Agama di Mata Generasi Milenial

COWASJP.COM – Seorang kawan menelepon saya dari Jakarta. Ingin bertamu ke rumah saya, di Surabaya. Sambil membawa anaknya yang mahasiswi Australia. Yang sedang liburan, di Indonesia.

Kawan saya itu pejabat Bank Sentral. Pembaca setia buku-buku Diskusi Tasawuf Modern yang saya tulis. Puluhan buku yang sudah dibacanya. Setiap kali terbit, tak pernah terlewatkan. Belasan tahun terakhir. 

Dia pembaca yang intens. Dan, tak jarang mengundang saya ke kantornya untuk memberikan kajian. Kepada ratusan karyawan.

Tiba-tiba ia ingin berkunjung ke Surabaya. Mengajak anaknya. Ingin diskusi soal agama, katanya. Tentang berbagai fenomena yang dialami anaknya, saat berkuliah di Australia. Yang sedang mengalami gegar budaya: liberal dalam beragama.

Masalahnya, sejak kecil sampai SMA, si anak belajar di sekolah Islam. Berada di dalam lingkungan pendidikan agamis yang intens. Tapi, ketika berkuliah di Australia, suasananya kontras berbeda. Sangat liberal. Bukan cuma bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama. Melainkan juga dengan banyak mahasiswa tak beragama. Setidak-tidaknya, tak peduli dengan agama.

Sering terjadi diskusi seru. Karena, mereka suka memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Secara dogma. Mereka ingin jawaban yang logis dan rasional. Bukan dogmatis. Apakah benar Tuhan itu ada? Kenapa ada banyak agama? Apakah perlu menganut agama? Apakah tidak cukup asal berbuat baik kepada sesama? Dan lain sebagainya.

Tentu saja, anak gadis kawan saya itu kelabakan menjawabnya. Karena, tidak pernah bersentuhan dengan pertanyaan semacam itu. Sampai-sampai orang tuanya khawatir, ia akan terpengaruh menjadi liberal pula. Apalagi, sang bapak pun tak mampu menjawab secara memuaskan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Itulah sebabnya ia ingin mempertemukan anaknya dengan saya. Karena, ia tahu bahwa saya telah menulis empat buah buku tentang ateisme. Yakni, “Ateisme vs Tasawuf Modern”, “Ketika Ateis Bertanya tentang Ruh”, “Sang Ateis pun Menerima KonsepTakdir”, dan “Ibrahim Pernah Ateis”.

Di mana buku-buku itu saya tulis bersumber dari perdebatan saya dengan seorang Doktor Biomolekuler yang menjadi dosen di Australia. Selama berbulan-bulan. Di laman Facebook saya. Tambahan pula, ia juga tahu bahwa anak-anak saya juga alumni Australia. Dan mengalami masalah yang sama dengan anak gadisnya: gegar agama.

Usai maghrib, kawan saya datang di rumah saya bersama anaknya. Seorang gadis yang cerdas dan lugas. Selalu rangking atas di sekolahnya. Aktivis. Dan, kritis dalam berdiskusi. Termasuk saat berkuliah di Australia, ia ditunjuk mewakili kampus untuk berbagai kegiatan ilmiah.

Masalah utama yang dilontarkan kepada saya adalah: apakah boleh beragama dengan menggunakan logika dan rasionalitas. Apakah tidak cukup: memercayai dan beriman saja. Bukankah agama adalah kepercayaan dan keimanan, yang mesti dianut tanpa perlu dipertanyakan?

Maka, diskusipun berlangsung seru selama lebih dari 3 jam. Sayang, jika terlalu singkat. Karena, ia tinggal jauh, di Jakarta. Dan, tak lama kemudian harus kembali ke Australia. Saya tunjukkan kepadanya, bahwa justru Islam adalah agama yang sangat menghargai akal.

Sejak awal, syarat memeluk Islam adalah aqil baligh. Alias, sudah “sampai akalnya”. Siapa saja yang belum sampai akalnya, atau apalagi tidak berakal, tidak dikenai kewajiban beragama.

Selain itu, dengan sangat tegas, Al Qur’an memerintahkan penganut Islam untuk menggunakan akal sehat dalam beragama. Wama yadzakkaru illa ulul albab – “Dan tidak bisa mengambil pelajaran dari dalam Al Qur’an kecuali orang-orang yang berakal” (QS. 3:7). Atau, di ayat yang lain, Allah berfirman Wayaj’alurrijsa ‘alalladzina laa ya’qilun – “Dan Allah marah besar kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (dalam beragama)”. (QS. 10:100).

Maka, legalah kawan saya dan anak gadisnya. Bahwa, ternyata Islam membolehkan, dan bahkan menganjurkan agar kita menggunakan akal sehat dalam beragama. Bukan dogma. Apalagi doktrin. Tentu saja. Karena, agama ini memang diperuntukkan bagi makhluk yang berakal. Yang tidak berakal, tidak usah beragama. Tidak apa-apa …(*) 

Catatan: Penulis juga Alumni Teknik Nuklir UGM.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda