Arab Saudi Pasar Terbuka Produk Makanan Indonesia

Konjen RI di Jeddah Eko Hartono saat membuka Webinar Internasional yang mempertemukan para pengusaha Indonesia dengan pengusaha Arab Saudi.

COWASJP.COM – Konsulat Jenderal RI di Jeddah kembali mempertemukan pengusaha Indonesia dengan Arab Saudi. Kali ini melalui dunia maya dengan menggelar webinar. Webinar Internasional ini bertema “Enhancing Indonesian Food Export to Arab Saudi,” digelar pada 15 Juli 2020.

Webinar diikuti oleh 252 peserta dan disiarkan secara langsung melalui saluran YouTube KJRI Jeddah. Hadir sebagai keynote speaker adalah Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan Dr. Kasan Muhri. Tampil sebagai narasumber regulator pangan dan obat dari kedua negara yakni Badan Pengendalian Obat dan Makanan (BPOM) dan Saudi Food and Drugs and Authority (SFDA), serta wakil pengusaha Arab Saudi dan Kadin Jeddah.

Kasan Muhri menjelaskan kondisi perdagangan Indonesia terkini serta peluang dagang yang terbuka lebar bagi eksportir Indonesia yang ingin melebarkan usahanya ke wilayah Timur Tengah. Menurutnya, Arab Saudi merupakan salah satu pintu masuk bagi produk Indonesia yang ingin menjajagi pasar teluk.

Arab Saudi adalah captive market yang perlu diperhatikan bagi pengusaha di Indonesia,”

“Dengan jumlah penduduk lebih dari 30 juta jiwa, serta kunjungan jemaah haji dan umrah yang hampir pasti setiap tahunnya sebesar lebih dari 10 juta kunjungan, Arab Saudi adalah captive market yang perlu diperhatikan bagi pengusaha di Indonesia,” papar Kasan Muhri.

Lebih lanjut, Kasan Muhri mengatakan, konsumsi masyarakat Arab Saudi yang cukup tinggi menjadikannya sebagai salah satu pasar yang menjanjikan bagi berbagai produk makanan dari Indonesia.  

Konsul Jenderal RI Jeddah Eko  Hartono dalam sambutan pembukaan webinar berharap kegiatan ini tidak sekadar menambah wawasan pengusaha mengenai peluang serta regulasi dagang di Arab Saudi, namun juga menjadi jembatan bagi pengusaha untuk menjajagi kesepakatan yang konkrit.

Konjen Eko juga  mendorong pelaku usaha di Indonesia untuk aktif mencari peluang pasar ekspor dengan terus melakukan kontak dengan perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk di Arab Saudi.

Wakil BPOM dan SFDA memaparkan regulasi impor makanan di Arab Saudi yang saat ini mengalami perubahan yang dinamis. “Setiap perusahaan makanan, utamanya yang terkait ayam, daging, dan ikan, perlu mendaftarkan diri dan melakukan self-assessment, serta berkoordinasi dengan BPOM sebagai pihak yang kompeten dan sudah bekerja sama dengan SFDA,” ungkap perwakilan BPOM.

Atase Perdagangan KBRI Riyadh menyampaikan bahwa dinamika perubahan aturan tersebut merupakan tantangan positif bagi pengusaha di Indonesia. Sekiranya pengusaha Indonesia bisa menembus pasar Saudi, maka dipastikan akan lebih mudah melakukan penetrasi ke negara-negara tetangga lainnya di kawasan.

Kegiatan yang berlangsung selama lebih dua jam melalui online tersebut turut mengundang pemilik perusahaan importir Saudi Arraqeeb, Mustafa Albayyumi dan anggota Kadin Jeddah, Ibrahim Alaqily. Kedua pembicara menyampaikan tips sukses untuk bisa masuk ke pasar Saudi serta tren pasar produk makanan di Saudi, seperti produk buah, sayuran, makanan olahan, dan ikan. Arraqeeb telah mendatangkan cukup banyak produk makanan dari Indonesia.

Webinar ini merupakan tindak lanjut dari permintaan KADIN Jeddah terkait daftar eksportir produk Indonesia utamanya buah dan sayuran yang siap untuk melakukan ekspor ke Arab Saudi beberapa waktu yang lalu. Kegiatan tersebut merupakan upaya perwakilan RI di Jeddah (ITPC Jeddah dan Fungsi Ekonomi) untuk terus mendorong ekspor produk Indonesia ke Arab Saudi di tengah kondisi pandemi saat ini.

Arab Saudi merupakan salah satu mitra dagang tradisional Indonesia, dengan produk kendaraan bermotor dan minyak kelapa sawit sebagai produk unggulan. Performa dagang Indonesia, utamanya ekspor nonmigas Arab Saudi, terus menunjukkan indikator positif dengan persentase kenaikan sebesar 0.5 persen untuk periode Januari – Mei 2020 dibanding periode yang sama tahun lalu.

Adapun neraca perdagangan kedua negara, meski Indonesia masih mengalami defisit dikarenakan impor minyak, menunjukkan tren positif sebesar 39 persen dari tahun lalu. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber : KJRI Jeddah

Komentar Anda