Trend Agnostisisme dan Ateisme

COWASJP.COM – Suami isteri itu mendaftar umroh bimbingan saya. Sebanyak empat orang. Sang suami seorang pengusaha. Sang isteri pejabat di sebuah perusahaan Farmasi. Mereka mengajak kedua anaknya yang sudah lulus kuliah.

Anak yang pertama perempuan, lulusan universitas di Belanda. Bekerja di sebuah perusahaan multinasional. Anak kedua laki-laki, lulusan perguruan tinggi terkemuka di Surabaya. Belum bekerja. Keduanya, belum menikah.

Orang tuanya sedang gundah gulana. Karena, kedua anaknya tak lagi beribadah. Dulu rajin salat, sekarang tidak lagi. Salat Jum’at pun telah ditinggalkannya. Apalagi puasa. Dan ibadah sunah lainnya. 

Kakak adik itu, sesungguhnya juga sedang gundah gulana. Tak menemukan kedamaian dalam beragama. Ibadahnya serasa hampa. Tak tahu untuk apa. Dan, untuk siapa. Seringkali, sekadar memenuhi kewajiban belaka. Tak ada jiwanya. Tak ada ruhnya.

Sampai akhirnya, mereka memutuskan untuk tidak lagi beribadah. Dan mencari kedamaian dengan caranya sendiri. Berkumpul sesama anak muda, yang juga sedang mencari jati diri. Melakukan kajian-kajian, yang sesuai dengan keinginan hati. Yang logis. Yang rasional. Dan masuk akal. Khas anak-anak muda.

Orang tuanya tahu. Tapi, tak bisa menasehati. Selalu kalah adu argumentasi. Kenapa harus menjalani ibadah. Mereka tak mengerti. Meskipun, sudah bertahun-tahun menjalaninya. Bahkan, sudah hafal di luar kepala. Ya, di luar kepala. Bukan di dalam kepala. Apalagi, menghayati di dalam hati. Hambar. Hampa.

Ada kerinduan, katanya. Tetapi, entah kepada siapa. Mereka tak menemukan jawabannya. Jiwanya terus bergolak. Memberontak. Mencari jalan pelampiasan, yang melegakan jiwa.

Orang tuanya mulai khawatir, anak-anaknya bakal terbawa oleh trend anak-anak muda yang agnostic dan ateis. Yang kini menjadi komunitas pergaulannya. Agnostic adalah ketidakpedulian pada keberadaan Tuhan. Sedangkan ateisme adalah ketidakpercayaan adanya Tuhan. 

Akhirnya, kami berangkat umrah. Sebanyak 2 bus. Dari berbagai kota di Indonesia. Keberangkatan dari Jakarta dan Surabaya. Bertemu di Madinah. Untuk manasik selama 3 hari. Agar mantab dalam beribadah umrah ke tanah suci Mekah.

Di Madinah, saya mulai melakukan diskusi. Sang kakak adalah gadis pintar yang kritis. Dan, to the point dalam berdiskusi. Khas pemikiran Eropa. Sedangkan sang adik, blak-blakan gaya Suroboyoan. Keduanya mengungkapkan isi hatinya. Curhat.

Di Kota Nabi itu, ketepatan saya sedang memberikan materi ketauhidan kepada semua jamaah. Tiga sesi yang padat. Durasi 2-3 jam. Dilanjutkan tanya jawab. Itulah kesempatan saya, menyuntikkan pondasi keagamaan kepada mereka. Tentang eksistensi Tuhan. Dan cara merasakan kehadiran-Nya. Melalui dzikir yang ilmiah. Dan terukur. Yang di dalam Al Qur’an, disebut sebagai pendekatan "Ulul Albab". Yakni, dzikirnya orang-orang yang berakal. Bukan dogma yang didoktrinkan.

“Yaitu, orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring, sambil terus berpikir ilmiah tentang penciptaan langit dan Bumi…” (QS. 3:191). 

Kajian ini mengguncangkan hati kakak beradik yang sedang galau. Memancing mereka, memberondongkan pertanyaan tauhid yang lebih mendalam. Dalam diskusi-diskusi selanjutnya.

Hari keempat, kami meluncur ke tanah suci Mekah. Menunaikan ibadah umrah. Berbekal ketauhidan yang kami bahas di Madinah. Ingin merasakan kehadiran Allah, dalam seluruh horizon kesadaran. Bahwa, Dia senantiasa hadir bersama hamba-hamba yang merindukan-Nya.

Usai umrah, kami memiliki empat sesi diskusi. Di kota Mekah. Temanya: “memaknai kehidupan”, “memahami kematian”,  dan “pemantapan ketauhidan”. Serta di hari terakhir “sharing pengalaman”, di mana setiap jamaah diberi kesempatan untuk testimoni.

Surprise, kakak beradik itu mengambil kesempatan awal. Memberikan testimoni. Sambil berurai air mata. Mereka menceritakan masalahnya. Begitu terbuka, kepada semua jamaah. Tentang kegalauannya. Tentang kehampaannya dalam beragama. Tentang pemberontakan sekaligus kerinduannya, kepada sesuatu yang menentramkan jiwanya.

Dan yang mengharukan, mereka kemudian menyatakan telah menemukan spirit agamanya lagi. Melalui perjalanan umrah ini. Merasa seperti terlahir kembali sebagai muslim. Yang membuat mereka bersujud. Bersyukur di tengah-tengah para jamaah yang terperangah, mendengar cerita mereka. 

Sayapun menoleh. Menatap kedua orang tuanya. Yang tersenyum bahagia. Sambil berurai air mata. Anak yang hilang telah kembali ke pangkuan. Subhanallah wal hamdulillah walaa ilaha illallahu allahu akbar ..!  (Dimuat di harian DisWay, Jum'at 24 Juli 2020)

 

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda