Wali Paidi Episode 16

Lafadz Allah Ada di Dinding, di Lantai, di Seluruh Penjuru Bumi

COWASJP.COM – Sehabis sholat Magrib Wali Paidi langsung menuju Jalan Soekarno-Hatta. Sehabis melewati jembatan, Wali Paidi belok ke kiri. Setelah berjalan kira-kira 1 kilometer Wali Paidi melihat habib yang dicarinya. Habib yang dikiranya tukang becak. 

Wali Paidi melihat habib tersebut memasuki sebuat toko distro. Wali Paidi mengarahkan sepedanya ke kanan, tertampang tulisan di depan toko: "MORKL"outlet.

Wali Paidi celingak-celinguk (menoleh ke kanan dan ke kiri) di depan toko. Mencari habib yang lari ke situ. 

"Mungkin aku salah lihat, kok gak ada di sini?" bathin Wali Paidi.

Tak lama kemudian keluar pemuda jangkung dengan perawakan agak kurus menghampirinya.

"Kang katanya mondok, kok keluyuran sampai ke sini?" kata pemuda itu.

"Wah...wah... Mas Sakti toh, kok bisa di sini Mas?" Wali Paidi kaget dan balik bertanya.

Ternyata Wali Paidi mengenal pemuda jangkung ini. Dialah Mas Sakti yang oleh Wali Paidi sudah dianggap sebagai kakak tuanya. Walau umur Mas Sakti ini di bawah umur Wali Paidi.

Setelah saling mengolok-olok, Mas Sakti mengajak masuk ke dalam toko. 

"Ayo ngopi di atas aja Kang," ajak Mas Sakti dengan menaiki tangga menuju ke atas toko. Wali Paidi dan Mas Sakti melanjutkan obrolannya sambil ngopi.

Kadang keduanya tertawa lepas, dan kadang di sela-sela obrolan mereka berdua bilang : Amin....Amin.

Wali Paidi menyelonjorkan (meluruskan) kakinya dan merebahkan tubuhnya. Di depannya duduk Mas Sakti sambil membaca koran bekas.

"Baca apa Mas?" tanya Wali Paidi.

"Ini baca Ahmad Dhani didemo," jawab Mas Sakti.

"Soal apa Mas?" tanya Wali Paidi lagi.

"Ini Ahmad Dhani pas konser menginjak lafadz Allah, kan logo Dewa itu ada rangkaian lafads Allah, sedang lantai panggungnya ada gambar besar logo Dewa yang ada lafadz Allah tersebut," jawab Mas Sakti.

"Menurut sampeyan gimana Mas?" tanya Wali Paidi.

Mas Sakti terdiam agak lama. Setelah menaruh korannya dan menyeruput kopinya, Mas Sakti menyalakan rokok mild-nya kemudian berkata :

"Menurut syariat Dhani ini salah. Tapi hakekatnya kita semua ini berdiri di atas lafadz Allah," jawab Mas Sakti.

"Maksud dan contoh jelasnya gimana mas?" tanya Wali Paidi.

Mas Sakti berdiri memanggil temannya yang ada di bawah.

"Ping....tolong ambil kaca mata di bawah terus bawa ke sini," kata Mas Sakti.

Tidak lama kemudian datang teman Mas Sakti dengan membawa kaca mata dan menyerahkan kepada Mas Sakti.

"Kamu pakai kaca mata ini," ucap Mas Sakti sambil menyerahkan kaca matanya.

Wali Paidi duduk dan memakai kaca mata yang diberikan Mas Sakti.

"Ya Allah....Allahu Akbar," jerit Wali Paidi.

Dalam pandangan Wali Paidi seluruh dinding toko dan lantainya terangkai lafadz Allah. Wali Paidi mengarahkan pandangannya ke bawah, lantai yang didudukinya terangkai banyak lafadz Allah yg banyak sekali. 

Wali Paidi agak ketakutan melihat ini semua, dan melihat nafas yang keluar dari hidung Mas Sakti juga membentuk lafadz Allah. 

Dalam pandangan Wali Paidi seluruh permukaan bumi ini ada rangkaian lafadz Allah-nya.

Wali Paidi dengan berlinang air mata menyerahkan kembali kaca mata kepada Mas Sakti. Mas Sakti menerimanya dengan tersenyum, kemudian berkata:

"Andai hijab hati kita dibuka oleh Allah, maka seluruh benda dan seluruh permukaan bumi terangkai lafadz Allah. Betapa tidak punya malunya kita kalau kita berbuat maksiat di atas rangkaian lafadz Allah, mungkar kepadanya, sedangkan kita berada di atas bumi-Nya." 

Wali Paidi semakin tesedu-sedu, dan tidak bisa dicegah Wali Paidi kemudian menangis dengan kerasnya.

Wali Paidi terdiam di atas distro MORKL, Mas Sakti dengan tersenyum-senyum memperhatikan Wali Paidi di depannya.

Hening yang sangat lama menghinggapi mereka.

"Tidur aja dulu Kang di sini," ucap Mas Sakti.

"Nanti aja belum ngantuk Mas," jawab Wali Paidi.

Tapi tidak lama kemudian Wali Paidi merasakan kantuk yang sangat berat, Dan tidak dapat dicegah Wali Paidi pun akhirnya tertidur.

Dalam tidurnya Wali Paidi bermimpi yang seakan-akan tidak bermimpi. Karena dalam mimpinya Wali Paidi seakan duduk di depan Mas Sakti sama persis seperti dalam keadaan terjaga.

Tiba-tiba ada suara bler ... bler ... bler... di depan toko, Wali Paidi berdiri dan berjalan ke jendela toko. Wali Paidi melihat kakak Mas Sakti datang dengan naik Harley Davidson, dengan memakai jaket dan celana hitam. 

Kakak Mas Sakti ini turun dari mogenya, Wali Paidi tersenyum ketika melihat kakak Mas Sakti ini mencopot helmnya. 

Potongan rambutnya itu keren habis. Samping kanan dan kiri dicukur habis, tinggal tengah sampai ke belakang dibiarkan panjang.

Wali Paidi dalam mimpinya cuma terdiam. Dia melihat Mas Sakti turun menyambut kakaknya. Tidak lama kemudian mereka bedua naik ke atas (lantai 2) toko. Wali Paidi maju dan mencium tangan kakak Mas Sakti.

"Ini tho Wali Paidi hmm...." ucap kakak Mas Sakti.

"Inggih Mas, nggih niki larene (Ya Mas, ya ini orangnya)," jawab Mas Sakti.

Setelah ngopi dan merokok sebentar, terdengar suara lagi bler....bler. Rupanya ada Harley lagi yang datang.

"Itu Bang Yik Terongan udah datang, ayo berangkat, ayo kamu ikut juga," kata kakak Mas Sakti kepada Wali Paidi.

Wali Paidi berboncengan dengan Yik Terongan, sedang Mas Sakti berboncengan dengan kakaknya.

Seumur-umur baru kali ini Wali Paidi merasakan naik Harley dengan kecepatan yang tinggi.

Wali Paidi merasakan dalam mimpinya seakan jalan yang dilaluinya ini menuju ke langit. Mereka berempat baru berhenti ketika di depannya berdiri dengan megah sebuah istana yang sangat indah. Wali Paidi, Yik Terongan, Mas Sakti dan kakaknya turun segera turun dari motor. Kemudian berjalan ke arah istana. Wali Paidi melihat bumi dari atas tampak berselimutkan cahaya biru.

"Lapisan ozone," bathin Wali Paidi.

Kakak Mas Sakti mendekati Wali Paidi, dengan menepuk-nepuk pundak Wali Paidi. Kakak Mas Sakti berkata:

"Apa yang kamu lihat itu memang banyak yang menyebutnya sebagai lapisan ozone. Sebenarnya lapisan biru yang mengitari bumi itu adalah cahaya iman yang terpancar dari hati setiap orang islam. Kalau iman umat muslim semakin tipis, maka lapisan biru tu juga akan menipis, dan cahaya matahari akan lansung masuk menerobos bumi. Kalau cahaya iman sudah habis, maka terjadilah kiamat," jelas kakak Mas Sakti kepada Wali Paidi.

Setelah menjelaskan tentang lapisan ozone, kakak Mas Sakti mengajak Yik Terongan dan adiknya untuk masuk ke dalam istana.

"Kamu belum waktunya masuk, jaga motor aja di luar," ucap kakak Mas Sakti kepada Wali Paidi.

"Hahahaha santai aja sebentar lagi sampeyan boleh masuk," olok Mas Sakti.

"Siap bos!" ucap Wali Paidi. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda