Pro Cowas JP

Ingin Lanjut SMEA Terpaksa Bekerja Dulu

SMEA 1 Surabaya yang kini menjadi SMKN 1 Surabaya. (FOTO: jatimnow.com)

COWASJP.COM – Akhir tahun 1974 saya lulus SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama). Maunya lanjut ke SMEA 1 Surabaya. Namun, keinginan saya ini terpaksa harus tertunda. 

Penyebabnya: Bapak saya sudah tidak mampu lagi membiayai saya sekolah di SMEA. Maklum Bapak saya karyawan PT PAL yang gajinya tidak begitu besar. Adik saya 5. Padahal nilai Ijazah saya paling baik di antara teman-teman satu sekolahan.

Dulu, gedung SMEA 1 kalau pagi ditempati SMEA 1, kalau siang jam 13.00 ditempati SMEP Persiapan dan SMEA Persiapan. Lokasinya di Jalan SMEA No. 1 Surabaya. 

BACA JUGA: Program Terbaru: Bantu Alumni yang Kurang Beruntung

Saya memutuskan bekerja saja dulu. Awalnya saya main di Jalan Ciliwung Surabaya, tempat usaha percetakan. Sebelum pindah ke Jalan Ciliwung usaha percetakan itu bersebelahan dengan rumah saya di Jalan Pulo Wonokromo No. 125 Surabaya. 

Dulu saya sering bantu-bantu percetakan tersebut. Nah ketika dolan kesana saya ditanya apakah masih sekolah? Saya jawab sudah lulus , tapi nggak bisa melanjutkan karena faktor biaya. Pemilik percetakan mengajak saya bekerja di percetakannya. 

“Mau, Pak,” jawab saya. Di usia 16 tahun kala itu saya masih pakai celana pendek. Saya belum punya celana panjang. Akhirnya Januari 1975 saya mulai bekerja bersamaan dengan tahun ajaran baru masuk sekolah. 

Saya ditugasi memegang mesin Hand Press. Mesinnya buatan Klaten, Jawa Tengah. Bagian paling sulit di percetakan saat itu adalah bagian memasang huruf satu per satu. Disebut bagian setter. Saya pingin belajar itu tapi harus pinter nyetel huruf-huruf dulu.

Seorang setter harus hafal huruf-huruf. Ada huruf kapital, huruf roman. Ukurannya ada yang 10, 12, 14, 16 dan seterusnya sampai yang paling besar. Huruf-huruf tersebut terbuat dari timah. Ya, masih jadul lah.

Saya paling senang kalau mencetak gambar-gambar, seperti brosur gambar lemon atau gambar lebih dari satu warna. Misalnya 3 warna: biru, merah, dan kuning. Harus telaten pakai klise yang terbuat dari lempengan timah. Nanti kalau dicetak berubah. Misalnya warna biru ditindas warna kuning jadi hijau, warna merah ditindas kuning jadi warna orange. 

Setelah belajar cetak, saya juga belajar menjilid buku. Sampai sekarang pun pekerjaan menjilid terpakai untuk usaha foto copy di rumah saya. Juga menjilid makalah, skripsi. 

Setelah itu saya belajar setter. Kata orang-orang bagian setter gajinya paling besar. Semula saya jadi tukang setter pengganti, jika ada teman bagian setter yang tidak masuk kerja. Saya sering diberi tugas membuat kartu nama dan undangan. 

BOYONG KE WARU

Pada tahun 1977 pemilik percetakan meninggal dunia karena kecelakaan. Akhirnya perusahaan itu dibeli temannya yang rumahnya di Waru, sebelah Pabrik Soda. Semua karyawannya diboyong ke Waru. Di situ banyak sekolahan, banyak anak sekolah mondar mandir. 

Karena itu tergeraklah saya pingin melanjutkan sekolah lagi. Saya yakin seandainya punya Ijazah SLTA insya’ Allah pekerjaan saya tidak seperti sekarang. Paling tidak bisa bekerja di kantor. Akhirnya saya nekad cari sekolahan yang masuk jam 15.00 atau jam 16.00. 

Setelah belajar setter, saya disuruh belanja kertas didaerah Pegirian. Di situ harga kertas lebih murah. Ukurannya plano sekalian dipotong jadi ukuran folio. Bos kalau menyuruh belanja naik bus kota ke Jembatan Merah, terus naik becak ke Pegirian. 

Pulangnya turun dari bus kota kertasnya mberodol karena ikatannya kurang kuat. Berserakan di jalan raya kebetulan saya puasa Ramadhan. Kejadian ini sampai sekarang sulit dilupakan. Saya tahan jangan sampai batal sebelum Magrib. 

Walaupun berat pekerjaan itu saya anggap ringan karena saya butuh uang untuk melanjutkan sekolah SMEA. Suatu saat teman saya dulu di SMEP, namanya Suwito, yang masuk SMEA 1 ditanya oleh gurunya bernama Bu Kunmariyati. Kebetulan beliau dulu wali kelas saya. 

“Chairul Anwar (nama saya) sekarang sekolah di mana?”tanya Bu Kunmariyati,

“ Chairul Anwar sekarang kerja Bu di percetakan,” jawab Suwito.  

SMEA1Surabayaaa08e.jpgChairul Anwar, penulis, sekarang 2020. (FOTO: istimewa)

“Kasihan ya, pintar tapi nggak punya biaya,” ucap Bu Kunmariyati. Beliau tahu potensi saya karena beliaulah yang memasukkan nilai di ijazah dan rapor.  

Tadinya saya ragu, apakah Bos mengizinkan saya sekolah lagi atau tidak? Karena percetakan baru tutup jam 16.00. Padahal jam masuk pelajaran juga jam 16.00. Saya mohon diizinkan untuk bisa pulang jam 15.00. Bila perlu gaji saya dipotong, Ternyata Bos mengijinkan sekolah dan gaji tidak dipotong. 

Bulan Januari 1978 saya masuk SMEA Taruna Pancasila I. Tempatnya di SDN Trunojoyo, Jalan Trunojoyo No. 65 Surabaya. Tahun 1980 pindah ke Jalan Tanggulangin No. 10 Surabaya. 

Baru menginjak SMEA ada peraturan tahun ajaran baru diubah dari awal Januari menjadi Juli. Akhirnya kelas satu ditambah 6 bulan. Ya, bagaimana lagi. Menginjak kelas dua saya diajak teman saya Bambang kursus Tata Buku A1 da A2 (Bond A), supaya nanti kalau sudah lulus bisa cepat dapat pekerjaan. 

Alhamdulillah saya lulus A1 dan kursus A2 setelah naik kelas tiga. Ruang kelas satu jumlahnya 31 murid. Setelah sampai kelas tiga banyak yang protol, sisa 14 murid. Sampai waktu ujian pihak sekolahan tetap menyelenggarakan ujian digabung dengan SMEA Taruna Pancasila II Kapas Krampung Surabaya, SMEA Taruna Pancasila III Tidar Surabaya, dan SMEA Taruna Pancasila IV Tretes di Tretes.      

Dari hasil ujian ternyata nilai saya paling baik. Walaupun sambil bekerja pagi sampai sore. Ya mungkin Allah memberi kemudahan kepada hambaNya. Ada pepatah jika belajar sungguh-sungguh dan tekun, insya’Allah akan memetik buahnya. 

Setelah ujian sekolah, saya ikut ujian Tata Buku A2. Alhamdulillah lulus. Kejadian itu bulan April 1981. Bulan Mei 1981 saya kursus lagi Tata Buku Bond B di UD “MOCHTAR”, Jalan Gubernur Suryo No. 15 Surabaya. 

Di tempat kursus ini saya kenal teman kursus namanya Sugiyanto. Dia membaca surat kabar Surabaya Post, ada lowongan pekerjaan di PT Petrokimia Kayaku Gresik. Yang dibutuhkan tenaga pembukuan dengan syarat punya Ijazah SMEA dan Ijazah Bond A1. Langsung saya pulang membuat lamaran kerja. Saya poskan. Seminggu kemudian saya dipanggil untuk mengikuti test tertulis, kebetulan hari Jum’at. Saya berangkat dari rumah jam 08.00 ke Jembatan Merah, kemudian ke Gresik naik bus jurusan Surabaya - Sembayat. Turun diSukorame Gresik jam 10.30. Pikirannya saya Sholat Jum’at dulu sambil berdoa semoga test tertulis lulus. 

Usai sholat Jum’at makan siang dulu biar fres. Tempat tesnya di gedung SD Petokimia Gresik. Saya hanya membawa pulpen. Tidak membawa kalkulator dan penggaris. Padahal disuruh membuat Neraca Lajur. Harusnya pakai penggaris. 

Kebetulan bangku yang saya tempati ada potongan panggaris 15 cm, akhirnya saya pakai. Dua minggu kemudian saya mendapat panggilan psiko tes. Gedungnya di Jalan Darmokali, Surabaya, milik Angkatan Laut. 

Dua minggu kemudian ada panggilan. Hari Senin pukul 07.00 harus tiba di kantor PT Petrokimia Kayaku. Padahal surat panggilan datang Senin jam 10. 00 siang. Saya juga masih bekerja. Tidak kurang akal, surat tersebut saya bawa ke RT dan RW, untuk diketahui dan distempel bahwa suratnya datangnya hari Senin jam 10.00. 

Maka Selasa pagi jam 05.00 saya berangkat ke Gresik. Sampai kantor jam 06.30. “Lo dik ini mestinya kemarin,” kata Satpam. 

Saya jelaskan bahwa suratnya baru saya terima pukul 10.00. Karena itu saya minta diketahui RT dan RW bahwa suratnya betul-betul datang jam 10.00. Kemudian saya diterima bagian personalia. Disuruh mengisi data calon pegawai, setelah itu disuruh masuk untuk tes wawancara oleh Direktur Keuangan. Kemudian disuruh pulang. 

Besoknya tes kesehatan. Jam 06.30 saya sudah di kantor Petrokimia Kayaku persiapan tes kesehatan sampai jam 10.00. 

Seminggu kemudian saya dapat panggilan untuk masuk kerja. Tepatnya tanggal 9 November 1981. Setelah 3 bulan kerja di PT Petrokimia Kayaku Gresik, saya berkunjung ke rumah teman saya: Suwito. Ternyata dia belum kerja, padahal dia lulus 3 tahun yang lalu, lulusan SMEA Negeri 1.

Daya dimintai tolong mencarikan pekerjaan, kemudian saya suruh membuat lamaran ke tempat saya. Setelah dapat panggilan dan di tes, ternyata dia tidak lulus. Kasihan.  

Tulisan saya ini saya buat untuk membuktikan bahwa sekolah atau belajar itu penting. Seandainya saya tidak melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, kehidupan saya cukup jadi karyawan percetakan.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi. (*) 

Penulis: Chairul Anwar mantan karyawan Petrokimia Kayaku, Gresik, Jatim.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda