Orang-Orang Konstantinopel

Haga Sophia. (FOTO: travelingyuk.com)

COWASJP.COM – Di jalanan Konstantinopel -- Istanbul sekarang -- Turki, setiap orang adalah Al Fatih!

Girah dan semangat menegakkan supremasi  Islam, lebih tinggi dari menara Hagia Sophia, yang kini jadi perhatian dunia.

Siapa pun tahu, Hagia Sophia, adalah " puncak rapid test" untuk titik balik kejayaan  Islam.

Lewat Recep Tayyip Erdogan yang begitu berwibawa, berani, tapi juga dikenal rendah hati pada wanita dan anak-anak -- yang sangat dicintai rakyat Turki, dan kaum Muslim di penjuru dunia,  telah menghentikan status museum Hagia Sophia yang diberlakukan sejak 1934 lalu. Sejak penaklukan Konstantinopel.

Kini Hagia Sophia menjadi masjid, yang mengumandangkan adzan dengan merdu dan keras, seperti orang-orang Al Fatih.

Dan orang-orang di jalanan Konstantinopel -- Istanbul, sekarang -- adalah Al Fatih.

Hagia Sophia pernah menjadi masjid pada 1453, sejak penaklukan Konstantinopel, dan sekarang kembali sebagai masjid.

Ini mengingatkan kejayaan Islam saat itu, dari Bukhara di Uzbekistan hingga ke Andalusia di Spanyol. Maka Ayasofya (begitu rakyat Turki menyebut Hagia Sophia) dan Al Aqsa di Yerusalem dan Spanyol, adalah tiga hal yang pernah dikuasai Islam.

Di jalanan Konstantinopel -- Istanbul sekarang --  seperti Omar dan lainnya, mereka semua adalah Al Fatih.

Kita tahu, sejak Covid-19, Adzan sudah berkumandang di Spanyol, dan girah Islamiyah sudah menyebar dan disambut gegap gempita di penjuru Eropa.

Ayasofya pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya  berubah beberapa kali sejak berabad-abad, dan sekarang anak cucu  Bilal, dengan mudah bisa  naik ke menara dan mengumandangkan Adzan.

Hayya 'alalfalaah ..

Hayya 'alalfalaah ...

(Marilah menuju kemenangan .... Marilah menuju kemenangan ..)

Haga-Sophia1.jpgHaga Sophia. (FOTO: Facebook)

Kaisar Bizantium Constantius membangunan  Ayasofya pertama pada  360 M. Saat itu,  Istanbul masih dikenal sebagai Konstantinopel, mengambil namanya dari ayah Konstantius, Constantine I, penguasa pertama Kekaisaran Bizantium.

Lalu Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah), dipimpin Kaisar Fatih Sultan Mehmed -- yang dikenal sebagai Mehmed Sang Penakluk --  merebut Konstantinopel pada 1453, dan ia mengganti nama kota Konstantinopel menjadi Istanbul, hingga sekarang. Dan di jalanan Konstantinopel --  Istanbul, sekarang, --  setiap orang adalah Al Fatih.

Setelah delapan pekan dikepung, pasukan Turki Ottoman di bawah  Muhammad Al-Fatih ini  berhasil menaklukkan Konstantinopel. Pada 29 Mei 1453, ibu kota Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur itu jatuh, Konstantinus XI selaku raja pun terbunuh, dan lahirlah Istanbul.

Jatuhnya Konstantinopel sekaligus akhir Perang Salib yang panjang dan melelahkan, sejak 1096.

Dari Konstantinopel ke Istanbul

Konstantinopel memang istimewa. Letaknya strategis, menghubungkan Eropa dan Asia lewat darat. Menjadi titik utama Jalur Sutera, rute niaga utama yang menyatukan India, Cina, Timur Tengah, dengan Eropa. 

Istanbul berdiri di atas situs kota legenda Bizantium yang  sudah ada sejak  672 SM (Sebelum Masehi). Saat dikuasai Romawi, Istanbul atau Konstantinopel ini  dibangun Kaisar Konstantinus I pada sekitar 306-M dan ditetapkan sebagai ibukota Kekaisaran Romawi Timur, sejak 11 Mei 330-M.

Romawi menguasai Konstantinopel  lebih 14 abad.

Sejak ditaklukkan Al Fatih pada 1453, Konstantinopel diganti nama Istanbul, yang konon berasal dari kata “Islambol" (artinya “kekuatan  Islam"). Juga diartikan “Islambul" (atau artinya “menemukan Islam").

Nama Istanbul sebagai ibukota sejak Republik Turki dideklarasikan pada 29 Oktober 1923.

Dan Recep Tayyip Erdogan, tak hanya membawa kembali kejayaan Islam. Ia telah memimpin rakyatnya, di jalanan Konstantinopel -- Istanbul sekarang --, dan begitu girah dan gegap gempita rakyat mengembalikan supremasi Islam, hingga tiap orang pun seperti  Al Fatih.

Tiap orang pun seperti  Al Fatih.

"Tiadakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah" (2:107). (*)

Penulis: Damarhuda, Wartawan Senior di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda