Harian DI’s Way Terbit Kala Jawa Pos Guncang

COWASJP.COM – Beberapa minggu ini, Cowaser (Konco Lawas Jawa Pos) – perkumpulan para mantan pekerja Jawa Pos Group , heboh dengan terbitnya Harian DI's Way. 

Belum reda dengan kontroversi yang dibuat oleh “Sang Begawan Media” Dahlan Iskan tersebut, tiba tiba muncul berita tentang Jawa Pos yang cukup menggegerkan. Jawa Pos bagai terkena pukulan upper cut yang telak. 

BACA JUGA: Jawa Pos “Keropos”

Ruang kerja Koran Jawa Pos yang semula 2 lantai menjadi 1 lantai.  Kini di lantai 4 Graha Pena Surabaya redaksi dan nonredaksi berkumpul jadi satu.  

Baru kali ini terjadi. Redaksi dan nonredaksi bercampur baur dalam satu lantai. Sejak JP berdiri 1949, sampai di-take over MBM Tempo pada 1982 di Kembang Jepun, sampai era Karah, baru kali ini nonredaksi dan redaksi campur satu ruangan. Tanda-tanda alam apakah gerangan ini?

Disusul dengan penawaran karyawannya untuk  pansiun dini. (baca: Cowasjp.com: Jawa Pos “Keropos” yang ditulis Cak Amu).

Memang tak dapat dipungkiri bahwa gegara pandemi Covid-19, semua sisi kehidupan terpukul.  Termasuk media cetak, karena tak banyak iklan yang masuk. Hampir semua perusahaan yang terbiasa memasang iklan mengurangi, bahkan menghentikan pemasangan iklan. Kurang  berdampak, begitu anggapannya.  

Jika pemasukan iklan sebagai penadapatan utama bisnis Koran menurun drastis, maka dampaknya akan langsung terasa.  Belum lagi, sumber berita yang sulit ditemui, bahkan wartawan pun harus ekstra hati-hati agar tak tertular virus.  

Efisiensi dan segala rupa tindakan dilakukan untuk menyelamatkan kapal besar Jawa Pos. Termasuk pengurangan karyawan. Benarkah demikian?

Padahal baru 3-4 bulan merasakan gempuran Covid-19. Begitu lemahkah fondasi Jawa Pos yang disebut-sebut sebagai Imperium Media Cetak paling moncer di Indonesia?  Apakah orang-orang yang mengurus media cetak Jawa Pos malas berpikir, kehabisan akal, masa bodoh dengan keadaan Jawa Pos atau sebab lain.   

masnyur.jpgFoto kenangan di kediaman mantan Bupati Wonosobo, Kholiq Arif (paling kiri), Ny Mansyur Effendi dan Mansyur Effendi, 26 Maret 2018. (FOTO: Cowas JP)

Padahal, dalam kurun setahun ini tak ada berita Jawa Pos mengalami kesulitan dengan situasi media cetak yang mulai tergerus zaman.  Tahu-tahu setelah Covid-19 melanda, ikut kalang kabut, tergopoh-gopoh menghadapi situasi yang memang berat ini. Tak tahu harus berbuat apa? Dan, tindakan frontal rupanya jadi  pilihan terakhir, tak ada tahapan sebelumnya.  Tragis.

Tahun 2011 an, saat pertama kali para pensiunan Jawa Pos berkumpul di rumah kontrakan saya di Gresik, kami sempat membicarakan kondisi Jawa Pos (mantan “almamaternya”).

Kecintaan para pensiunan kepada Jawa Pos masih sangat kuat. 

Waktu itu berkembang dalam obrolan kami, bahwa dalam kondisi normal akan sulit mengalahkan/menumbangkan  Jawa Pos. Bahkan dalam kurun waktu 5 tahun ke depan Jawa Pos akan berjalan tanpa perlawanan.  

Pembicaraan tersebut wajar-wajar saja sebagai pensiunan. Mengamati perkembangan Jawa Pos setelah mereka pensiun. Tapi, ada juga yang meragukan keandalan manajemen Jawa Pos. Mereka sepertinya senada: jika model pengelolaannya seperti itu, Jawa Pos lambat laun pasti akan melemah.

Tak tahu mengapa saya yang dipilih sebagai tuan rumah oleh para rekan Jawa Pos. Padahal  Jawa Pos sudah  saya tinggalkan puluhan tahun lalu (pada 1986).  

“Dirumahmu saja ya B, di Gresik.” kata almarhum Ko Hin lewat telepon, panggilan akrab mantan Pemred Jawa Pos Solihin Hidayat.  B adalah sapaan akrab saya di kalangan Jawa Pos.

“Karena rekan yang lain pada tidak mau menjadi tuan rumah.  ya di rumahmu saja ya. Lebih netral Mbang, halamannya kan luas,” kata almarhum Mochammad Siradj, pada kasempatan lain lewat telepon juga. 

“Tak apa kalau memang begitu, ingat rumah kontrakan lo. Parkiran cukup untuk 100 mobil,” gurau saya.   

Saat itu Dahlan Iskan masih menjadi Dirut PLN, menjelang menjadi menteri BUMN. Sepertinya mereka ada sesuatu yang membuat mereka enggan ketempatan, tapi pingin bertemu.  Saya tak tahu itu, tapi yang jelas Ko Hin menyampaikan, “Bos, monitor kegiatan kita rupanya. Saya disuruh mengawasi.” 

“Halllah … kita kita ini mau apa. Wong sekadar kumpul-kumpul dan melepas kangen,” kata yang lain.

Akhirnya saya gaet Mas Suharno, bekas wartawan Jawa Pos yang berdomisili di Gresik untuk membantu saya jadi tuan rumah.  Saya terkejut dengan semangat dan seriusnya rekan mantan Jawa Pos untuk berkumpul. 

Hal ini dibuktikan dengan koordinasi yang intens dengan Mas Slamet Oerip Prihadi (Suhu), yang wira wiri dari Tropodo Indah, Sidoarjo, ke kantor saya di Gresik. Menurut saya jauhnya gak ketulungan, pakai sepeda motor lagi. Luar biasa semangatnya. Demi terlaksananya acara kumpul para mantan Jawa Pos, waktu itu sekitar 34 orang yang datang.

Dari pembicaraan yang dominan tentang Jawa Pos, memang ada nada-nada tidak happy dengan cara Jawa Pos memensiunkan mereka. Saya pun yang pernah menjadi Kepala Bagian Sumber Daya Manusia/HRD perusahaan saya (PT Petrokimia), merasa kaget dengen cara Jawa Pos tersebut. 

berto.jpgCowasers silaturahmi di kediaman mantan Bupati Wonosobo Kholiq Arif, 27 Maret 2018. (FOTO: Cowas JP)

“Itu tak baik dan sadis,” itu saja komentar dalam pikiran saya.  Pada pertemuan tersebut, mulai ada ajakan menghibur diri  untuk melupakan masa yang lalu di Jawa Pos dan merintis kehidupan masa depan yang harus dihadapi.   

Biarkan Jawa Pos berjalan dengan sendirinya dan  melupakan mereka, akhirnya salah satu cara untuk menghibur diri di masa pensiun dengan bergotong royong. Maka, reuni pertama sambil nglencer diadakan ke kota Wonosobo sambil wisata, ketika Kholiq Arief menjadi bupatinya.   

Menyewa Bus Pariwisata, dua malam, gratis (karena ada sponsornya) jalan-jalan ke tempat wisata di Pegunungan Dieng.

Prediksi dari para mantan Jawa Pos tersebut mulai menunjukkan kebenaran. Entah karena apa atau memang sudah waktunya, perkembangan Jawa Pos pada 5 tahun terakhir semakin menurun. Baik pendapatan dan keuntungannya.

Sepertinya, sebagai  bekas wartawan, mereka mengikuti terus perkembangan Jawa Pos. Mulai isi berita, oplah, pendapatan, dan keuntungan perusahaan, selalu mendapat informasi dari orang dalam.  

“Dari tahun ke tahun turun terus keuntungannya. Orangnya kurang kreatif dan seterusnya.” Biasa begitulah mereka berkomentar di grup WA.

Kalau alasan pandemi Covid-19 sebagai biang penurunan performa Jawa Pos, bisa iya, bisa tidak.  Buktinya harian DI's Way malah terbit pada masa pendemi. Atau jangan-jangan Dahlan Iskan sudah memperkirakan Jawa Pos sedang bermasalah, sehingga dia berani melajukan gagasannya dengan segera. Terlihat  terburu-buru.  Agar tidak terkesan Harian DI's Way  terbit setelah ketahuan Jawa Pos mulai terombang ambing, segeralah diluncurkan Hardis (Harian DI's Way).

Padahal, sebagai bekas CEO Jawa Pos, Dahlan Iskan pasti tahu persis kondisi Jawa Pos saat ini.  Sehingga beliau bisa mengambil waktu yang tepat. Yaitu saat Jawa Pos pasti akan bermasalah. Tinggal tunggu waktu saja.   

Ternyata, belum sebulan Hardis terbit, Jawa Pos sudah terendus bermasalah dan “meledak”. 

Senangkah Dahlan Iskan dengan kondisi Jawa Pos saat ini?  Saya akan mengangkat bahu bila ditanya masalah ini. Kalau Hardis punya nafas panjang, bukan tidak mungkin bisa menggantikan “posisi” Jawa Pos. Meskipun sepertinya, berita Hardis berbeda dan tidak berkompetisi dengan Jawa Pos.

Tantangan tersendiri bagi manajemen Jawa Pos saat ini, menghadapi guncangan yang sangat tiba-tiba. Mesti merekonstruksi semua unit untuk lebih gesit bermanuver,   

Apakah sebelumnya sudah terlalu gemuk? Bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada, menjadi tantangan tersendiri.  

Masalahnya mereka terlihat tidak mempersiapkan diri dengan banyak skenario. Seperti langkah bermain catur dengan berbagai kemungkinan.

Torpedo telah diluncurkan dan mengenai sasaran. Makanya dalam satu hari tulisan: Jawa Pos “Keropos” menarik lebih dari 130.000 pembaca di Cowasjp.com.   

Saya yakin manajemen dan semua kru di Kapal Jawa Pos panas dingin dengan situasi seperti ini. Manajemen yang tak pernah menghadapi gelombang besar akan merasakannya sebagai pengalaman menegangkan.    

Nama baik nakhoda dan awak kapal Jawa Pos akan jatuh berkeping-keeping, bila Jawa Pos tidak segera berbenah diri. Tanpa keriuhan.

Ramalan dan keluhan mantan Jawa Pos doeloe saat berkumpul di Gresik, rupanya akan semakin terang dan menjadi kenyataan. Tapi tidak ada yang bergembira dengan balada Jawa Pos saat  ini.  

“Wah jangan matilah Jawa Pos. Jawa Pos adalah kenangan tak terlupakan. Di situlah saya pertama kali menempa diri menjadi wartawan. Semangat kerjanya, militansinya, kecepatan mengambil keputusannya, semuanya sangat berharga bagi saya.”  

Saya yakin, seluruh pensiunan Jawa Pos Group sangat sedih jika kapal besar Jawa Pos “tenggelam” tertimpa badai dahsyat.

Semoga problem Jawa Pos terselesaikan dengan happy oleh semua stakeholder Jawa Pos. Aamiin YRA. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda