Jawa Pos seperti Kapal Titanic

Foto Ilustrasi: Istimewa

COWASJP.COM – Gedung Graha Pena berlantai 21 di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, itu belakangan tampak lengang. Penyewa dan penghuninya memilih bekerja di rumah. Sesuai anjuran pemerintah. Virus coronavirus2019 bak badai yang mampu menghantam perekonomian dunia.

Badai itu masih belum berlalu. Salah satu penghuni gedung milik Jawa Pos Holding ini adalah Jawa Pos Koran. Yang tak luput dari terjangan badai Covid-19. Pengurangan karyawan dan efisiensi dilakukan. Namun, efeknya justru terjadi pergolakan di dalam.

Beda dengan dampak krisis moneter (krismon) yang terjadi 22 tahun silam (1998). Jawa Pos juga kena imbasnya. Namun, pengendali Jawa Pos waktu bisa mengatasinya dengan sangat baik. Badai berlalu, Jawa Pos koran kian berkibar!

Krisis hebat tampaknya menjadi ujian dari Allah untuk menakar seberapa hebat kepemimpinan seseorang.

Mantan karyawan Jawa Pos, pasti tak akan pernah melupakan sejarah itu. Termasuk saya. Yang punya pengalaman pribadi. Yang sangat mahal nilainya.

Anjloknya nilai rupiah terhadap dolar pada 1998, berimbas pada perekonomian nasional. Sendi-sendi bisnis dihantam oleh meroketnya nilai dolar AS.

Semua perusahaan kelimpungan. Dolar menembus angka fantastis. Rupiah merosot hingga Rp 14.150 ribu per dolar AS. Itu terjadi pada bulan Juli 1998. Bahkan sampai Rp 18.000-an. Dari semula Rp 2000-n per USD (US Dolar).

Para karyawan Jawa Pos tengah merayakan hari jadi Jawa Pos ke-59. Tentu pergelaran dilaksanakan dalam suasana prihatin. Dan berdoa dalam hati, semoga Jawa Pos tetap survive. Apapun yang terjadi. Aamiin.

Efek domino merosotnya rupiah benar-benar membuat perusahaan yang mengangkat saya jadi karyawan pada 1987 ini pun harus pasang kuda-kuda. Bakal ada penghematan dan restrukturisasi. 

Padahal, saat itu kami baru saja boyongan. Menikmati markas baru. Hijrah dari “Kampung” Karah Agung ke gedung megah Graha Pena. Di tepi jalan raya Surabaya menuju luar kota pula. Wouuw top. Tapi rasanya jadi hambar dalam keprihatinan. 

Cancut taliwondo!

oemi12dcb7.jpgCowasers saat rapat di rumah Ketua Dewan Pengawas Cowas JP: "Hendraal" Koesnan Soekandar, 27 Februari 2020. (FOTO: Cowas JP)

Turun langsung ke medan laga. Bertempur untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan pemimpin.

Berjuang lagi! 

Kerja.. kerja… kerja! 

Kala itu, Jawa Pos benar-benar nyaris tenggelam. Dramatis. Bagai kapal yang terombang-ambing di tengah lautan luas. Guncang!

Sang “Kapten Kapal” Dahlan Iskan langsung menjadi nakoda. Mengambil kendali. 

CEO Jawa Pos ini mengumpulkan anak buahnya. Rapat Akbar di lantai 4 gedung Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya, yang kini mentereng itu. Dahlan berteriak lantang. “Kita harus menyelamatkan diri. Kita berada di kapal yang akan tenggelam,” pekiknya,

Kurs dolar yang terus meroket, kata Dahlan, mengancam nasib Jawa Pos. Kondisi keuangan, omset iklan, biaya cetak koran, bisa membuat perusahaan tenggelam.

KAPAL TITANIC

“Kita saat ini berada di dalam kapal. Kapal ini mau tenggelam. Seperti kapal Titanic,” begitu kata-kata yang saya ingat, ketika mantan menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini kepada seluruh karyawan JawaPos (JP).

Dahlan menggalang dialog terbuka. Tidak menutup diri pada berbagai ide dari bawah. 

(Baca juga: JP Jadi Trensetter: Berubah dari 9 Kolom ke 7 Kolom). 

Kapal Titanic yang dimaksud Dahlan Iskan adalah kapal laut Inggris RMS Titanic, berkapasitas penumpang 2.224 orang, yang tenggelam di Samudera Atlantik Utara, 15 April 1912. Tepatnya berada di sekitar 400 mil atau 644 kilometer selatan Newfoundland. 

Titanic menabrak gunung es pada 15 April 1912. Sebanyak 1.514 penumpangnya tewas, 700-an orang dinyatakan selamat. Tenggelamnya kapal Titanic ini disebabkan kelalaian nakodanya. Nekad melintas samudera bergunung-gunung es.

Logis sekali, Dahlan menganalogikan kondisi perusahaan yang dipimpinnya seperti kapal Titanic. Jika arah geraknya salah seperti yang dilakukan kapten kapal Titanic, bukan tidak mungkin akan membawa korban lebih banyak lagi. Apalagi badai laut datang di saat kapal hendak tenggelam.

Kami pun tegang, mendengar cerita Dahlan. Jidat “Sang Kapten Kapal” itu mengerut usai bercerita. Ia kemudian memaksa tersenyum, dan coba menenangkan suasana rapat.

Saya sendiri terkesima. Menghela napas panjang. Apalagi, saya baru memasukkan sekolah anak pertama di SD Al Muslim. Sekolah swasta paling mahal di Sidoarjo. 

Saya tidak ingin menjadi korban “tenggelamnya” kapal “Titanic Jawa Pos”.  Kalau betul-betul tenggelam, habislah semuanya. Termasuk “Sang Kapten Kapal” he he.

Lalu, apa yang dilakukan Dahlan? Kami menunggu inovasinya. Kami belum bisa menebak. Akan dikemanakan nasib karyawan?

Dahlan memberikan beberapa solusi. Untuk menawarkan penyelamatan kapal dan seluruh penumpang (dalam hal ini seluruh karyawan). 

Yang pasti: DAHLAN TIDAK MELAKUKAN TINDAKAN YANG MEMBUAT KARYAWAN KEHILANGAN MATA PENCAHARIAN. Sengaja saya tulis huruf kapital.

Puluhan karyawan bagian redaksi harus memilih jalan yang terbaik.  “Kapal ini harus melempar sekoci,” seru Dahlan lagi. Ia kemudian menawarkan beberapa karyawan untuk hijrah dari induk perusahaan: Jawa Pos.

Seorang karyawan bernama Wijoyo Hartono nekad. Ia mengacungkan jari telunjuknya. Senior wartawan olahraga, yang biasa disapa Tony ini memecah keheningan.

Saat rekan-rekannya terdiam. Memikirkan masa depan. Harus pindah ke mana? Tony membuat kejutan. Juga mengejutkan Dahlan.

“Saya siap dimutasi Bos,” jawabnya sembari mengacungkan tangan. Ia memilih “terjun ke laut” lebih dulu. Sendirian. 

Tony meminta Dahlan untuk menyetujui mengelola armada Jawa Pos. Menyatukan dengan bisnisnya. Persewaan mobil. Apalagi saat itu persewaan mobil lagi laris-larinya. 

Inilah hebatnya. Dahlan langsung akur. Mengapresiasi keinginan Tony. Menerima dengan hari terbuka aspirasi dari bawah. 

muis2.jpgDari kiri: Abdul Muis, Ketua Cowas JP Sukoto, Abu Muslich ketika survei lokasi Reuni & HUT ke-5 Cowas JP di Kampung Anggrek, Kabupaten Kediri. Tapi terpaksa ditunda gegara Covid-19.

So, Tony - bapak tiga anak ini - pun disambut applaus dari seluruh rekan kerjanya. Ruang rapat darurat yang luas itu bergemuruh. Atmosfer beku pun meleleh jadi lembut bercahaya. Lebih ceria bersemangat.

Tony berhasil menginspirasi rekan-rekannya. Termasuk saya.

Tony kemudian dipasrahi menyewakan mobil perusahaan. “Siapa yang menyusul saudara Tony. Atau, ikut Tony mengelola mobil-mobil perusahaan. Termasuk mobil dinas saya,” tutur Dahlan sambil terkekeh.

WARTAWAN POLDA JATIM

Saya terperangah. Akhirnya ikut menyusul Tony. 

‘Saya juga siap dimutasi Bos,” kata saya dengan suara keras. 

“Bagus Muis,” puji Dahlan ketika saya juga ikut mengambil skoci. 

Saya kemudian bergabung dengan perusahaan travel yang mengelola umrah dan haji: BIA Travel.Yang dipimpin Almarhum Haji Anas Saduruwan. 

Setelah saya hijrah, puluhan rekan redaksi harus lengser ke koran anak perusahaan baru: Suara Indonesia (SI). Koran ini kemudian meroket hingga mencapai tiras 100 ribu eksemplar. Luar biasa!

Nasib baik. Karena diuntungkan dengan tumbangnya Presiden Soeharto. Dan, teman-teman yang dimutasi di SI kian kerasan. Ada yang sampai pensiun (sampai SI berubah menjadi Radar Surabaya). Mereka sudah bisa menepuk dada. Punya pride!

Sayang, ada seorang rekan yang kancrit. Ketinggalan. Tidak masuk gerbong wartawan yang dimutasi besar-besar di SI. Wartawan yang baru saja digeser di Biro Bangkalan ini, menolak dimutasi. Ingin tetap di kantor biro. 

Tapi Dahlan bersikukuh. Imam Kusnin Ahmad harus hijrah. Dia menolak, mencak-mencak. 

Bisa dipahami. Sebab, Kusnin baru baru saja dimutasi jadi wartawan daerah, koq harus mutasi lagi. Apalagi pilihan yang diberikan tidak menguntungkannya. Jadi petugas keamanan. Security!

Wow…

“Ini mutasi yang tidak masuk akal,” keluh Kusnin kepada saya saat itu. 

Kenapa sampai disekuritikan? Alasan Dahlan, kata Kusnin, lantaran dia punya latar belakang aktif sebagai anggota Barisan Serba Guna (Banser) NU. Dan, Kusnin, kini memang menjadi fungsionaris Pengurus Pusat Banser. Sering memberi pelatihan sampai Papua.

Saya tidak tahu, setelah Kusnin menolak tugas baru sebagai sekuriti, terus ke mana dia? Setahu saya dia kemudian aktif di Radar Tulungagung. 

Saya sendiri sebenarnya juga tidak betah bekerja di “sekoci” yang saya pilih. Saya tidak produktif di BIA Travel. Bisnis umroh nyaris lumpuh. Pengaruh merosotnya nilai rupiah terhadap dolar, sangat mengganggu kinerja saya. Saya kian pesimistis, bakal gagal menjalankan tugas.

Belum genap setengah tahun, saya minta mundur dari BIA Travel. Saya harus menyelamatkan diri. Harus bisa kembali bekerja di induk perusahaan: Jawa Pos.

Kebetulan, saat PWI Jatim merayakan hari jadinya, yang keberapa saya lupa, saya bertemu Dahlan. Dia menanyakan perihal pekerjaan saya di BIA Travel.

Jujur saya katakana apa adanya. Dahlan terkejut. Tapi, di sinilah bijaksananya, dia mengizinkan saya kembali bekerja di induk perusahaan: Jawa Pos. Lega rasanya!

“Tapi, Anda tidak boleh kembali ke olahraga,” pintanya. Di kompartemen olahraga Jawa Pos pangkat saya memang sudah tinggi. Sebagai kepala kompartemen. Jadi kalau kembali ke induk perusahaan harus dari bawah lagi. Hilang jabatanku!

“Hubungi Ali Murtadlo (Redaktur Metropolis,Red.),” pinta Dahlan lagi. 

“Oke Bos. Siap, terima kasih banyak,” jawab saya senang.

Ali menyambut kehadiran saya. “Pak Dahlan minta Pak Amu turun ke lapangan,” perintah Ali. Saya mengangguk. 

Kebetulan pos di Mapolda Jatim kosong. Wartawan sebelumnya, Baehaqi diangkat jadi redaktur. Alasan lainnya biar saya tidak jauh dari kantor. 

“Pak Amu, bisa jalan kaki kalau meliput hehehe..” seloroh Ali Murtadlo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kompartemen Metropolis.

Saya akur saja. Saya tetap semangat walau harus turun ke lapangan. Yang penting saya bisa pulang kembali ke induk perusahaan. 

Selama bertugas di Polda Jatim, saya berhasil membuat gebrakan. Pemberitaan di jajaran kepolisian yang lagi adem ayem, tensinya langsung naik. 

Skandal korupsi di PDAM Surabaya yang lama “dipetieskan” saya ungkap lagi. Saya bekerja sama dengan Kapolda Jatim yang baru Mayjen Pol M Dayat. Kini sudah almarhum.

Kapolda sepakat menjalin kerjasama. Korupsi berjamaah yang dilakukan bertahun-tahun di PDAM itu harus dibongkar. Setiap usai salat Jumat, Kapolda saya wawancarai tentang perkembangan kasus ini.

Tidak ada wartawan yang menulis. Hanya saya tok. Hanya Jawa Pos yang berani muat.

Hasilnya? Pemeriksaan kasus korupsi PDAM rampung. BAP-nya P-21 dan sudah masuk kejaksaan. Tinggal menunggu proses persidangan.

Namun, takdir menentukan lain. Tersangka utama Ir Husodo, selaku Dirut PDAM, keburu meninggal dunia sebelum sidang digelar.

Setelah itu, Dahlan memanggil saya. Dia minta saya kembali ke Malaysia untuk menjadi perwakilan Jawa Pos. Untuk kali kedua ke Negeri Jiran itu.

Tugas di Malaysia, selain menjadi perwakilan Jawa Pos, sekaligus mengurus perizinan pengembangan cetak jarak jauh di Kuala Lumpur. 

“Coba Anda jajaki. Siapa tahu kita bisa cetak (Jawa Pos) di Kuala Lumpur. Atau bikin koran di sana,” perintah Dahlan waktu itu. Saya berangkat dengan membawa secarik surat jawaban kepada pihak sponsor di Malaysia, yang akan menjadi penjamin bisnis dengan Jawa Pos.

Kebetulan saat itu, Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim ditangkap polisi Malaysia atas tuduhan sodomi. Momentumnya pas. Saya kembali berkibar. Berita dari Malaysia heboh lagi. 

Saya bekerja maksimal, lantaran tidak  membawa keluarga, seperti yang saya lakukan pertama kali tugas di Kuala Lumpur tahun 1991. Keluarga baru menyusul sejurus setelah urusan visa kerja selesai. 

CIPTAKAN PROGRAM POJOK KAMPUNG

Hanya dua tahun kami tinggal d Kuala Lumpur. Setelah itu ditarik kembali ke Surabaya. Kembali ke Kompartemen  Olahraga. 

Setelah balik kandang, dua tahun kemudian dimutasi lagi ke Jawa Pos TV (JTV). Pak Dahlan sendiri yang minta langsung. “Muis, Anda kan punya pengalaman di ANTV. Tolong dibantu Arif ya. Masak JTV program beritanya begitu-begitu aja,” perintahnya.

Arif yang dimaksud Dahlan adalah Arif Afandi. Saat itu menjabat Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Dia masuk menggantikan Dhimam Abror yang digeser menjadi salah satu Direktur Jawa Pos Radar Timur (JPRT). Bersama Ali Murtadlo dan Wijoyo Hartono.

Arif meminta saya membantunya sebagai Eksekutif  Produser News. Dia sendiri menjabat Direktur News  JTV. 

Sebelum berkiprah di JTV, saya diberi hadiah meliput Piala Dunia Korea-Jepang 2002. Keren!

Inilah liputan agung yang saya impikan. Meliput Piala Dunia sama dengan “hajinya” wartawan olahraga. Sepulang dari Korea-Jepang saya langsung gabung JTV. 

Awal program pemberitaan yang dimiliki JTV saat itu hanya Rolling News. Dahlan tidak tertarik dengan nama program tersebut. Terlalu kemlondo. Keinggris-inggrisan. 

Dahlan ingin yang out of the box!

Saya pun memutar otak. Berita kriminal dengan nama program: Borgol, tak menggugah simpatinya. Dahlan tetap “membisu”. Tak pernah mengajak saya ngobrol lagi.

Saya penasaran, pusing juga. Mau marah tidak bisa. Nah, pas dia bercengkerama dengan Imawan Mashuri (Dirut JTV) dan Arif Afandi di meja sekretaris redaksi, Oemiyati, saya pun action.

Saya ambil selembar halaman kriminal Jawa Pos. Saya baca keras-keras agar ketiga orang itu dengar. Tapi saya tidak membacanya dengan bahasa umumnya: Indonesia.

Berita kriminal itu saya terjemahkan dalam bahasa Suroboyoan. “Jancuk, bapak ngencuk anak’e sampek meteng telung ulan,” kata saya hingga mengejutkan Dahlan. 

“Eh… lucu iki, lucu iki ha.. ha..ha. Anda tadi baca berita di Koran itu ya,” timpalnya.

hendraal.jpgHendraal (baju biru) di acara reuni di Cafe J Jalan Karah, milik Cak Jarwo, 13 Oktober 2019. (FOTO: Cowas JP)

Dahlan kemudian minta saya menerjemahkan lagi berita lain. Saya pun memilih berita kriminal lainnya, karena menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa Suroboyoan.

Gayung bersambut. Dahlan tertarik. Ia minta Imawan menyeriusi Program Boso Suroboyoan di JTV. Arif juga sepakat. Maka saya pun mengumpulkan dua eksekutif produser lainnya: Nanang Purwono dan Sentot Nurahman.

Bersama Nanang, Program Pojok Kampung itu terwujud. Presenter pertama yang kami rekrut adalah Festin Rochrih. Cewek kece yang pernah menjuarai Cak dan Ning Suroboyo.

Selain Pojok Kampung, selama lima tahun berkiprah di JTV, saya bersama Arif Afandi berhasil melahirkan Program Olahraga Pojok Arena. Sempat dua kali live laga Persebaya di Bantul dan Lamongan. 

Juga Program Pojok-pojok lainnya. Ada Pojok Perkoro, Pojok Ngalam. Hanya Pojok Pitu dan Pojok Kampung yang masih bertahan hingga kini.

Eksistensi program Pojok Kampung dan Pojok Pitu itulah sampai kini masih menjadi salah satu program yang menghasil uang. Konon dari program Pojok Kampung, omset iklannya luar biasa. 

Pojok Kampung juga menjadi Iconnya JTV. Mahesa Samola mengakui itu. Setap kali bertemu saya. 

Putra mahkota Eric Samola ini tidak pernah melupakan sejarah. Dia kini menjadi pewaris ayahnya sebagai salah satu pemegang saham Jawa Pos. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda