Frankfurt Book Fair (4)

Taufiq Ismail Terharu Baca Buku EBB 2011

Sastrawan Taufiq Ismail terharu dan terkenang kampung halamannya saat membaca buku EBB 2011. (FOTO: Moch. Makruf/Cowas JP)

COWASJP.COM – Sebelum tampil, Taufik Ismail sempat saya perlihatkan salah satu buku terbitan JP (Jawa Pos) Books. Judulnya: Ekspedisi Bukit Barisan (EBB) 2011. Buku tersebut kerjasama JP Books dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang berisi ekspedisi pendakian 7 gunung di Pulau Sumatera. Mulai Gunung Leuser di Aceh sampai Gunung Tanggamus di Lampung. 

Ketika melihat halaman berisi Gunung Singgalang (Sumatera Barat), Taufiq Ismail sedih. Kedua matanya berkaca-kaca. 

Mengapa? ‘’Saya dulu saat masih kecil usia sekitar 13 tahun tinggal bersama keluarga tepat di lereng Gunung Singgalang. Waktu itu Indonesia masih dijajah Belanda.  Suatu saat tentara Belanda pernah disergap tentara Indonesia. Usai penyergapan itu, Belanda marah. Rumah-rumah di kampung saya dibakar. Karena takut dirazia dan ditangkap  Belanda, setiap pagi saya dan keluarga harus mengungsi ke puncak Singgalang. Ini kami lakukan lebih dari dua bulan. Untung, keluarga kami selamat,’’ ujarnya pelan.

Taufiq akhirnya tampil. Penontonnya dari tim IKAPI, Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia, dan Konsulat RI di Jerman. Dari Kementerian hadir Bu Diah, Ketua Puskurbuk ditemani bendahara Agus Sumarwoto. Orang-orang Jerman pecinta Indonesia juga hadir. 

Taufik lantas membacakan puisi pertamanya “Dunia Ini Panggung Sandiwara.” Disusul puisi terjemahan berjudul “Diese Welt Ist Eine Theaterbuhne” yang ditampilkan oleh Berthold. Disusul 4 puisi lainnya, Sajadah Panjang, Jermannya, Der Lange Gebetsteppich, Rindu Rasul (Sehnsucht Nach Dem Propheten), Lailatul Qadar (Die Nacht Der Bestimmung), dan Bumi yang Kita Rindukan (Die Welt, Die Wir Ersehnen). 

Penampilan mereka disambut tepuk tangan meriah. Para pengunjung kemudian dipersilakan mencicipi makanan ringan oles-oles dan martabak yang khas Indonesia. Dua makanan itu ternyata dipesan khusus dan dibuat oleh ibu-ibu dari konsulat RI di Jerman.

Setelah itu, Hapsari Budi Utami, Direktur Publishing PT Canting Rumah Kreasi, tampil menceritakan di balik penulisan buku Komodo Island. Buku yang berisi karya-karya fotografer dengan caption bahasa Inggris yang puitis itu adalah satu-satunya produk Canting dalam pameran ini. Sekitar 20 menit dia menyampaikan review bukunya.

Oh, ya hadir pula pada acara pembacaan puisi Taufik tersebut adalah Claudia, Wakil Direktur Frankfurt Buchmesse 2015.  Menariknya, suaminya adalah orang Indonesia. 

Dalam pameran buku terbesar kelas dunia yang sudah berlangsung  sekitar 60 tahun ini, Indonesia sebenarnya memiliki link yang sangat strategis. Namun, para penerbit Indonesia sepertinya kurang darah mengikuti pameran ini.   Hasilnya, stan Indonesia sepertinya kurang serius dipersiapkan. 

ruf5.jpgIbu Made, pedagang K5 di FBF 2011. (FOTO: Moch. Makruf)

Kedatangan para penerbit Indonesia di pameran ini hanya ingin membeli copy right penerbit-penerbit luar negeri. Ironisnya, mereka enggan menawarkan copy rights buku-bukunya sendiri ke penerbit asing.

Buku-buku penerbit dan katalognya memang ada, namun marketing atau editor dari produk yang bersangkutan tidak ada stan. Mereka lebih memilih jalan-jalan entah kemana atau memburu copy rights penerbit lain. 

Produk bukunya diserahkan kepada pengurus IKAPI dan anak-anak mahasiswa tersebut. Jadi, buku-buku di stan Indonesia bisa dikatakan sebagian besar tidak bertuan. 

Kondisi ini berbeda dengan penerbit luar negeri. Mereka meng-create stan se-exostic mungkin. Diisi dengan buku-buku hardcover dan non hardcover kelas tinggi untuk menarik minat pengunjung. Lima sampai enam orang SPG siap di stan melayani pengunjung bila ingin transaksi jual beli copy right. 

Transaksi jual beli copy right biasanya tidak dilakukan langsung di pameran ini. Bila ada pengunjung tertarik pada produk, mereka diberikan katalog untuk dipelajari lebih lanjut. Komunikasi dan transaksi selanjutnya cukup via email.

Transaksi buku sebagian besar berupa jual beli copy rights dan royalti. Ada yang jual beli fisik buku, tapi sifatnya massive, yakni ekspor buku.  Bagaimana proses ekspornya?  Pemilik copy rights memberikan isi hanya berupa teks kepada peminat. Peminat kemudian menerjemahkan isi buku ke bahasa negara asalnya. Setelah itu, naskah buku terjemahan harus dikembalikan kepada pemilik copy right untuk dicetak. Setelah selesai dicetak, buku akan dikirim (diekspor) ke peminat.

Beda dengan jual-beli di Indonesia yang cenderung beli satu dan dua fisik buku. Tidak ada transaksi jual beli copy right antarpenerbit di setiap pameran. Alhasil, kondisi pasar dan pameran buku di Indonesia monoton dan tidak berkembang.

Selesai acara pembacaan puisi oleh Taufiq Ismail, suasana stan Indonesia sepi lagi. Menginjak pukul 16.00 waktu Frankfurt, stan tutup. Para peserta sudah bergerombol meninggalkan Frankfurt Messe menuju jalan raya untuk mencegat transportasi umum seperti trem atau bus. 

Pengunjung bisa memilih transportasi. Di situ juga ada taksi yang sebagian besar bermerek Mercedes Benz dan becak Frankfurt. Untuk taksi memang agak mahal, tarifnya bisa di atas Euro 20. Sedangkan becak tergantung jauh dekatnya, tarifnya  Euro 3 sampai 5 (Rp 51.750 sampai Rp 86.250. Kurs per Euro = Rp 17.250). 

PEDAGANG KAKI LIMA DAN STAN GOOGLE

Hari kedua, 15 Oktober 2011, saya tiba pukul 10.00 di lokasi Frankfurt Book Fair 2011 di Fusthalle/Mese. Suasanaya masih sepi. Saya coba mengekplorasi dan memotret kawasan pameran. 

Saat eksplorasi foto di lokasi pameran, saya menemukan hall pameran Audi. Arsitektur bangunannya futuristik. Di dalam gedung ada mobil Audi keluaran terbaru.

ruf7.jpgTaxi Mercedes Benz. (FOTO: Moch. Makruf)

Di sisi gedung ada sungai buatan dengan lebar 3 meter yang sisi kiri- kanan tepianya banyak air mancur kecil. Di kiri sungai ada bangku-bangku untuk bersantai dan cafetaria.

Tak jauh dari itu cafe-cafe mobil bertebaran. Ada juga kopi hangat dan makanan semacam donat besar.  Sesekali terlihat burung merpati terbang melintas dan mendarat di trotoar jalan.

Saya meneruskan eksplorasi. Tak jauh dari situ ada pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam souvernir. Mulai jaket dan tas berbahan  kulit, sal, kaos tangan, boot dan souvenir lainnya.

Saya melihat ada seorang wanita setengah baya di situ berwajah seperti orang Indonesia. Dengan ramah dia menyapa saya. ''Selamat pagi, dari Indonesia ya?'' kata ibu tadi. 

''Selamat pagi, iya ibu,'' jawabku.

Kami berdua terlibat ngobrol. Panggilan akrabnya Ibu Made. Dia sudah puluhan tahun tinggal di Jerman. Anaknya lahir di Jerman dan kini berusia 30 tahun. Suaminya orang Inggris.

''Saya punya dua anak, mas. Anak pertama di sini. Yang kedua, sekolah di Amerika,'' ujarnya.

Ibu Made bisa dikatakan dituakan oleh warga Indonesia yang tinggal di Frankfurt. ''Saya lurahnya di sini. Ha..ha. Saya akan mendukung bila ada kegiatan-kegiatan terkait Indonesia berlangsung di sini,'' ujarnya.

Dagangan ibu Made ini di antaranya patung-patung kayu kerajinan Bali. ''Saya tidak banyak jual barang dari Indonesia di sini. Karena hitung-hitungan bisnisnya rugi. Biaya kirimnya mahal,'' katanya.

Ibu Made mengaku sering dimintai orang-orang konsulat untuk membuat makanan atau minuman khas Indonesia. ''Kalau ada rombongan penerbit yang ke sini butuh nasi bungkus, saya bisa mengusahakan mas,'' katanya.

Setelah ngobrol, saya pamit ibu Made untuk masuk ke area pameran. Sebelum pergi, dia memberi saya satu botol minuman jus jeruk dan dua snack untuk dimakan selama pameran nanti. 

''Di sini jangan sampai kelaparan. Karena hawanya dingin,'' kata Ibu Made. Meski sudah lama tinggal di Jerman, dia masih warga negara Indonesia dan mencintai kampungnya.

Masuk stan Indonesia, seperti biasa saya melayani pengunjung yang tanya-tanya soal buku. Saya kerap menunjukkan buku masterpiece JP Books, Ekspedisi Bukit Barisan 2011 kepada pengunjung.  ''Bila buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, ini akan lebih bagus mas. Orang-orang sini suka hal-hal etnik lokal daerah setempat,'' kata Ginting, seorang teman yang juga beristerikan wanita Jerman dan baru enam bulan tinggal di Frankfurt.

Setelah itu, saya meninggalkan hall 5.0 menuju hall 8, international publisher. Hall 8 adalah  hall pameran tempat penerbit-penerbit top dunia berada. Yang menempati hall ini sebagian besar dari Amerika dan Inggris. Sisanya dari Italia dan India.

ruf6.jpgStan Google di FBF 2011. (FOTO: Moch. Makruf)

Masuk ke pintu hall sudah ada 10 petugas pameran yang akan memeriksa tas pengunjung. Dengan demikian, pameran ini tetap terjaga keamanannya. Petugas dengan kedua tangan mengenakan handscone (kaos tangan karet) memeriksa satu per satu tas pengunjung. Setelah isi tas clear, pengunjung baru dipersilakan masuk area pameran.

Ternyata stan-stan di hall ini bisa dikatakan jor-joran desain. Stan buku Prancis di hall 5 misalnya. Antara buku-buku yang dipajang serba lux (mewah). Hardcover ditata sesuai dengan desain interior stan.

Di hall ini, saya sempat mengunjungi stan Oxford University Press, Penguin, dan White Star.  Saat mengunjungi Oxford, yang dikenal dengan penerbit kamus-kamus bahasa Inggris Oxford, saya diterima oleh salah satu sales-nya. Saya tanyakan apa yang bisa ditawarkan Oxford untuk kami. Apa saya bisa menerbitkan kamus?

Menurut dia lisensi Oxford di Asia sudah dipegang oleh Malaysia. Namun untuk co-publishing pihak Malaysia masih membuka diri. Jadi reprint isi kamus Oxford dan nama penerbit bisa tertempel di buku.

Apa persyaratan co-publishing? Dia tidak bisa menjelaskan karena bagian marketing yang punya otoritas. Namun, biasanya penentuan ditentukan oleh judul yang dipilih dan berapa buku yang dicetak. Dari situ, bisa ditentukan fee penerbit yang harus dibayar ke Oxford. 

Dia kemudian memberikan katalog. Bila ada judul yang diminati, bisa komunikasi via email.

Di pameran ini ada tiga trading. Pertama trading copy rights dengan sistem pembayaran royalti 7-8 persen. Perdagangan ini mendominasi transaksi pameran.

Jenis ini umumnya kontrak selama 5 tahun. Penjual biasanya meminta pembayaran dimuka (advance) semua royalti pada cetakan pertama. Jadi tinggal mengalikan royalti 8 persen dari harga jual buku per eksemplar dikali cetak 5.000 eksemplar. Tahun kedua sampai kelima penjual meminta royalti setelah ada penjualan buku. 

Kedua, sistem copublishing. Peminat menerima materi kasar dari penerbit lantas diterjemahkan ke bahasa negara peminat. Selanjutnya, materi dikirim ke penerbit. Penerbit tersebut lantas memasukkan ke buku. Buku dicetak oleh penerbit dan dikirim ke negara peminat. 

Penerbit-penerbit besar umumnya memakai sistem co-publishing. Dia tetap mencetak buku di negaranya selain bisa memperoleh royalti juga memperoleh profit cetak. Selain itu, kualitas buku dari cetak dan finishing tetap terjaga.

Ketiga, trading export buku. Penjual tidak mau transaksi copy right, royalti atau pun co-publishing, tapi hanya ekspor buku. Buku apa yang diminta pembeli, penerbit akan mengekspornya. 

Ada juga penjualan buku secara retail seperti umumnya di Indonesia. Namun kegiatan ini hanya dilakukan di akhir pameran dan oleh stan-stan tertentu saja. (Bersambung).

Penulis: Mochamad Makruf, Wartawan Senior di Surabaya dan mantan staf JP Books.

Pewarta : Mohammad Makruf
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda