 km. Waktu tempuh sekitar 30 menitan.

Saya baru tahu, setelah sampai di Bandara, kedua petugas Polres Gresik yang mengawal saya menitipkan senjata api laras pendeknya  ke kru pesawat.

"Harus dititipkan ke Kapten pilot yang menerbangkan pesawat ini",  jawab Muchlisin salah seorang reserse yang bersama saya. Peraturannya memang demikian, tidak boleh membawa senjata api di dalam pesawat.

Flight pertama pukul  06.55 WIB. Waktu tempuh 2 jam 5 menit. Karena perbedaan waktu 1 jam dengan Indonesia Bagian Tengah, kami mendarat di Bandara El Tari Kupang pukul 10.00 WITA.

Nama El Tari diambil dari nama Gubernur NTT yang menjabat tahun 1966-1978. Bandara ini terletak di ketinggian 102 m dari permukaan air laut, di bagian selatan pulau Timor. Semula bandara ini diberi nama Penfui. Dibangun tahun 1928 oleh pemerintah kolonial Belanda.

Sesuai kesepakatan, saya dijemput Magda (keponakan saya) di Bandara. Tetapi  saya belum mengenal wajahnya karena  memang belum pernah bertemu sebelumnya. 

Sampai di pintu keluar saya telpon Magda. "Mas Magda posisi di mana?

“Aku di depan pintu, pakai topi kuning, Om," jawab Magda.

Saya langsung melihatnya di antara kerumunan para penjemput. Mirip ayahnya pikir saya. Tampan dan perawakannya tinggi.

"Terimakasih, Mas. Kalau nggak ada Mas Magda, mungkin belum tentu mobil itu bisa diambil", puji saya.

"Kebetulan saja, Om, karena atas ridho dari yang di atas ," katanya merendah.

Kami berjalan menuju tempat parkir mobil. Sampai di mobil yang dituju, saya dibuat terpana. Mobil yang dipakai untuk menjemput saya ternyata mobil saya sendiri.

Magda sengaja tidak memberi tahu sebelumnya bahwa mobil yang dipakai untuk menjemput adalah mobil Kijang LGX saya yang hilang itu! 

Dari sini saya semakin kagum kepada Magda dan Pak Bello. Begitu welcome-nya mereka menyambut tamunya dari Surabaya. Ia diperbolehkan membawa mobil itu, padahal, belum diserahterimakan. Wouw keren. (Bersambung)

Penulis: Guritno Baskoro, pensiunan PT Petrokimia Kayaku, Gresik, Jatim.

 

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda