Setelah Setahun Kijang LGX Hilang (1)

Telepon dari Polda NTT yang Mengejutkan

Baskoro Guritno, pemilik mobil Kijang LGX yang hilang. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Jam 8 malam telepon rumah berdering.

Ketika itu saya dan isteri baru selesai makan malam bersama. Kami masih duduk di kursi makan.

Saya beranjak dan mengangkat gagang pesawat telepon yang terletak di atas kulkas di samping saya. 

BACA JUGA: Bimbang Memutuskan, ke Kupang atau Tidak?‚Äč

"Selamat malam." 

"Selamat malam pak."

"Apakah ini Pak Baskoro?"

Saya terdiam, berpikir sejenak, lalu saya yang  balik bertanya,

"Bapak siapa?"

"Saya Adi (maaf, nama sekadar ilustrasi ) dari Polda NTT (Nusa Tenggara Timur)," jawab penelepon. Suaranya terdengar kecil meskipun nada suaranya ditinggikan.

Saya tentu mlongo. Ditelepon polisi malam hari begini. Pikiran saya langsung membubung tidak karuan. Ada apa ini? Saya berusaha menjawab dengan tenang . 

"Ya, saya Baskoro." 

Saya menoleh ke isteri, ia menjulurkan lehernya penuh selidik. 

Kemudian suara di telpon bertanya lagi.

"Pak Baskoro pemilik Kijang LGX kan?

"Ya, saya."

"Apakah BPKB dan STNKnya masih disimpan?

"Ya, masih ada."

"Bisa diambil sekarang?"

"Bisa pak."

Saya berlari ke kamar mengambil BPKB dan STNK asli yang saya simpan di laci lemari pakaian.

Lalu pak Adi menyebutkan nomor chasis dan nomor mesin yang ada di catatannya.

"Betul pak, nomornya sama seperti BPKB yang saya pegang ini," jawab saya.

"OK. Berarti nomor chasis dan nomor mesin yang ada di mobil asli, BPKB yang saya pegang ini berarti aspal," kata Pak Adi meyakinkan.

"Begini, mobil bapak sekarang ada di Polda NTT, sudah diamankan. Tolong disiapkan BPKB dan STNK aslinya. Untuk bukti nanti,” pintanya.

“Ini no telepon saya 08123688xx. Untuk komunikasi lebih lanjut."

"Baik Pak Adi, terima kasih informasinya."

"Surat lapor kehilangan dari Polsek setempat apakah masih ada?" tanyanya lebih lanjut.

"Masih pak," jawab saya.

"Secepatnya lapor ke Polres Gresik, bahwa mobilnya sekarang ada di Kupang, Polda NTT. Ceritakan tentang informasi per telepon ini ya."

"Baik, terima kasih Pak Adi"

Sambungan teleponpun usai.

Saya tentu bengong menerima telepon tadi. Serasa mimpi di siang bolong. Banyak pertanyaan muncul di benak saya. Bagaimana Pak Adi mendapatkan nomor telepon rumah saya? Bagaimana pula mobil itu sampai ke Kupang, dan bagaimana pula bisa berada di Polda NTT?

Apakah mobil itu kondisinya masih utuh? Dan bagaimana caranya agar mobil itu bisa kembali ke Gresik?

Isteri saya langsung pucat pasi ketika saya jelaskan pembicaraan via telepon tadi.  Saya memaklumi. Peristiwa raib (dicurinya) mobil LGX ini sudah berlangsung setahun yang lalu.

Saat mobil itu raib, setiap tengah malam kami bawa dalam doa selama tiga bulan berturut turut. Kami ikhlas akan  musibah ini. Supaya kami tidak kemrungsung (penasaran di hati) lagi.

"Wis Mas nggak usah saja. Kita nggak tahu siapa Pak Adi tadi. Apakah info itu betul atau modus penipuan? Berapa nanti nebusnya?" ujar isteri mengingatkan.

Saya diam terpaku menatap ke kalender PT Petrokimia Kayaku yang menempel di dinding di atas telpon yang berdering tadi. Yang terletak di atas kulkas.

"Ikhlaskan saja. Seperti dalam doa kita, toh sudah ada gantinya," ulang isteri memohon.

Ketika mobil itu hilang, memang mertua meminjamkan mobilnya. Maksudnya supaya kami tidak terlalu bersedih hati.

Malam itu saya gelisah dan  tidak bisa tidur. Terbayang lagi  Kijang LGX yang tiba-tiba raib di parkiran RS Semen Gresik. Saat itu saya sedang menunggui isteri opname di rumah sakit tersebut. 

Mobil itu eks kendaraan perusahaan tempat saya bekerja. Setelah 5 tahun dipakai, mobil itu dilelang kepada pegawainya. Dengan harga yang sangat murah. Sesuai ketentuan lelang, giliran saya yang memperopeh kesempatan itu. Jika  saya tidak berminat, dapat diberikan kepada urutan berikutnya.

Mobil itu sangat terawat. Kondisi mesin sangat prima, catnya masih kinclong. Saya ambil mobil yang dilelang itu, dan baru 3 bulan dipakai, mobil itu dicuri orang.

Setelah satu tahun menghilang, tiba-tiba kabar baik itu datang! 

Berita tadi langsung menggelitik pikiran saya.  Selanjutnya apa yang harus saya perbuat untuk menanggapi berita tersebut. Yang menantang itu.

“Kesempatan yang tidak akan terulang kedua kalinya,” pikirku.

“Saya juga mesti tahu kapan saya harus berhenti sejenak untuk berjalan atau berjuang, bukan untuk menyerah, apalagi kalah,” pikir saya lagi.

Tak akan mungkin saya sanggup mendapatkan sesuatu tanpa usaha. Tak mungkin pula saya sampai ke tempat tujuan tanpa memulai langkah.

Lalu bagaimana caranya, masih dipikirkan. (Bersambung)

Penulis: *Guritno Baskoro*, pensiunan PT Petrokimia Kayaku, Gresik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda