Menggalang Muslimat NU Redam Covid-19

Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum PP Muslimat NU. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Organisasi Wanita NU, Muslimat Nahdlatul Ulama, terus mencari formula yang tepat untuk membantu pemerintah dan warga untuk segera mengakhiri pandemi Covid-19.  Untuk itu Pimpinan Pusat Muslimat NU menyelenggarakan    Webinar Series Muslimat NU, tingkat internasional  Sabtu 11/7/2020 sore kemarin.                                 

Pada kesempatan memberikan arahan di hadapan ratusan PW, PC , PCI sedunia, Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa, meminta seluruh Nahdliyat (sebutan ibu-ibu NU) dapat menyiasati kehidupan normal baru di lingkungannya masing-masing.

Dalam kondisi apa pun, kata Ketum PP Muslimat NU, aktivitas harus tetap berjalan meski dilakukan dengan cara-cara virtual atau dengan cara penerapan protokol kesehatan yang ketat.  

“Semua dan kecenderungan dunia dan Indonesia, rupanya harus menyiasati kehidupan kita, apakah kehidupan sosial, keagaman, atau kehidupan ekonomi,” ujar Khofifah.

Gubernur Jawa Timur ini menjelaskan, siasat penerapan normal baru oleh Muslimat NU bisa dimulai dari sekolah-sekolah Muslimat. Misalnya, dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) Muslimat NU. Siswa TK yang berusia balita itu harus mulai diajarkan bagaimana menjaga dan melindungi diri mereka dari ancaman Covid-19. 

Intinya, proteksi sedini mungkin mulai diterapkan di lingkungan warga NU. Dalam hal ini di sekolah Muslimat NU. 

Paling sederhana adalah mengajarkan anak-anak untuk tetap menggunakan masker ketika masuk sekolah atau berkegiatan di mana pun. Masker diyakini para ahli dapat menangkal virus sampai 60 persen. 

“Tapi hasil survei membuktikan kalau kita pakai masker, terus teman kita yang positif tidak pakai masker, kemudian dia bicara, sangat mungkin 70 persen virus dari teman yang positif dan tak pakai masker itu kena ke kita. Karena koloni virus ini bisa menempel ke baju kita, bisa ke kulit kita dan seterusnya,” tutur Khofifah yang juga mantan Mensos itu.

Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden Gus Dur ini menegaskan, Covid-19 tidak bisa disepelekan. Harus dilawan dengan membiasakan diri menjaga kesehatan. Sampai saat ini, kata dia, para ahli di WHO telah banyak merilis temuan-temuan baru terkait bahaya Covid-19. 

Teranyar, virus ini bertahan dan menyebar melalui udara. Terutama di ruang ber AC yang minim pertukaran udara. Karena itu, para ibu Muslimat NU harus maksimal dalam penanganan dan penerapan protokol kesehatan di lingkungan masing-masing. 

Upaya itu sebagai langkah menyelamatkan diri kita dan orang lain dari Covid-19. “Hari ini kita semua masih harus bergerak untuk melawan Covid-19,”  tegas Khofifah.

Kegiatan Webinar Series PP Muslimat NU sendiri diselenggarakan oleh Bidang Hubungan Luar Negeri PP Muslimat NU. Kegiatan ini membahas Strategi Diaspora Indonesia menghadapi tantangan Covid-19 di Negeri Orang.  

Webinar menghadirkan empat Duta Besar (Dubes) sebagai narasumber, yakni Dubes RI untuk Jerman Arif Havas Oegrosena, Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, Dubes RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangoen. Terakhir, Dubes RI untuk Aljazair Safira Rosa Machrusah.  

Sementara pemandu diskusi sekaligus pemantik Webinar kali ini dipimpin langsung Ketua Bidang Luar Negeri PP Muslimat NU Hj Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom ini dihadiri para pengurus PP Muslimat NU dan para Ketua PW Muslimat NU di seluruh dunia.                          

SUKSES JERMAN

Duta Besar RI untuk Jerman Arif Havas Oegrosena mengatakan, Jerman salah satu negara di Eropa yang dinilai cukup berhasil menangani Covid-19. Jerman bisa dijadikan contoh dalam penanganan pandemi Corona oleh negara manapun termasuk Indonesia. Arif menerangkan, dari kasus positif 199 ribu di Jerman, 184 ribu (92,33%) di antaranya dinyatakan sembuh. Tersisa 15 ribu lagi yang sedang menjalani isolasi mandiri karena Covid-19. 

 Menurut dia, hal ini membuktikan bahwa Jerman mampu mengendalikan Covid-19 dibanding negara lain di Eropa. Prestasi lainnya, kata dia, tingkat kerentanan terkena Covid-19 di Jerman hanya 4 persen. Jauh berbeda dengan Belgia yang menyentuh angka 15 persen, Italia 16 persen, dan Spanyol 14 persen.  “Jadi, negara Eropa tinggi sekali. Malah di utara itu gagal dan agak esktrim. Orang tua yang kena Covid-19 diberi morfin supaya langsung bablas. Jadi, nggak mengganggu. Dan itu menjadi skandal besar,” ujar Dubes Arif.     

arif.gifDuta Besar RI di Jerman, Arif Havas Oegroseno. (FOTO: istimewa)

Selanjutnya, Arif menceritakan sikap pemerintah Jerman merespon kasus positif pertama di negaranya. Sejak ditemukan pada 27 Januari 2020 lalu, Jerman langsung bergerak cepat membentuk tim darurat Covid-19. Para kepala daerah langsung melakukan banyak pertemuan untuk menentukan langkah-langkah strategis melawan wabah ini.     

Di sisi lain, assesment dan evaluasi digelar setiap dua pekan sekali. Pertemuan para pejabat di Jerman akhirnya memutuskan 13 Maret lockdown. Kebijakan itu cukup membuahkan hasil yang siginifikan. Sebab, pada 16 Mei aktivitas masyarakat kembali dibuka dan kasus positif menurut drastis.  “Kasus pertama Januari, Maret lockdown, Mei udah main bola (turnamen) lagi. Itu kehebatan yang luar biasa. Sementara, negara tetangga masih lockdown, dia sudah bisa main bola,” tuturnya.  Selain kebijakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan pengendalian Covid-19 di Jerman berjalan efektif. 

Pertama, jumlah Rumah Sakit di Jerman cukup banyak, jumlahnya mencapai 2000 RS. Selain itu, fasilitas di RS tersebut juga sangat lengkap. Setiap RS memiliki tempat tidur yag layak lengkap dengan ventilator.  “Tempat tidur jumlahnya 35 ribu, lengkap dengan ventilator. Ventilator sendiri 28 ribu. Belum lagi RS tentara Jerman  10 ribu RS,” katanya.  

Melihat kemampuan Jerman tersebut, kata Arif, Indonesia sangat mungkin bisa melakukannya. Salah satu lembaga yang dapat terlibat membantu pemerintah dalam penanganan Covid-19 di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama.  Menurut Arif, NU bisa mengendalikan RS yang ada di seluruh Indonesia untuk lebih siap menanganai pasien Covid-19. “Misalnya, NU juga bisa mengendalikan atau menyiapkan para dokternya,” tandas  Arif.   

Sementara Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun bersyukur karena sampai saat ini tidak ada satu pun warga negara Indonesia, baik yang sudah pulang ke tanah air maupun yang masih bertahan di China, terjangkit COVID-19.

"Kami selalu berkomunikasi dengan WNI, PPIT, PCINU, Diaspora, Inacham dan lain-lain sehingga sampai saat ini tidak ada WNI yang terjangkit COVID-19," katanya.

TUJUH KUNCI SUKSES CHINA

Dalam kesempatan tersebut Dubes Djauhari memaparkan tujuh hal yang dilakukan pemerintah China dalam menghadapi wabah tersebut.

"Tujuh kunci keberhasilan China dalam mencegah, menanggulangi, dan mengendalikan COVID-19, yakni pemerintah bertanggung jawab penuh, mobilisasi massa, determinasi politik, menyesuaikan kebijakan secara tepat, mengurangi dampak ekonomi, transparan, dan pemanfaatan iptek," ungkapnya..

Ia mencontohkan kebijakan menutup akses secara total (lockdown) Wuhan selama 76 hari sejak 23 Januari sangat efektif untuk mencegah penularan lebih luas didukung pembangunan 16 rumah sakit sementara (darurat) berdaya tampung 13.000 tempat tidur di Ibu Kota Provinsi Hubei. Kota yang merupakan pertama kali terpapar COVID-19.

djauhari.gifDubes RI di China, Djauhari Oratmangun. (FOTO: istimewa)

Mobilisasi 42.000 tenaga medis ke Provinsi Hubei disertai dengan pemberhentian  para pejabat di daerah itu, termasuk kepala daerah, yang dianggap gagal juga turut berkontribusi dalam mengendalikan pandemi, demikian Dubes.

Kebijakan-kebijakan tersebut tanpa disadari berdampak positif bagi WNI, termasuk mereka yang berhasil dievakuasi dari Wuhan ke Natuna melalui Batam pada 31 Januari.

"Semua pihak bergerak bersama dengan satu komitmen untuk menjaga keselamatan rakyat. Informasi terkait perkembangan COVID-19 di China terbuka untuk publik, mudah diakses, dan selalu updated," katanya. 

Jumlah WNI di China tercatat sekitar 15.000 orang yang mayoritas kalangan pelajar. Sampai saat ini terdapat sekitar 6.000 WNI yang masih bertahan di berbagai daerah di China. (*) 

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda