DI's Way dan Romantisme Dahlan Iskan

Ferry Is Mirza, Wartawan Senior di Surabaya.

COWASJP.COM – Hingga Ahad 12 Juli 2020 ini, sudah sembilan edisi sejak terbit perdana Sabtu 4 Juli lalu, saya belum dapat fisiknya harian DI's Way. Saya hanya bisa melihat dari kiriman WAG Cowas JP, dan beberapa japri dari teman. 

Dan ada satu Billboard DI's Way di Jalan A Yani, Surabaya, ukuran jumbo yang berdiri mencolok di sisi kiri jalan dari Surabaya ke arah Bunderan Waru.

Karena secara fisik saya belum bisa mendapatkan DI's Way, seperti apa konten dan rubrik serta formatnya, maka no comment. 

BACA JUGA: DI's Challenge

Namun, info yang saya dapat, redaktur dan redaktur tamunya adalah sahabat-sahabat saya ketika sama-sama masih jadi kuli tinta di Jawa Pos (JP). Siapa saja, saya tidak perlu sebutkan di sini. Karena, saya yakin semua sudah pada tahu. 

Kalau, para punggawanya berasal dari JP,  insyaa Allah gaya penulisannya tidak jauh dari perkiraan saya. All Jawa Pos men....

hariandiswaybad76.jpgHarian DI'sWay.

Saya mengapresiasi positif setiap upaya kreatif untuk mengisi pasar. Termasuk DI's Way. Setahun DI's Way rutin mengisi kolom lewat media sosial. Kalau kini bertranformasi dalam bentuk cetak, harian.. saya perlu memberi penilaian. 

Begini :

Positioning DI's Way yang terbit saban hari tak mau dibilang koran. Tapi menyebut dirinya harian. Mungkin menghindari stigma pasar bahwa koran sudah menjelang tenggelam. Masalahnya, positioning harus sesuai delivery pesannya.... kalau pembacanya membaca koran tidak beda dengan koran Tempo dan Tempo online, atau koran Kompas dan Kompas online.

Harian DI's Way ini adalah romantisme Dahlan Iskan sebagai jurnalis dan pengusaha media sukses. Jiwa raganya sangat kental dengan kegiatan tulis menulis. Saat dunia industri media cetak menuju senjakala... bagaimanapun naluri dan hatinya Abah DIS tak rela dunia itu hilang dalam tatapan matanya. 

Minimal selama Abah DIS masih ada, akan terus mencari jalan bagaimana media cetak itu hidup.

Dalam teori pasar, yang mengubah perilaku konsumen salah satunya adalah "change driver", teknologi yang sangat berubah cepat itulah yang juga salah satunya membunuh media cetak. Sangat sulit hidup jika kita tidak mengikuti gelombang perubahan. "Riding the wave", ikuti gelombang dan manfaatkan gelombang untuk kemajuan kita. 

Salah satu contohnya Bluebird. Yang menentang transportasi online. Demo habis habisan mereka lakukan untuk menghalangi taksi online. Mereka kalah. Dan pada saat mengikuti teknologi itu, Bluebird sudah ketinggalan dan tenggelam.

DI's Way ada pembaca dan bisa eksis, karena pembaca dan pengikut Abah DIS masih cukup banyak. Tulisan Abah DIS masih banyak dikutip dan menjadi acuan golongan elit. Orang orang usia di atas 40 tahun. Dari berbagai kalangan...dan etnis. Juga kaum Dahlanis yang dulu menjadi pendukung saat ikut konvensi Capres Demokrat juga cukup banyak. 

disway-2.jpgDahlan Iskan dan Cowaser Surya Aka. (FOTO: Surya Aka/Cowas JP)

Itulah pembaca dan pasar "captive market" Di'sWay.

Keberhasilan DI's Way selanjutnya akan bergantung pada bagaimana harian ini mengakselerasi teknologi dan strategi menggaet pasar kaum melenial yang akan sulit dilakukan jika isi harian itu semata mata mengandalkan tulisan Abah DIS sebagai figur utamanya.

Dan selanjutnya, saya ingat kisah kisah orangtua Tionghoa. Masa tua mereka adalah masa tua yang penuh aktifitas. Berjudi, bertani atau memelihara hewan piaraan adalah bagian dari orang orang itu. Ibaratnya punya mainan yang membuat tidak cepat pikun dan tetap sehat. 

Abah DIS adalah sosok yang orientalis. Jadi tidak heran dalam masa senjanya beliau mengisi kegiatan seperti halnya banyak orang tua di Tiongkok sana.

Bagaimapun beliau adalah pendekar yang sangat banyak ilmu dan sakti. 

kantorhariandisway.jpgMarkas Harian DI's Way di Jalan Walikota Mustadjab, Surabaya. (FOTO: Nasaruddin Ismail/Cowas JP)

Mungkin beliau masih merasa belum menemukan calon muridnya yang bisa meneruskan visinya bahwa koran harus hidup. Walau apapun yang terjadi

Semoga harian DI's Way bernapas panjang dan menggurita. Karena dana Abah DIS tak habis untuk 7 turunan. (*)

Pewarta : Ferry Is Mirza
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda