Jadi Korban Investasi Bodong karena Literasi Keuangan Rendah

COWASJP.COM – Entah apa penyebab banyak orang tertipu investasi bodong?

1/ Mungkin pragmatisme:  ingin cepat dapat uang dan cepat kaya. Tanpa bersusah-payah pula. 

2/ Mungkin serakah: dapat untung besar dengan cara mudah. 

3/ Atau mungkin pintarnya penipu, memanipulasi sesuatu untuk meyakinkan calon korban.

Ini pula yang pekan ini lagi ramai di Jawa Barat. Ribuan korban dari Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung Barat menjadi korban investasi bodong CV Hoji Jaga Abadi (HA). Mereka  investasi dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Begitu jatuh tempo, tak ada pembayaran. Sang pemilik CV pun tak bisa ditemui.  

Yang ditawarkan memang menarik. Paket kambing kurban, misalnya. Peserta cukup membayar Rp 15.000 tiap bulan selama 10 bulan. Padahal, harga kambing saat Iedul Adha kemarin minimal Rp 2 juta. Berarti keuntungan yang dijanjikan 13 kali dari nilai investasinya. 

Hal yang sama juga untuk paket elektronik dan kendaraan.  

Investasi bodong di Indonesia seperti fenomena puncak gunung es. Yang tidak tampak ke permukaan jauh lebih banyak.  Di Jatim, misalnya, awal tahun ini terungkap kasus Mamiles yang omzetnya mencapai Rp 750 miliar.  Sebelumnya, juga ada kasus investasi properti yang membawa-bawa brand property syariah di Sidoarjo. 

Di Jakarta juga terungkap kasus  Koperasi Hanson Mitra Mandiri (HMM) senilai Rp 400 miliar. 

Koperasi gagal membayarkan deposito sebesar itu karena dananya diinvestasikan ke PT Hanson International Tbk, yang pemiliknya, Benny Tjokrosaputro, menjadi tersangka kasus Jiwasraya.  

Ini juga hanya ulangan saja dari berbagai kasus  investasi bodong. Sebelumnya, ada PT WBG yang merugikan nasabah Rp 3,5 triliun,  PT Sarana Perdana Indo Global Rp 2 triliun, Fortune Rp 1,7 triliun, dan Platinum Rp 240 miliar. 

Sebelumnya, ada juga kasus Pohonmas, QSAR, Palmagro Danamitra, Kebun, Daodirect, Top Worth, Calio, Lexin, dan belasan investasi bodong yang menyedot dana masyarakat hingga triliun rupiah.

Baru saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis 99 entitas investasi illegal. Sebanyak 87 entitas menerapkan perdagangan berjangka atau forex illegal, dua MLM, tiga cryptocurrency, tiga investasi uang, dan empat berbentuk lain. 

Ini melengkapi catatan 2019, di mana Satuan Tugas Waspada Investasi menindak 182 investasi bodong. 

Tokoh sebagai Daya Tarik

Para pelaku penipuan berkedok investasi ini memang sangat pintar. Mereka tahu persis  peluang untuk menjaring nasabah dan mengumpulkan dana besar itu sangat terbuka. 

Ada beberapa faktor mengapa mereka  sukses menjaring dana ratusan miliar hingga triliunan rupiah  itu. 

Pertama, literasi keuangan masyarakat yang rendah. Menurut catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan pada akhir 2019 adalah 38,03% dengan inklusi keuangan 76,19%. Artinya, yang tahu lembaga dan produk keuangan hanya 38 persen, dan 76 persen di antaranya sudah terlayani. 

Pengetahuan  tentang keuangan dan investasi yang rendah membuat  mereka tidak menyadari, bahwa semua yang menjanjikan return tinggi pasti diikuti dengan risiko yang tinggi pula. High return, high risk. 

Banyak  orang  tidak memahami karakteristik investasi yang tidak bisa memberikan keuntungan pasti. Mereka juga berpikir pragmatis, ingin untung besar tanpa mau kerja keras.  

Kedua, belum tumbuh jiwa entrepreneurship yang kuat di masyarakat. Tidak adanya pengetahuan dan skill yang cukup untuk berwirausaha membuat banyak orang memilih menitipkan uangnya kepada mereka yang menjanjikan keuntungan besar. 

Biasanya, mereka berasal dari kalangan menengah yang memiliki pendapatan  lebih, seperti  PNS, karyawan swasta, dan  pejabat. 

Ketiga, banyak orang  berusaha menyembunyikan uang dan kekayaan yang berasal dari aktivitas illegal. Ini terlihat dari banyaknya korban  investasi illegal  berasal dari pejabat, politisi, dan “pengusaha hitam”. Dengan menanamkan dana pada perusahaan yang tak terdaftar pada industri keuangan ini, dana mereka bertambah namun tidak terdeteksi sistem keuangan nasional. 

Selain itu, perusahaan investasi illegal melakukan segala cara untuk menarik nasabah. Mereka menjanjikan keuntungan besar yang diperoleh dengan melakukan praktik money game ala Skema Ponzi. Mereka membayar keuntungan nasabah dari dana investasi baru. Selama nasabah masih percaya, skema ini akan terus berjalan. Sampai kepercayaan turun, dan kewajiban mereka lebih besar daripada investasi baru yang masuk. 

Selain itu, mereka memanfaatkan para tokoh untuk menarik nasabah. Kasus Mamiles, misalnya. Belasan artis menjadi semacam endorser investasi yang dikelola PT Kam and Kam ini. Ada Eka Delli, Marcello Tahitoe (Ello), Adji Notonegoro, Judika. Bahkan Arie Sigit, cucu mantan Presiden Soeharto. 

Di Amerika Serikat juga sama saja. Warrant Buffet, salah satu orang terkaya di dunia, juga dijadikan “alat” untuk menggaet korban. Dia tertipu DC Solar yang menawarkan investasi pembangunan 17 ribu generator tenaga surya di California. 

Buffet tertipu lewat perusahaannya, Berkshire Hathaway. Korban lainnya adalah  perusahaan asuransi raksasa Progressive, Bank Independent East West Bancorp, dan pelukis Sherwin Williams. 

money.jpgKapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan saat merilis kasus investasi bodong MeMiles di Mapolda Jatim 3/1/2020. (FOTO: Antara/kompas.com)

Ternyata DC Solar yang dikelola pasangan Jeff dan Paulette Carpoff itu hanya membangun sedikit saja dari 17 ribu generator. Dia menerapkan Skema Ponzi dan berhasil menggaet investasi USD 1 miliar (Rp 14,5 triliun). Sebagian besar dananya digunakana untuk hidup mewah. Membeli rumah mewah di Las Vegas, kondominium di Danau Tahoe, 150 mobil mewah, dan sebagainya.  

PERLU EFEK JERA 

Banyaknya investasi bodong ini harus menjadi pelajaran bagi masyarakat. Juga  pemerintah. Karena pemerintahlah yang mestinya memagari agar masyarakat tidak dirugikan oleh praktik-praktik penipuan seperti ini.  

Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang sudah membuat Satgas Waspada Investasi. Namun, Satgas lebih banyak menangani investasi yang sudah dilaporkan. 

Selain itu, banyak perusahaan menawarkan investasi bukan sebagai perusahan keuangan yang diawasi OJK. 

Kasus Memiles, misalnya, mengemas model bisnisnya tidak dalam bentuk investasi. Mereka lebih tampak sebagai perusahaan multi level marketing (MLM) yang bukan merupakan domain OJK, namun domain Kementerian Perdagangan. 

Selain itu, banyak perusahaan menawarkan investasi yang ada dalam domain Badan Pengawas Perdagangan Komoditi Indonesia (Bappebti) atau  Kementerian Koperasi. 

Karena itu, koordinasi lintas regulator menjadi sangat penting agar investasi bodong tidak bisa tumbuh lagi. Juga dengan pihak kepolisian yang juga memiliki divisi pidana ekonomi. 

Dalam kasus Memiles, langkah polisi yang sudah bertindak sebelum banyak yang melaporkan patut diapresiasi. Sebab, jika tidak segera, kerugian akan semakin banyak. Biasanya, mereka menerapkan money game, di mana investasi akan terus berjalan sepanjang masih ada orang yang menginvestasikan dananya.  

Jangan sampai kasus PT WBG yang merugikan nasabah Rp 3,5 triliun terjadi lagi, akibat  perusahaan tak ketahuan hingga 10 tahun beroperasi.  

Selain itu, hal yang penting adalah penindakan oleh kepolisian untuk memberi efek jera. Dalam berbagai kasus investasi illegal, pelaku hanya dituntut pidana biasa. Penipuan (Pasal 378 KUHP) dan penggelapan (Pasal 372 KUHP) yang ancaman hukumannya hanya empat tahun. Pelaku investasi bodong PT WBG  yang kerugiannya mencapai Rp 3,5 triliun dan PT Pohonmas  Rp 650 miliar yang ditangani Polda Jatim beberapa tahun lalu hanya dihukum kurang dari empat tahun. 

Masyarakat tentu berharap kali ini polisi bisa menjerat pelaku investasi bodong  dengan pidana perbankan atau pidana perdagangan yang ancamannya lebih dari lima tahun. Bahkan  bisa menjerat pelakunya dengan  tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang ancaman hukumannya mencapai 20 tahun. 

Ini penting untuk memberi efek jera kepada pelaku dan memberi pelajaran kepada siapapun yang akan menawarkan investasi bodong.(*)

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda