Politik Pecah Batu

COWASJP.COM – Belum ada tokoh yang mampu menandingi Tri Rismaharini. Kalau saja undang-undang membolehkan Tri Rismaharini maju lagi, sudah pasti dia akan menang. 

Meski disandingkan dengan siapa saja. Namun, aturan melarang. Bukan hanya kalau dia maju sebagai calon walikota untuk periode ketiga. Tapi, undang-undang melarangnya. Bahkan, untuk maju sebagai calon walikota pun tidak boleh. 

Aturan ini beda dengan 10 tahun lalu. Saat itu Tri Rismaharini maju dengan popularitas dan elektabilitas yang rendah. Dia kalah dibanding Arif Afandi yang saat itu maju sebagai incumbent. Arif Afandi adalah wakil walikota berpasangan dengan Adie's Kadier (Cacak). Walikotanya Bambang DH. 

Tak mau kalah, Bambang DH maju lagi meski  turun kasta sebagai cawawali-nya Tri Rismaharini.

Berduet dengan Bambang DH otomatis popularitas dan elektabilitas juga meningkat tajam. Meski demikian, pasangan Risma-Bambang tidak mampu menang mutlak dalam memperoleh suara pemilih warga Surabaya.

Sejumlah survei menyebutkan pasangan Cacak akan ungguli Risma-Bambang. Namun, rekapitulasi hasil suara oleh KPU Surabaya memenangkan Risma- Bambang. 

Pasangan Cacak menggugat ke MK, tapi gagal untuk menggugurkan kemenangan Risma-Bambang. Meski, ada coblosan ulang di sejumlah daerah.

Pasangan Risma- Bambang bisa menang karena terkena"'politik pecah batu". 

Entah siapa yang jadi sutradara atau memang sengaja "memecah diri" hingga tidak terjadi koalisi antarpartai non PDI-P. Bila saja terjadi duel dua pasangan saja pada Pilwali 2010, disinyalir pasangan Cacak yang akan unggul. Ups.. pemenangnya ternyata pemilih Golput alias golongan putih alias pemilih yang tidak setuju dengan semua pasangan calon di Pilwali Surabaya 2010. 

BACA JUGA: Pilkada Tersulit PDI-P​

Mari kita simak hasil akhir Pilwali Surabaya saat itu. 

Hasil rekapitulasi penghitungan suara di 31 kecamatan meliputi pasangan nomor urut satu Sutadi-Mazlan (DIMAZ) meraih 61.648 suara atau 6,63 persen, pasangan nomor urut dua Fandi-Yulius (FUYU) 129.172 suara atau 13,89 persen.

Peserta nomor urut tiga Arief Affandi - Adies Kadier 327.516 suara atau 35,23 persen, nomor urut empat Risma-Bambang DH 358.187 atau 38,52 persen, dan nomor urut lima Fitra-Naen 53.110 suara atau 5,71 persen.

Adapun jumlah daftar pemilih tetap (DPT) Surabaya mencapai 2.142.900. Namun, total pemilih dengan suara sah 929.663 atau 43,38 persen dan suara tidak sah 39.307 atau 1,83 persen. 

Sehingga total partisipasi pemilih di Pilkada Surabaya 968.940 atau 45,21 persen. Sedangkan angka golput 1.173.960 atau 54,78 persen.

Ya, golput adalah pemenang pilkada Surabaya 2010. 

Pemilih Risma-Bambang adalah pemilih loyalis PDIP, sekitar 358 ribu atau 38 persen dari total suara sah.

Seandainya saja sejarah berulang, dan suara non-PDIP bersatu maka Cacak akan melenggang ke balaikota. 

Pilkada Surabaya 2020 ini menjadi pilkada tersulit bagi PDIP. 

Partai partai yang kalah pada 2010 lalu kini bersatu dengan mengusung Machfud Arifin (MA) sebagai calon walikota. Apabila suara MA berbanding lurus dengan suara di parlemen dipastikan jago PDI-P bakal kalah. Siapa pun jago yang diusung partai moncong putih itu.

Kini, tugas utama tim pemenangan PDI-P adalah memecah batu pengusung MA. Kalau saja tim pemenangan PDI-P mampu melakukannya, maka jagonya bakal menang. PDI-P punya massa yang sangat loyal meski bukan massa mayoritas. 

Tapi, kalau tak mampu memecah soliditas suara lawan, sudah pasti MA yang akan unggul. Siapa pun cawawalinya. 

Haruskah memecah suara lawan dengan mengiming-iming agar partai pengusung MA memecah diri dengan mengusung calon lain? Tidak harus. Yang penting mampu membuat peta atau pecahan tentang suara yang bakal muncul di rekapitulasi KPU Surabaya. 

Kalau tim PDI-P mampu membuat suara golput 60 persen, maka MA bakal kalah.  Tapi mampukah? (*)

Penulis adalah Direktur koran Pojok Kiri dan Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Timur.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda