Wali Paidi Episode 14

Mendengar Tangisan Kulit Semangka di Kudus

Ketika Wali Paidi bisa mendengar tangisan kulit semangka. (FOTO: travel.tribunnews.com)

COWASJP.COM – Wali Paidi duduk dengan tenang. Diambilnya secangkir kopi yang ada di sampingnya. Perlahan dia melanjutkan mengisap rokok mastna wastulasta warruba (234 dji sam soe)-nya.

Angin semilir menerpa wajahnya. Wali Paidi sedang berada di atas menara Masjid Kudus, masjidnya Sunan Kudus. Setelah rokoknya habis, Wali Paidi membasahi mulutnya lagi dengan kopi seperti orang berkumur. 

Dia mulai tawasulan, ketika Fatihah pertama dibaca, angin perlahan mulai berhenti. Wali Paidi mulai membaca wirid-wirid khusus amalan thoriqoh yang dianutnya. Suasana jadi hening seakan bumi dan seluruh hawanya “berhenti”.

Sifat diri Wali Paidi mulai hilang berganti sifat mulia guru mursyidnya. Perlahan sifat gurunya juga mulai hilang berganti sifat Ilahiyyah. Di sini Wali Paidi merasakan ketenangan yang begitu luar biasa.  Seakan berada di dalam lautan yang begtu luas.

Sirr Wali Paidi keluar dari tubuhnya, melayang-layang ke angkasa. Wali Paidi bisa melihat tubuhnya yang sedang duduk di atas menara.

Sirr Wali Paidi terus melayang mengitari Kota Kudus. Dan terdengarlah sebuah tangisan yang begitu menyayat hati.

Sirr Wali Paidi mengikuti dari mana asal suara itu. Sirr Wali Paidi turun mendekati keranjang sampah. Ternyata dari situlah suara tangisan itu.

Sirr Wali Paidi semakin mendekat. Dilihatnya yang menangis itu adalah sebuah kulit semangka. 

"Mengapa kamu menangis?" tanya sirr Wali Paidi.

"Aku sedih, ketika aku tumbuh besar dan terasa manis aku diambil oleh petani dan dijualnya. Aku begitu senang bisa membahagiakan para petani. Tapi ketika mau dimakan aku ditinggalkan dan dibuang. Hanya isinya yang dimakan. Aku merasa tidak ada manfaatnya," jawab kulit semangka dan menangis lagi.

"Jangan bersedih aku akan kembali lagi ke sini," kata sirr Wali Paidi.

Dengan secepat kilat sirr Wali Paidi kembali ke tubuhnya.

Sehabis mengambil rokoknya Wali Paidi turun dari menara dan pergi ke tempat kulit semangka yang dilihatnya tadi.  Wali Paidi masih ingat betul, bahwa keranjang sampah itu berada di halaman sebuah masjid yang berada di tengah Kota Kudus. 

Setelah sampai, Wali Paidi langsung menuju keranjang sampah itu, dan mulai mengais-ngais sampah. Orang-orang yang lagi tadarusan di dalam masjid heran melihat tingkah Wali Paidi.

Dan, Wali Paidi tersenyum dengan sumringah ketika dia menemukan kulit semangka yang dicarinya. Begitu lahapnya Wali Paidi memakannya. Orang-orang yang melihat Wali Paidi menjadi maklum. 

"Oh ternyata orang gila to," bathin mereka dan melanjutkan kembali tadarusannya. Dengan masih mengunyah kulit semangka, Wali Paidi pergi meninggalkan masjid.

"Mungkin beginilah yang dialami oleh Imam Al Ghozali yang pada waktu itu terkenal dengan tirakatnya dengan doyan memakan kulit semangka. Yang dicarinya di keranjang-keranjang  sampah," bathin Wali Paidi.(Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda