Setelah Setahun Kijang LGX Hilang (4)

Bertemu Pencurinya di PN Gresik

Halaman RS Semen Gresik tempat hilangnya mobil Kijang LGX itu. (FOTO: Guritno Baskoro)

COWASJP.COM – Tanggal 25 Juni 2004 pagi, di kantor, saya baru saja duduk di meja kerja. Tiba tiba nada dering SMS berbunyi.

SMS dari Magda  muncul dilayar hitam putih HP saya.

"Selamat pagi, Om."

Saya langsung mengetik balasan: 

"Selamat pagi juga, Magda."

Beberapa saat kemudian dia mulai mengetik lagi.

"STNK dan BPKB asli apakah masih ada, Om?"

Saya jawab: 

"Masih ada, Mas Magda."

Magda:  "Diperlukan nanti untuk pengambilan mobil. Tolong dikirim ke alamat ku saja, Om. Tapi ngirimnya tunggu info dari aku ya."

Supaya lebih melegakan hati, saya tekan tombol panggil HP Nokia 1110. Tersambung.

"Selamat pagi om,” suara Magda di telepon.

"Selamat pagi juga. Magda sedang di mana?" sahut saya.

Magda: "Persiapan berangkat kerja, Om." 

Saya: "Oh maaf mengganggu. Kapan STNK dan BPKB bisa Om kirim?"

Magda: "Ya Om, dikirim ke alamatku dulu. Segera saja. Aku SMS alamatku setelah ini."

Dokumen  berharga itu satu satunya yang masih saya punya. Oleh sebab itu saya minta kepada Magda untuk mengawalnya jika sudah sampai di Kupang.

Ia bercerita lebih lanjut. "Menurut Om Bello (ayah sahabatnya di Polda NTT), mobil itu masih ditahan di Polres Soe. Minggu depan rencananya akan ditarik ke Polda NTT. Mobil itu dimiliki oleh seseorang di kota Soe, ternyata surat-suratnya palsu. Nomor chasis dan nomor mesin yang tertera di BPKB tidak sesuai dengan fisiknya. Nomor chasis dan nomor mesin yang tertulis di BPKB adalah milik mobil Panther. Itulah sebabnya STNK dan BPKB asli diperlukan untuk barang bukti penyitaan. Ada pesan juga dari Om Bello, agar bisa kirim uang Rp 2 juta untuk biaya operasional penarikan mobil dari Soe ke Kupang.  Atau akan ditalangi terlebih dahulu oleh Om Bello."

Saya minta Magda mengulangi kata-katanya, saya takut salah dengar. Karena saya belum yakin apa yang saya dengar barusan. Ternyata memang benar, nilai yang minta ditransfer hanya Rp 2 juta.

"Oh jangan ditalangi.  Om Guk sungkan. Tolong info nomor rekening Magda. Nanti om lebihkan transfernya. Dan tolong berikan langsung kepada beliau,” jawab saya memotong ucapannya.

"Baik Om. Nanti aku SMS sekalian alamat rumah dan nomor rekening," jawabnya.

"Terima kasih ya. Salam buat Pak Bello. Om tunggu SMS Mas Magda setelah ini."

"Ya om. Terima kasih," jawabnya.

Saya akhiri pembicaraan per telepon pagi itu. Saya masih terngiang ucapan Magda tadi. Jika yang bicara bukan  Magda, saya belum  tentu percaya. Jika tidak dibantu oleh Pak Bello, saya belum tentu pasti ke sana.

Kenangan saya meluncur kembali ke tahun lalu. Ketika mobil itu hilang dari tempat parkir di RS Semen Gresik. Mobil itu baru saja saya cuci di tempat cucian mobil, dan telah diisi penuh bensin. Sorenya hilang begitu saja.

projp1.jpgPengadilan Negeri Kelas 1B Gresik. (FOTO: Guritno Baskoro)

Saya ingat pula beberapa hari setelah kejadian, ada dua orang  oknum yang mengaku dari Polres Gresik datang ke rumah. Mereka menawarkan jasa untuk mencari keberadaan mobil tersebut. Untuk itu mereka minta biaya operasional di depan.

Saya katakan kepada mereka jika mobil itu sudah ditemukan, saya akan tebus. Apabila saya bisa menebus.

Enam bulan kemudian, saya terima surat panggilan dari kantor Kejaksaan Gresik. Saya diminta datang sebagai saksi dalam persidangan pelaku curanmor di Pengadilan Negeri (PN) Gresik.  Saya hadir di situ. Pelakunya memang spesialisasi pencuri mobil. Ia sudah beberapa kali mencuri mobil, termasuk mobil saya.

Saya langsung mengenali wajahnya. Perawakannya kecil. Ketika saya memarkir mobil, ia sedang jongkok di ujung tempat parkir. Di sebarang mobil saya. Saya berjalan melewatinya. Raut mukanya sama seperti yang sedang duduk di kursi persidangan.

Menurut keterangannya mobil hasil curiannya dijual kepada penadah. Kemudian ada yang bagian membuat surat-surat palsu. Lalu dijual lagi oleh penadah berikutnya ke wilayah timur Pulau Jawa

Sayangnya, mobil saya tidak termasuk barang bukti di persidangan.

Ketika tadi saya telepon Magda, isteri belum saya beri tahu. Nanti saja pikir saya.

Kini, ada secercah harapan. Mobil saya yang sedang "berkelana" itu ada peluang untuk bisa kembali. Saya tidak ragu lagi. Walau bagaimana pun kisah mobil itu sampai ke Pulau Timor masih misteri. (Bersambung)

Penulis: Guritno Baskoro, pensiunan PT Petrokimia Kayaku, Gresik, Jatim.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda