Frankfurt Book Fair (5)

Stan White Star Italia Patut Dicontoh

Stand White Star Italia di FBF 2011. (FOTO: Moch. Makruf/Cowas JP)

COWASJP.COM – Ketika berkunjung di White Star Italia, desain  stannya modern minimalis. Namun,  taste luxurious (mewahnya) Italia sudah terasa. Buku-buku yang dipajang semua hardcover dengan finishing dan hasil cetak yang sangat bagus.

Yang menarik di White Star dan merupakan creative work-nya adalah produk cube book atau buku kubus dengan size sedang dan kecil. 

Bukunya memang berbentuk kubus sekitar 15 x 15 cm. Cover memakai board, isi art paper 210, dan halamannya 600. Jadi bukunya tebal dan berat.

Isi buku cenderung kumpulan foto-foto hasil bidikan sebagian besar fotografer National Geography sesuai tema buku. Isi bukunya tidak banyak kata-kata. Hanya foto dan caption (keterangan) foto.  Tapi kualitas cetak dan finishing bukunya: marvelous (menakjubkan).

Inilah yang harus dicontoh penerbit di Indonesia. Bila mengerjakan satu produk harus serius dan total. Sehingga hasil akhir produk itu sendiri pasti bagus dan memuaskan. Seperti White Star, karena sebagian besar buku produksinya soal alam dan life style. Penerbit bekerja sama dengan National Geography. 

Penerbit menawarkan kerja sama co-publishing. Buku diterjemahkan ke bahasa peminat (bahasa nasional di negara peminat) dan dikirim lagi ke penerbit. Penerbit lantas mencetaknya, kemudian dikirim ke negara peminat. 

Selain membayar royalty, penerbit peminat juga harus membayar ongkos cetak.

ruf3.jpgStand Google dan Random House. (FOTO: Moch. Makruf)

Puas di White Star, saya sempat mengunjungi stan Google Google yang menawarkan aplikasi penayangan e-book dan printed book kepada para penerbit free of charge. Penerbit yang  menggunakan layanan ini, tinggal up load e-book atau cover printed book dalam format pdf ke website google.  

Cukup luas juga booth google. Luasnya sekitar 8 x 8 meter. Ada tiga petugas stan yang berjaga di situ. Mereka siap melayani pengunjung yang berkunjung ke stan. Stan ini bertetangga dengan stan penerbit Random House, New York.  

DAY 4, HARI TERAKHIR FBF, KUNJUNGI STAN DC COMICS

Pada hari ketiga dan keempat, 15-16 Oktober 2011, saya mengunjungi beberapa stan penerbit kelas dunia. Antara lain  Cambridge University Press, Random House, New Central Book Agency Ltd, India, dan DC Comics yang terkenal dengan produksi komik Batman dan Robin.

Dua hari itu stan-stan ramai pengunjung. Itu karena pameran ini sudah dibuka untuk umum. Hari pertama dan ketiga pameran ini hanya terbuka khusus untuk trade visitor yang kedatanganya ke situ untuk transaksi copy right atau impor buku.

Kondisi stan Cambridge dan Random sama seperti penerbit negara maju lainnya. Desain interior dan exterior stan sangat bagus. Buku-buku yang ditampilkan juga sebagian besar hardcover. Di meja depan resepsionis sudah tersedia beberapa katalog yang tebalnya seperti buku. Pengunjung tinggal mengambilnya.

Stan Random House berukuran sekitar 8 x 8 meter, cat kuning krem mendominasi.  Random house dikenal dengan produk-produk buku encyclopedia-nya.

Saya juga berkunjung ke New Central Book Agency yang memproduksi buku-buku pelajaran (text book) untuk anak SMP, SMA dan universitas. Saya ke situ untuk mencari buku matematika. Buku yang ada untuk kelas SMP. Namun, saat itu, pihak stan hanya memberikan katalognya. Bila nanti buku sudah dipilih, komunikasi transaksi bisa via email. 

ruf4.jpgHotel Tourist tempat menginap penulis. (FOTO: Moch. Makruf)

Pada hari keempat, 16 Oktober 2011, adalah hari terakhir pameran. Hari itu bertepatan Sabtu. Pengunjung semakin membludak. Mereka memenuhi semua hall pameran. Hari ini terakhir, biasanya merupakan hari penjualan buku. Karena terkadang pemilik stan tidak mau membawa pulang bukunya balik ke Indonesia.

Yang menarik, pada hari terakhir ini, saya berkunjung ke stan DC Comic, yang terkenal dengan produk komik Batman dan Superman.  Stan itu berlokasi di hall 8, international publisher. Di hall ini stan penerbit-penerbit kelas dunia berada. 

Di stan DC Comics, saya ditemui oleh Sandy Resnick, Director-International Business Development, DC Comics (anak perusahaan A Warner Bros. Entertainment  Company.

‘’Where have you been?’’ jawabnya setelah saya memperkenalkan diri dari penerbit JP Books, Indonesia. Dia  bicara seperti itu karena pameran sudah mau tutup koq  penerbit Indonesia baru muncul. Itu karena Indonesia dipandang sebagai pasar potensial bagi penerbit-penerbit internasional.

Saat itu, DC Comics memang sudah mau tutup. Semua sample komik terbaru yang dipajang di stan sudah habis dibagikan kepada para pengunjung secara gratis. Momen ini memang ditunggu-tunggu oleh para pengunjung pada hari terakhir pameran. 

‘’They all have been waiting to my comics since yesterday (15 Oktober). Then, as tradition, I gave them free,’’  ujarnya.

Sandy ini orang yang terbuka dan suka humor. Ketika saya Tanya bagaimana kami bisa memperoleh lisensi untuk menerbitkan produk DC Comics. Dia kemudian menanyakan apa yang diinginkan penerbit JP Books, komik untuk anak-anak, remaja atau dewasa.  DC Comics menurutnya memiliki produk dari tiga segmen pasar tersebut.

Sandy lantas menunjukkan tiga katalog produknya dari tiga segmen pasar tersebut. Sekilas, katalog DC Comics hanya  print  HVS warna. Katalog ini berbeda jauh dengan katalog penerbit lain yang  dicetak seperti buku atau katalog umumnya yang lux. Ini mencerminkan bahwa DC Comics merupakan penerbit besar dan kelas dunia. Namun tetap low profile.

Sandy menjelaskan per masing-masing katalog. ’’Kalau pembacanya anak-anak, kami ada produk komik ketika Batman dan Superman masih anak-anak. Bila remaja, kami juga ada produk tokoh-tokoh komik tersebut ketika menginjak remaja.  Begitu juga bila dewasa,’’ katanya.

Bagaimana caranya memperoleh lisensi?  Sandy kemudian memberikan kartu namanya. Di balik kartu nama itu tertulis website DC Comics untuk International Publishing Rights Catalogues. Untuk masuk ke website itu pun ada user name dan password-nya. Di kartu nama itu Sandy sudah menyertakan user name dan  password-nya.

‘’Kami tidak melayani pembelian copy rights hanya satu atau dua komik. Kami mau melayani bila pembelian minimal 10 komik,’’ katanya sambil tersenyum. 

Selama ini, apakah ada penerbit Indonesia yang pernah menerbitkan produk DC Comics? 

“Sebelumnya, kami ada kerja sama dengan penerbit Indonesia. Kalau tidak salah Gramedia. Tapi kemudian kerja sama itu berhenti.  Bila kini Anda masuk, kami bisa mengaktifkan kembali kerja sama tersebut,’’ katanya. 

ruf5.jpg

Trem yang kendaraan harian penulis dari hotel ke areal pameran FBF. (FOTO: Moch. Makruf)

Setelah puas memperoleh penjelasan copy rights dari DC Comics, saya pamit kepada  Sandy untuk melanjutkan kunjungan ke stan-stan lainnya.

Saat itu sebagian besar stan sudah banyak yang packing-packing (bahasa Jawa = ringkes-ringkes he he). Tapi yang menarik, stan penerbit buku-buku luks seni, Phaidon, ternyata menjual buku-buku terbarunya. Saya menyempatkan membeli dua buku anak, dua buku desain grafis semua hard cover.  Harga semua buku itu Euro 120 (Rp 2 jutaan). Cukup mahal juga.  

Sebenarnya, saya ingin membeli buku soal benda-benda seni dan artifak museum. Buku itu ukurannya tidak normal, besar: 40 x 210 cm (2,1 meter). Hardcover, isi kertas art paper. Harganya Euro 90 (Rp 1,5 juta). Tapi bila membeli buku tersebut saya akan kerepotan membawanya. 

Setelah itu, saya berkunjung ke Alston Publishing House Pte Ltd, Singapore, Charles Baker Books Ltd, London untuk memburu buku-buku pelajaran. Khususnya matematika.  Setibanya di situ, kami diberi katalog untuk memilih produk mana yang sesuai untuk penerbitan JP Books. Komunikasi selanjutnya bisa via email.

BOOK DIGITAL PRINTING

Saya juga mengunjungi pameran kalender di hall 4 dan  hall 6. Area untuk pameran peralatan cetak mencetak buku. Di hall 4, kalender yang ditampilkan berbagai ukuran. Sebagian besar ukurannya memanjang  tinggi 1 meter x  lebar 25 cm. Foto-foto yang dimuat di kalender sangat bagus dan hasil cetaknya istimewa.

Di hall 6, saya melihat digital printing untuk buku produk Oce. Mesin itu lebarnya sekitar 1,5 meter dan panjangnya  5 meter. Mesin ini khusus untuk cetak buku on demand (sesuai kebutuhan).  Cetak buku minimal 10 - 100 eksemplar buku pun bisa dilayani dengan mesin ini. 

Mesin ini merupakan terobosan terbaru dari mesin cetak buku yang biasanya pakai mesin sheet. 

Mesin sheet bisa melayani cetak buku minimal 500 - 1000 eksemplar. Cetak 500 eksemplar ongkos cetaknya mahal sekali.  Dan cara operasionalnya pakai plat dan cetak. 

Beda dengan mesin digital yang operasionalnya seperti mesin foto kopi. 

Waktu tak terasa pukul 16.30. Saya pun meninggalkan hall 8 menuju ke hall 5.0, yakni stan Indonesia. Cukup jauh juga perjalanan ke hall 5.0. Tiba di situ, stan Indonesia juga mulai packing-packing. Saya membantu packing, meski kemudian menemani teman Indonesia ngobrol yang beristrikan wanita Jerman.

Pukul 17.00, kondisi stan-stan sudah sepi. Saya meninggalkan stan setelah pamit kepada rekan-rekan senior IKAPI. Antara lain Ibu Nova. Kami kemungkinan kecil bisa bertemu kembali dalam even serupa atau ketika di Indonesia. Kami berharap Indonesia bisa tampil lebih baik lagi di even tahunan ini.  Aamiin. (Bersambung)

Penulis: Mochamad Makruf, Wartawan Senior di Surabaya dan Mantan Staf JP Books.

 

Pewarta : Mohammad Makruf
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda