Frankfurt Book Fair (2)

Backpacker Hemat Rp 5,8 Juta

COWASJP.COM – Saya berkunjung ke Frankfurt, Jerman, untuk menghadiri Frankfurt Book Fair (FBF) 12 – 16 Oktober 2011. Perjalanan itu saya lakukan secara solo backpacker. Tugas dari kantor tempat saya dulu bekerja: JP (Jawa Pos) Books.  

Hanya satu pesan dari atasan: boleh pergi ke Jerman, tapi cari travel agent yang paling murah. Karena waktu keberangkatan mepet, semua travel agent yang murah sudah full booked.  

Jalan satu-satunya, saya harus pergi sendiri secara backpacker. Berikut catatan perjalanan saya: 

BACA JUGA: “Hajinya” Penerbit Besar

Saya terbang ke Frankfurt menggunakan Etihad Airways, salah satu maskapai Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Berangkat dari Terminal 2 Keberangkatan Internasional Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) pada 13 Oktober 2011. Perkiraan awal total perjalanan sekitar 12 jam. Itu karena di jadwal penerbangan tertulis take off dari bandara pukul 18.45 (boarding time 17.30). Transit di Abu Dhabi pukul 23.00, an tiba di Frankfurt esoknya pukul  06.00. 

Ternyata lama perjalanan 17 jam. Mengapa? Waktu yang tertera di jadwal penerbangan (itenerary) di Abu Dhabi dan Frankfurt menggunakan standar waktu lokal. Saya baru tahu. Hehehehe.

Selisih waktu Indonesia-Frankfurt sekitar enam jam, Indonesia-Abu Dhabi sekitar tiga jam. Penerbangan Abu  Dhabi-Frankfurt tiga  jam.

Meski jadwal keberangkatan pesawat pukul 18.45, saya harus  tiba Bandara Soetta dua jam sebelum keberangkatan. Itu ketentuan penerbangan internasional.  Beda dengan penerbangan domestik, 90 menit sebelum keberangkatan. 

Pukul 13.00 saya meninggalkan hotel menuju bandara. Pukul 13.45 tiba di bandara antrean panjang sudah terlihat di loket check in Etihad. Ada lima loket check in: dua loket penerbangan kelas bisnis diamond, pearl, dan tiga loket kelas ekonomi, coral economy

ruf2.jpgGedung Frankfurt Book Fair. (FOTO: Mochamad Makruf/Cowas JP)

Terlihat puluhan TKI yang akan berangkat ke Jeddah. Sepertinya akan dipekerjakan di bidang konstruksi oleh agennya. Mereka berseragam kaos putih tidak seperti penumpang luar negeri umumnya yang cenderung modis. 

Malahan, ada seorang di antaranya diharuskan membersihkan muka, karena mukanya berkeringat. Orang Jawa bilang kumus-kumus (lusuh). Beda dengan wajahnya di foto paspor.  

''Wajah mereka harus dibersihkan. Takutnya nanti bermasalah di keimigrasian Abu Dhabi,'' ujar seorang staf agen para pekerja itu, lelaki keturunan Arab.

Dulu orang beranggapan bepergian ke luar negeri sesuatu yang eksklusif dan monopoli orang kaya. Namun, sejak pemerintah membuka lebar-lebar program pengiriman TKI dan TKW ke luar negeri, ya bepergian ke luar negeri tidak eksklusif lagi. Bepergian ke luar negeri seperti bepergian naik bus antarprovinsi. 

Proses check in sekitar 45 menit. Sebelum check in, kami diberi form isian Imigrasi Indonesia untuk diisi. Form itu segera diisi bila kita tidak mau kelabakan mengisinya saat antrean masuk imigrasi untuk stempel paspor  sebelum masuk boarding room.

Saat check in, masukkan dulu barang-barang berupa gunting, pisau, dan parfum di atas kemasan 100 gram ke bagasi. Sebab, barang-barang tersebut dilarang masuk ke kabin oleh pihak imigrasi.

Saya memasukan parfum di atas 100 gram ke kabin. Ternyata saat di x-ray ketahuan. ''Bapak harus meninggalkan parfum ini di sini, bila tidak barang ini harus dimasukkan ke bagasi,'' kata seorang petugas imigrasi.

Terpaksa saya harus berlari ke check in lagi untuk memasukkan parfum tersebut ke bagasi, dan ini harus melalui loket imigrasi. Padahal saat itu sudah ada panggilan para penumpang Etihad, nomor penerbangan EY 417 masuk boarding room. 

Alhamdullilah,  saya bisa masuk pesawat. Pukul 18. 45, pesawat take off meninggalkan Indonesia menuju ke Frankfurt. 

BACKPACKER HEMAT RP 5,8 JUTA

Saya pergi ke Frankfurt tidak melalui travel agent. Saya atur perjalanan sendiri, mulai pengurusan visa ke Kedutaan Besar Jerman di MH Thamrin, Jakarta, asuransi kesehatan, booking hotel, dan tiket pesawat. 

Saya mengggunakan jasa travel agent hanya booking pesawat. Itu karena saya butuh itenerary atau print out booking tiket pesawat sebagai salah satu syarat wajib pengurusan visa. 

Saya tidak bisa membuat itinerary karena itu pekerjaan traval agent. Booking hotel pun, pihak kedutaan meminta konfirmasi langsung dari hotel di Jerman, tempat saya tinggal nantinya.  Untuk yang terakhir ini, saya sempat langsung menelepon pihak hotel di Jerman untuk minta surat konfirmasi booking tersebut. 

ruf-nyar.jpg

Begitu luasnya areal pameran,  disediakan shuttle bus FBF. (FOTO: Mochamad Makruf/Cowas JP)

Meski sedikit repot, mengurus sendiri perjalanan tersebut ternyata lebih hemat USD 400 sampai USD 500 (Rp 5,8 juta sampai Rp 7,3 juta, kurs sekarang), dibanding perjalanan via paket travel agent. Travel agent pun terkadang nilai paket yang ditawarkan berbeda. Ada yang gunakan standar mata uang Euro dan ada yang USD. 

Perjalanan menuju ke Abu Dhabi 7 jam. Pelayanan di pesawat sangat bagus. Pramugari-pramugari bule tidak pernah telat menyodori makanan dan minuman. Penawaran itu datang setiap 45 menit perjalanan. ''Any one, need water?'' katanya.

Salah satu menu di pesawat adalah menu Indonesia. Steam rice (nasi) dengan lauk chicken (ayam), tempe bacem, dan krupuk udang, produk salah satu perusahaan krupuk ternama di Sidoarjo. 

Di pesawat ini, penumpang juga bisa  melihat film, program TV, news game dari layar LCD TV sebesar Ipad yang tertempel di belakang kursi masing-masing penumpang. Untuk film ada berbagai pilihan. Antara lain new release, classic, dan all. 

TRANSIT ABU DHABI

Setelah menonton 4 film, pesawat mendarat dengan mulus  di Bandara Internasional Abu Dhabi. Jam tangan saya waktu itu menunjukkan pukul 01.30 WIB. Waktu Abu Dhabi sekitar pukul 23.10. 

Kami masuk bandara Abu Dhabi, penumpang yang transit ke Frankfurt segera diarahkan oleh petugas bandara ke gate 4. Bandara negara kaya Uni Emirat Arab ini sangat bersih dan modern.

ruf3.jpgHall 5 stand Indonesia di FBF 2011. (FOTO: Mochamad Makruf/Cowas JP)

Kami  naik elevator yang untuk pejalan kaki, lantas masuk ke sebuah hall melingkar. Hall itu ternyata dikhususkan penumpang transit. Atap hall sepertinya berbentuk kubah. Atapnya berkeramik bentuk segi enam dengan dominasi warna biru dan hijau. Indah.

Di hall transit ini, para penumpang juga dibuat nyaman. Kursi-kursinya plastik tebal hitam, ada yang bentuk pendek dan ada yang memanjang. Bentuk panjang bisa digunakan untuk leyeh-leyeh atau rebahan sejenak.

Di hall ini ada 8 komputer LCD untuk para penumpang bermain game atau browsing. Di sekeliling hall dan lantai satu hall ada toko-toko cinderamata dan duty free. Meski transit, penumpang bisa belanja cinderamata khas negara setempat misalkan kaos-kaos atau lainnya.  (Bersambung)

Oleh: Mochamad Makruf, Wartawan Senior di Surabaya.

Pewarta : Mohammad Makruf
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda