Kado Milad Muhammadiyah ke 111 (2)

Satu Tujuan, Beda Pendekatan

Foto Ilustrasi: Istimewa

COWASJP.COM – Dua tokoh hebat ini, KH Ahmad Dahlan - KH Hasyim Asy’ari adalah saudara satu guru. Dari sisi nasab, beliau berdua juga ketemu di jalur Sunan Giri, Gresik (Muhammad Ainul Yakin putra Maulana Ishak). Bila ditarik ke atas, beliau berdua adalah keturunan (dzuriyah) Rasulullah Muhammad SAW.

Ketika saya masih sekolah dasar hingga kuliah, cerita itu tidak populer. Ketika saya kecil, era 70-80-an, yang populer adalah soal perbedaan-perbedaan tajam antara NU - Muhammadiyah. Juga tentang keterpinggiran NU dari berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk dalam hal-hal keagamaan. Kondisi ini, tidak lepas dari sikap Pemerintah Orde Baru yang memang secara sistematis memarginalkan NU.  Pemerintah Orde Baru menggunakan politik belah bambu. Satu diinjak, satunya dinaikkan.     

Imbas dari sikap Pemerintah Orde Baru itu, maka pada periode itu, hubungan NU Muhammadiyah terasa begitu jauh. Cerita-cerita yang banyak saya dengar lebih banyak bernuansa perbedaan daripada persamaan. Perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’iyah begitu lahap saya telan. Blass..tidak pernah terbayangkan oleh saya kalau pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari adalah sama-sama murid KH Sholeh Darat, Semarang.

BACA JUGA: Satukan NU-Muhammadiyah dengan Ilmu

Rumah orang tua saya di Kendal, Jawa Tengah. Dari Semarang, hanya berjarak sekitar 30 kilometer. Sehingga, nama KH Sholeh Darat, sejak kecil sudah sangat familier di telinga saya. Bahkan setiap tahun, saya selalu menunggu-nunggu diajak bapak untuk menghadiri acara haul KH Sholeh Darat. Dari rutinitas saya diajak menghadiri acara haul itu, sama sekali saya tidak pernah mendengar cerita bahwa KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari adalah sama-sama santri ulama yang makamnya di Bergoto, Semarang ini.    

Namun, belakangan, cerita itu begitu masyhur. Banyak tokoh yang menuturkannya. Baik itu dari kalangan Muhammadiyah maupun dari NU. Ustadz Adi Hidayat yang berlatar belakang Muhammadiyah di berbagai kesempatan mengulas secara gamblang sejarah ini. Bahkan, dari Ustadz Adi Hidayat pula saya mengetahui bahwa KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari masih satu jalur nasab dari Sunan Giri, Gresik. Yang dari sini, nanti akan tersambung dengan Rasulullah SAW. 

guru.jpgKH Sholeh Darat gurunya dari kiri: RA Kartini, KH Ahmad Dahlan, dan KH Hasyim Asy'ari. (FOTO: YouTube)

Sejarah ini kelihatannya cukup valid. Bisa dipercaya. Dalam cerita itu, kemudian dikisahkan, setelah nyantri di KH Sholeh Darat ini, karena kecerdasan beliau berdua, akhirnya Sang Guru mengutusnya untuk belajar ke Makkah. Makkah saat itu menjadi tujuan favorit bagi santri di Nusantara yang hendak mendalami ilmu agama Islam. Masih banyak ulama-ulama hebat yang mengajar di Tanah Suci ini.

Ulama-ulama dari Nusantara (baca: Indonesia) juga banyak bermukim di sana. Mereka, juga masuk dalam jajaran ulama “papan atas”. Mereka di antaranya, Syech Nawawi Banten, Syech Mahfud Termas, Syech Khatib Minangkabau. Selain berguru kepada ulama-ulama lokal Arab, kepada ulama-ulama Nusantara inilah, baik KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari berguru.    

Perlu dicatat, saat itu, dinamika keilmuan Islam di Makkah sangat berbeda dengan kondisi saat ini.  Makkah yang saat itu masih menjadi bagian dari pemerintahan Turki Ustmani, masih memberikan ruang yang luas terhadap kajian Islam dari madzhab apapun, khususnya 4 madzhab besar; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Perbedaan mahzhab masih dipandang sebagai khazanah kekayaan intelektual yang dijunjung tinggi. Kondisi ini berubah total setelah Ibnu Saud berhasil mendirikan negara Arab Saudi yang terlepas dari pemerintahan Turki Ustmani. Di mana, Madzhab yang boleh dikembangkan di sini hanya Madzhab Hambali.  

Menurut Ustadz Adi Hidayat, selama belajar di Makkah, talenta KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari berkembang dengan baik. KH Ahmad Dahlan banyak terinspirasi oleh Syech Katib Minangkabau. Beliau tertarik untuk menggali nilai-nilai Islam yang kemudian diimplementasikan dalam sebuah gerakan sosial. Sementara, KH Hasyim Asy’ari yang banyak terinspirasi oleh Syech Mahfud Termas, sangat berminat mendalami Al Qur’an dan Hadist. Dan dari minatnya inilah KH Hasyim Asy’ari menjadi orang yang alim alamah, sehingga julukan Hadratus Syech pun disematkan ke beliau.

ahmad-dahlan.jpgKH Ahmad Dahlan saat muda. (FOTO: pwmu.co(

Kecondongan selama belajar di Makkah ini, terimplemetasi ketika keduanya pulang ke tanah air. Tokoh Intelektual Muhammadiyah, Prof Dr Munir Mulkan dalam buku, Jejak Pembaharuan Sosial dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan, menuturkan KH Ahmad Dahlan yang pulang ke Jogjakarta, pada 1908 mendirikan sekolah modern. Sekolah ini dikatakan modern karena menggunakan papan tulis, bangku, mengajarkan pelajaran berhitung, baca tulis latin, ilmu bumi dan lain-lain. Selain mengajarkan agama Islam. Dari sisi pakaian yang dikenakan, di sekolah ini guru dan siswa mengenakan pantalon (celana) dan kadang dasi seperti pakaian kaum penjajah, Belanda. 

Langkah KH Ahmad Dahlan ini adalah reaksi atas pemerintah Hindia Belanda yang sejak 1900 melancarkan politik asosiasi. Politik asosiasi adalah ide dari Snouck Hurgronje, penasihat Pemerintah Belanda yang sangat memahami budaya Indonesia dan masyarakat Islam. Maksud dari politik asosiasi ini adalah menjadikan anak-anak Indonesia menjadi berbudaya Belanda. Cara yang ditempuh adalah lewat pendidikan. Di mana di sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah Belanda, anak-anak Bumi Putra diajari budaya Belanda. Mereka tidak diajari budaya Indonesia. Pelajaran agama, juga tidak diajarkan.

Penerapan politik asosiasi ini dipandang sangat berbahaya bagi keberlangsungan Islam di Indonesia. Karena itu, KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah model Barat (sama dengan yang didiirkan oleh pemerintah Belanda), yang oleh Munir Mulkan diistilahkan sekolah modern. Bedanya, di sekolah ini, pelajaran Agama Islam diajarkan. Di era itu, apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan  masuk dalam kategori tidak lazim. Pada saat itu, sebagian tokoh Islam masih memandang bahwa sekolah modern model barat adalah haram.  

KH Ahmad Dahlan adalah elite priyayi Jawa. Beliau adalah abdi dalem (pejabat) di Kesultanan Ngayogyokarto Hadiningrat. Dari posisi inilah, KH Ahmad Dahlan punya pergaulan cukup intensif dengan pejabat kolonial Belanda. Sehingga, pola perjuangan yang ditempuh adalah kooperatif dan adaptif dengan budaya Barat. Namun, KH Ahmad Dahlan tetap membawa misi agama dan nasionalisme. Di mana, beliau ingin agar dari sekolah yang beliau dirikan lahir anak-anak Bumi Putra yang menguasai ilmu-ilmu umum dan berpeluang mengisi jabatan struktural di pemerintahan Hindia Belanda, tapi tetap tidak hilang keislamannya.

hasyim-ashari.jpgKH Hasyim Asy'ari. (FOTO: Aswaja Nusantara)

Selain pendidikan, KH Ahmad Dahlan juga giat mendirikan perpustakaan, lembaga penerbitan buku dan majalah, rumah sakit, panti asuhan, juga rumah pemondokan untuk anak-anak dari luar Jogja yang belajar di kota ini. Gerakan sosial KH Ahmad Dahlan ini pada 1912 akhirnya menjelma menjadi sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah.

Jika KH Ahmad Dahlan berjuang di tengah kota “metropolitan” Jogjakarta, KH Hasyim Asy’ari pulang ke Desa Tebu Ireng, Cukir, Jombang. Dua kondisi yang sangat berbeda. Di sini, KH Hasyim Asy’ari seperti kecondongannya selama belajar di Makkah, mengembangkan ilmu Al Qur’an dan Hadist. Karena ketinggian ilmunya dalam bidang Al Qur’an dan Hadist, KH Hasyim Asy’ari menjelma menjadi ulama yang sangat dihormati. Beberapa ulama di Nusantara berbondong-bondong menuju ke Jombang untuk menimba ilmu dari beliau. Bahkan, Syaichona Cholil Bangkalan yang semula merupakan guru beliau sebelum belajar ke Makkah, juga ikut “nyantri’ ke Jombang. Dari banyaknya ulama Nusantara yang belajar kepada KH Hasyim Asy’ari itulah, maka beliau mendapat gelar “Guru Besar” atau “Hadratus Syech”.

Sebagai guru besar, fatwa-fatwa KH Hasyim Asy’ari sangat mewarnai dunia pesantren di Nusantara. Terkait dengan pemerintah kolonial Belanda, KH Hasyim Asy'ari lebih memilih sikap nonkooperatif. Maka fatwa tentang haramnya menyerupai apa yang menjadi kebiasaan kaum kolonial pun dikeluarkan, seperti haramnya memakai pantalon (celana). Padahal pada saat yang bersamaan, di Jogja KH Ahmad Dahlah menyelenggarakan sekolah, di mana guru dan siswanya menggenakan pantalon.

Secara faktual apa yang dilakukan dua tokoh hebat ini memang beda. Namun, bagi orang yang memahami kaidah usul fiqih, akan dengan cepat bisa memahaminya. Tidak aneh dengan adanya perbedaan metode itu. Beliau berdua adalah orang-orang sangat mendalam ilmu agama. Sehingga, perbedaan metode itu, bisa diyakini dikarenakan oleh adanya perbedaan situasi dan kondisi. Namun, secara prinsip sama. Yakni, di dalamnya sama-sama ada ruh heroisme yang sangat kuat. Beliau berdua sedang berijtihad untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran akibat kolonialisme Belanda. (Bersambung)

Penulis adalah mantan Jurnalis Jawa Pos, kini jadi khadam pendidikan di IAINU Tuban.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda