Paceklik Komunikasi,

#SaveJawaPos

Foto kenangan: tiga mantan pemain klub sepakbola Mitra Surabaya yang direkrut Jawa Pos. Dari kiri, Agus Sarianto, Eko Prayogo (almarhum), Abdillah Muchsin.(FOTO: Jawa Pos)

COWASJP.COM – Entah mengapa, sejak menayangkan berita: Jawa Pos "Keropos", ada saja narasumber yang menghubungi wartawan Cowasjp.com.

Selasa 21 Juli 2020 siang ada beberapa anggota Serikat Pekerja Jawa Pos bertemu di suatu tempat. Mereka tidak ikut pertemuan yang di Warkop Ojo Gelo, tak jauh dari Graha Pena Surabaya. Mungkin bagi-bagi tugas.

Ada empat orang, sebut saja namanya A, B, C, dan D.

Setelah saling menanyakan kabar dan membuka pembicaraan seperti lazimnya, A kemudian menjelaskan kenapa sekarang ada SP (Serikat Pekerja) di Jawa Pos.

"Belum pernah ada SP dalam sejarah Jawa Pos sebelumnya. Ini gegara paceklik komunikasi. Tidak ada lagi dialog yang harmonis karyawan dan direksi. Banyak ide dan gagasan untuk mempertangguh atau empowering konten Jawa Pos dari redaksi. Tapi selalu dimentahkan. Tidak dianggap. Komunikasi buntu...tu," papar A.

BACA JUGA: Jawa Pos "Keropos", RUPS segera Digelar

Oo begitu ya masalahnya.

"Kita ajukan ide Privelege Jawa Pos untuk memberi penghargaan kepada pelanggan misalnya. Gak digubris," timpal B.

"Kita ingin paling tidak sekali saja dalam seminggu ada berita investigasi yang mengejutkan. Yang jurnalistik banget. Yang tidak ada di koran lain dan ratusan media online. Minimum 10 hari sekali saja. Pembaca pasti masih butuh membaca JP. Perlu ada dua atau tiga wartawan komando yang berkelas untuk itu. Tapi gak direken (tidak dihiraukan)," sahut C.

La lantas apa extra drive (perjuangan ekstra) dan inovasi yang diinginkan direksi?

"Pak Leak Kustiya (Dirut JP Koran) bilang begini. Sekarang ini ya, koran sudah bukan koran informasi lagi. Tapi koran promosi!"

BACA JUGA: Jawa Pos “Keropos”‚Äč

Lo koq martabat koran JP dibanting harga seperti itu?

Apakah maksudnya, hari ini misalnya koran JP jadi JP Samsung. Besok jadi JP Toyota. Lusa jadi JP Gudang Garam. Besoknya lagi jadi JP Destinasi Wisata. Dan entah apa lagi?

"La ini yang kami tidak tahu. Dan Pak Leak tidak bisa mencontohkan dengan baik dan gamblang kepada kami," aku D.

La lalu berita-berita kota, politik, sosial, budaya, pemerintahan di mana wadahnya?

"Ya nggak tahu. Malah beliau bilang kalau toh nanti banyak wartawan yang pensiun dini atau pergi, Jawa Pos cukup diisi berita-berita dari kantor berita Antara," jawab B.

Lo lo lo. Iki koran gedhe, Rek! Kita tetap menghargai Antara ya. Tapi kalau fungsi jurnalistik para wartawan dan redaktur dibunuh seperti itu, masya Allah. Cik nemene (terla...lu).

"Ya mungkin karena beliau tidak punya basis jurnalistik yang kuat. Bukan wartawan. Tidak pernah menghayati perjuangan wartawan-wartawan era Kembang Jepun dan Karah," tutur A. 

Kalau jiwa dan spirit jurnalisme arek-arek dibonzai seperti ini, mau dibawa ke mana Jawa Pos

"Pak, ada suara-suara yang mengatakan Cowasjp.com disuruh dan dibayar Pak Dahlan untuk menggempur Jawa Pos dengan berita-berita terakhir ini. Bener nggak," tanya C. 

Itu tudingan ngawur. Tudingan fitnah dan adu domba. Mantan wartawan JP melihat kondisi JP seperti sekarang, sangat sediih. Tanyakan kepada semua anggota Perkumpulan Mantan Karyawan Jawa Pos Group. Yang disingkat Cowas JP. Semuanya sedih. Kami yang dulu berjuang mati-matian membesarkan Jawa Pos Koran tidak rela Jawa Pos keropos. 

Kami hanya didorong niat dan tekad #SaveJawaPos. Kami independen. Tidak ada seorang pun yang mempengaruhi kami untuk membuat rangkaian berita tentang Jawa Pos. 

Ayo, apakah kami pernah membuat berita yang aneh-aneh tentang mantan Almamater kami? 

"Tidak," tandas C. 

Kami tidak rela Jawa Pos tenggelam oleh badai Covid-19. 

"Sama dengan kami, Pak," kata B. 

Ya itulah. Kita seiring sejalan. Ayo kita cari solusinya bersama-sama. Terbuka dan penuh persaudaraan. Jangan seperti tuan besar dan pembantu, cara pendekatannya. Seperti suasana tahun 1990-an dan dekade pertama abad 21 lah. 

"Iya ya. Kalau begitu kan enak. Sekarang ini suasananya galau. Under pressure. Tak menentu. Kita ini masih bisa bekerja atau minggu depan disuruh pensiun dini. Karyawan dijapri via WA. Kalau Anda nggak segera tanda tangan, maka pajak pesangon Anda yang bayar. Haduh diteror seperti itu apa karyawan yang lain nggak ketir-ketir. Wis ngene ae lo Rek. Ayo bersatu: #SaveJawaPos!!! (*)

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda