Wali Paidi Episode 13

Terbaring Sakit di Hamparan Hikmah

COWASJP.COM – Setelah dari pertemuan di Gunung Pring Magelang, Jawa Tengah, Wali Paidi jatuh sakit. Karena perjalanan yang ditempuh Wali Paidi tidak semestinya. Dia pindah dari truk satu ke truk lainnya.

Kadang kehujanan, kadang kepanasan. Tubuhnya tidak kuat menerima semua itu, sehingga dia jatuh sakit.

Wali Paidi terbaring tak berdaya. Badannya panas. Matanya terlihat semakin cekung karena kurang tidur.

Tapi senyumnya masih tetap sama, cerah dan menyenangkan seperti orang tidak sakit.

Para tetangga satu per satu menjenguk Wali Paidi. Ada yang membawa buah-buahan dan ada yang memberi uang.

Sebagian para tetangga berinisiatif mengantarkan Wali Paidi untuk berobat di rumah sakit terdekat. Tapi dia menolaknya. 
“Terima kasih, biarlah, 2 atau 3 hari akan sembuh sendiri,“  jawab Wali Paidi.

Para tetangga sangat sayang kepadanya. Bukan karena Wali Paidi ini wali (karena para tetangga tidak tahu kalau Paidi ini seorang wali). Bukan pula karena Wali Paidi ini orang kaya. Tapi karena Wali Paidi ini orang yang dermawan, suka menolong, dan sopan terhadap yang  tua dan sayang terhadap yang muda.

Ketika memasuki hari ketiga, tubuhnya demam tinggi. Sehabis sholat isya yang dilakukan dengan terbaring, tubuhnya tidak kuat menahan. Dan... Wali Paidi pun pingsan. 

Dia baru tersadar ketika merasakan ada orang yang menyeka tubuhnya dengan handuk dingin. 

Orang  ini sangat ganteng dan bersih, seorang pemuda yang sangat tampan.

“Siapakah Anda?“ tanya Wali Paidi.

“Saya adalah amalan sholawat yang biasa sampeyan baca. Saya akan menjaga sampeyan sampai sembuh,“ ucap pemuda ini.

Wali Paidi kaget juga mendengar penuturan pemuda ini. 
“Apakah aku sudah mati?“ tanya Wali Paidi.

Dengan tersenyum pemuda ini menjawab: “Belum.“

Wali Paidi tertegun dan terdiam. Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamarnya.

“Assalamu’alaikum, ” ucap tamu tersebut.

“Wa alaikum salam,” jawab Wali Paidi dan pemuda ini berbarengan.

Pemuda ini membungkukkan badannya dan berbisik kepada Wali Paidi. 
“Kang, tamu yang datang ini adalah malaikat,“ bisik pemuda itu. 

“Apakah malaikat Izrail?“ tanya Wali Paidi.

“Hehehe, bukan. Malaikat Rohmat,“ jawab pemuda.

“Kalau begitu bukakan pintu kamarnya Mad, gak pa pa kan kalau kamu aku panggil Somad“ ujar Wali Paidi.

“Iya gak pa pa, Kang“ jawab Somad dengan membuka pintu kamar.

Tampaklah yang masuk seorang pemuda yang  juga tampan membawa baskom. 

“Siapakah anda?“ tanya Wali Paidi.

“Saya malaikat Rohmat,“ jawabnya.

“Kopikah yang kau bawa di baskom itu,“ tanya Wali Paidi.

“Hahaha ... kang ..bkang,“ Somad tertawa mendengar pertanyaan Wali Paidi.

Malaikat Rohmat lalu meletakkan baskom di meja sebelah tempat tidur Wali Paidi. Lalu menjawab,
“Bukan kang, tapi air dari telaga kausar guna diminum dan buat wudlu.”

Lalu malaikat yang berwujud pemuda tampan ini pamit. 

Sekitar 5 menit kemudian datang tamu lagi, ternyata baginda Nabi Muhammad yang datang.

Kamar Wali Paidi langsung harum semerbak. Wali Paidi berusaha bangkit, tapi Nabi menyuruhnya tetap berbaring.

“Ali Firdaus, bergembiralah karena derajatmu sudah dinaikkan oleh Allah,“ ucap Nabi kepada Wali Paidi.

Nama Wali Paidi ini memang sebenarnya Ali Firdaus, tapi Nabi Khidir memanggilnya dengan Paidi.

Nama yang berasal dari kata Faedah, Nabi Khidir berharap Wali Paidi menjadi orang yang berfaedah.

Karena sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat buat sesamanya, dan itu akhirnya terbukti.

Mendengar perkataan Nabi, Wali Paidi hanya bisa menangis.

Tidak bisa berkata(kata, dia hanya bisa menangis dan menangis lagi.

Setelah Nabi keluar, datanglah Nabi Khidir. Beliau Nabi Khidir banyak menurunkan ilmu-ilmu hikmah yang luar biasa kepada Wali Paidi. 

Walaupun pertemuan Wali Paidi dengan Nabi Khidir begitu singkat, tapi ilmu yang didapat Wali Paidi sama dengan ilmu orang yang belajar selama 100 tahun.

Berikutnya datang silih berganti wali-wali yang dikenal Wali Paidi.

Menjelang shubuh datanglah Mas Kiai Mursyid, gurunya.

Ketika Mas Kiai Mursyid datang, tubuh Wali Paidi sudah segar dan sehat. Mas Kiai Mursyid datang dengan membawa kopi dan rokok.

Setelah sholat shubuh berjamaah dengan Mas Kiai Mursyid, mereka melanjutkan dengan acara ngopi dan ngerokok bareng.

Wali Paidi sekali lagi dapat wejangan-wejangan dari Mas Kiai Mursyid. Dan, Mas Kiai Mursyid sedikit membuka rahasia arsy. 

Membuka jalan yang akan dihadapi Wali Paidi kelak, dan setelah sholat dhuha mas Kiai Mursyid pulang.

Memang para wali Allah itu ketika sakit banyak mendapatkan ilmu hikmah yang luar biasa.

Kita melihat mereka dengan pandangan kasihan karena sakit yang di deritanya. Tapi di balik itu, semua para wali Allah sangat berbahagia ketika dirinya sakit. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda