Jawa Pos 1998 Jadi Trendsetter

Dhimam Abror Djuraid, mantan Pimred Jawa Pos. Juga pernah jadi Ketua Harian KONI Jatim. (FOTO: top.skor.id)

COWASJP.COM – Tulisan ini sebenarnya hanya menjadi pelengkap dari tulisan Cak Amu yang berjudul: “Jawa Pos seperti Kapal Titanic.” Yang sampai Minggu 26/7/2017 pukul 15.00 WIB sudah menggaet 28 ribu viewers itu.

Sebab, selain gerakan menurunkan sekoci-sekoci, Pak Dis (Dahlan Iskan, CEO JP Koran) waktu itu juga melakukan gebrakan lain yang luar biasa. Yang belum terpikirkan oleh koran-koran lain di Indonesia.

Dan, hebatnya pula, ide cemerlang itu diungkap oleh anak buahnya: Dhimam Abror Djuraid, Kepala Redaksi yang baru saja ditugasi mengamati perkembangan koran di Amrik (Amerika Serikat). Ide-ide dari manapun asal bagus untuk perusahaan akan dihargai tinggi. 

Tulisan ini, kami sajikan dalam bentuk tanya jawab. Agar gayeng dan tidak monoton. Tulisan ini diturunkan semata-mata untuk menginspirasi manajemen JP Koran sekarang yang sedang menghadapi problem berat.

Tanya jawab itu lewat WA antara Slamet Oerip Prihadi (SOP) dan Dhimam Abror Djuraid (DAD) di bawah ini:

SOP: Asswrwbr. Cak Abror, tahun 1998 waktu JP (Jawa Pos) berubah dari koran 9 kolom jadi 7 kolom seingat saya itu usulan dan ide sampean kepada Pak Dis (Dahlan Iskan).

Bagaimana ceritanya dulu? Waktu iku sampean jadi Pimred atau Redpel JP? Waktu itu koran 7 kolom dinamakan broadsheed ya? Seperti koran di Amerika Serikat: Washington Post. 

Saat Krismon melumpuhkan perekonomian dunia. Juga menggoyahkan kelangsungan hidup perusahaan media cetak. Ada yang cepat recovery-nya ada yang agak lambat.

Seingat saya waktu itu Pak Dis menyambut dengan antusias ide sampean. Sebab, bisa memangkas 30 persen ongkos produksi koran. Terobosan hebat saat menghadapi krismon. Tanpa harus melakukan PHK.

DAD: Yang pasti, inovasi JP ini kemudian menjadi trendsetter. Diikuti koran-koran lain di tanah air. Perlu diingat waktu itu, harga kertas koran melambung tinggi. Nah dengan mengurangi lebar dan panjang koran, maka koran tetap 48 halaman, tapi biaya produksinya turun 30 persen. Sangat berarti bagi kecepatan gerak bisnis koran waktu itu.

Kalau gak salah, waktu itu saya jadi kepala redaksi. Saya baru balik dari Amrik, terus disuruh Bos cerita di depan direksi. Sebagai oleh-oleh cerita tentang perubahan koran-koran di Amrik.

Saya bilang tren baru di Amrik, waktu itu(dekade 1990-an), sudah nggak ada lagi koran 9 kolom (broadsheet). Yang ada koran 7 kolom (Pak Bos menyebut young broadsheet).

SOP: Siapa pelopor young broadsheet di Amrik sana?

DAD: Pelopornya koran USA Today yang colorful dan terbit di daerah-daerah negara bagian secara nasional. Dari situlah muncul ide Jawa Pos harus bikin Radar-Radar. Dimulai dari tujuh wilayah Jatim disebut "Seven Rads”.

Jadi, JP makin berakar di daerah-daerah. Baik dari aspek pemberitaannya maupun iklan dan advetorialnya. 

Oplah USA Today malah mengalahkan New York Times dan Washington Post karena terbit dengan edisi beda di masing-masing negara bagian. Oo keren.

tren1.jpgWajah koran Jawa Pos pun berubah. Visualisasinya strong. (FOTO: garistepilapanghijau.wordpress)

Jadi sekaligus dua gebrakan.

1. Koran 9 kolom jadi 7 kolom.

2. Bangun jaringan Radar.

Soal efisiensi, biaya bisa ngirit 30 persen tanpa mengurangi jumlah halaman. Bos waktu itu bilang hebat pengalaman Abror dari Amrik. 

Saya bilang: “Bos soal pengiritan itu bukan ide dari Amrik. Itu ide dari tetangga saya di Tandes (Surabaya) yang jualan krupuk. Kalau harga minyak dan tepung naik, dia nggak naikkan harga jual krupuknya, tapi menjadikan ukuran krupuknya sedikit lebih kecil. Sehingga ngirit tepung dan minyak."

Bos tertawa terpingkal-pingkal. “Ya ya betul juga. Oalah ternyata ini manajemen krupuk ya. Saya kira manajemen New York Times.” Hehehehe

SOP: Apa pertanyaan Pak Dis berikutnya?

DAD: Terus sebelum akhir presentasi, saya ditanya Bos. "Abror saya minta mampir ke Ulik (Azrul Ananda, anak lanang Pak Dis) di Sacramento. Agar tahu bagaimana kabar Ulik di sana. Coba Abror ceritakan apa Ulik hebat di sana?"

Saya jawab singkat, "Nggak Bos. Biasa-biasa saja. Wassalamu alaikum wr wb" saya langsung duduk dan direksi diam.

Tapi sebenarnya koran 7 kolom itu bukan ide saya. Saya yakin Pak Bos sudah tahu semua. Cuma saya yang disuruh presentasi di hadapan para direksi. Agar seolah-olah itu ide saya.

SOP: Mengapa USA Today tampil colorful, Cak Abror? 

tren2.jpgSalah satu wajah Radar. Radar Semarang. (FOTO: Facebook)

DAD: Waktu itu kan media cetak mulai bersaing keras dengan media televisi. Televisi colorful, media cetak ya harus colorful. Televisi siaran tiap hari, koran juga harus terbit tiap hari. Dulu kan kalau hari Minggu nggak terbit. Sampai awal 1990-an.

Sejak itulah perwajahan Jawa Pos berubah menjadi seperti sekarang yang kita lihat. Foto dan desain grafis menjadi dominan, agar visualisasinya strong. Bersaing dengan TV.

SOP: Jadi dulu JP sengaja mengirim salah seorang terbaiknya ke Amrik untuk mengamati dan mencermati perubahan media ya?

DAD: Betul. Ya memang harus begitu, karena Jawa Pos sudah terlanjur jadi koran besar di Indonesia. Punya karakter khas dan basis penggemarnya sangat kuat. Punya ruh.

Semoga manajemen JP Koran yang sekarang juga melakukannya. Di era milenial, ketika media cetak dikepung Media Online dan Media Sosial. Tantangannya pasti beda. Antisipasi dan inovasinya juga beda. Perubahan ini yang harus dilakukan. 

Sekarang koran harus beda dengan media online atau situs. Straight news kita pajang di online. Kecepatannya lebih tinggi. Bisa selalu di-update. Behind the news-nya itulah yang harus menjadi menu utama koran. Investigasinya, blow up-nya. Ulasan-ulasan para pakarnya.

Betul-betul menjadi media yang mencerdaskan bangsa.

Katakanlah tersaji 12 halaman behind the news. Yang 12 halaman jadi halaman-halaman komunikasi bisnis untuk menggaet duwit silakan saja. Semua divisi sudah melakukan langkah terobosan atau belum? Jangan hanya jadi juru tagih.

Ada teman yang mengabarkan, mengundang wartawan JP untuk memberitakan satu kejadian bersejarah di Jatim, eh malah marketing iklannya yang menghubungi teman kita tadi. Beritakan dululah dengan baik. Mari ngono baru nyang-nyangan iklan. Sing alus ngono lo Rek.

Semoga manajemen JP Koran bisa menemukan terobosan dan inovasi brilian dan hebat. Janganlah memerotoli pasukan dengan pensiun dini. Bacalah berita tentang pernyataan Menkeu Sri Mulyani. Pemerintah RI tidak menghendaki ada PHK di perusahaan media massa. Pemerintah siapkan 7 insentif. (*)

Penulis: Slamet Oerip Prihadi, Wartawan Senior di Sidoarjo.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda