Wali Paidi Episode 12

Tubuh Rasul Bersinar Terang di Sebuah Masjid

COWASJP.COM – Setelah cerita soal Gus Dur, Wali Paidi ngeloyor pergi. Dia berjalan terus tanpa mempedulikan arah dan tujuan. Berjalan terus sambil menikmati rokoknya. 

Sudah berapa lama dan seberapa jauh Wali Paidi berjalan dia sendiri tidak tahu. Seperti tidak sadar tiba-tiba saja hatinya dipenuhi dzikir dengan Allah dan bersama Allah.

Dia merasakan seakan-akan tidak berjalan di atas bumi, seperti terbang. Tubuhnya ringan dan hatinya di penuhi kebahagiaan.

BACA JUGA: Taklukkan Hati Preman Tanpa Kekerasan​

Wali Paidi baru tersadar ketika adzan subuh berkumandang. 

Dilihatnya di depan ada sebuah masjid yang semuanya terbuat dari bambu. Wali Paidi berhenti sebentar. Dilihatnya di dalam masjid sudah banyak sekali orang. Ada yang pakai jubah, pakai serban, ada juga yang pakai sarung dan berkopyah. Ada juga yang memakai celana tapi tetap juga pakai kopyah. 

Yang membuat Wali Paidi kagum adalah di dalam dan di luar masjid itu tidak ada lampu sama sekali. Tapi masjid dan areal sekitarnya tampak terang benderang. Tampak cahaya keluar dari orang-orang yang berada di dalam masjid. 

Cahaya mereka inilah yang menerangi seluruh masjid.

BACA JUGA: Mengenang Gus Dur dalam Haul II​

Tanpa sadar Wali Paidi memandangi tangannya, apa dia ikut juga bercahaya. Wali Paidi kaget! Ternyata tangannya juga mengeluarkan cahaya. Dia meneruskan pandangannya, dan ternyata kakinya dan seluruh badannya juga bercahaya....

Setelah sadar bahwa dirinya juga bercahaya, Wali Paidi mulai berani memasuki masjid dan ikut sholat berjamaah.  Di barisan paling belakang karena hanya di barisan ini ada tempat yang kosong. Sedang tempat yang lain sudah penuh.

Wali Paidi melihat disela-sela tubuh para jamaah yang bercahaya, cahaya sang imam sangat terang. Sehingga Wali Paidi tidak bisa melihat wajahnya.  Tubuhnya dikelilingi cahaya yang sangat terang. 

Wali Paidi baru sekali ini merasakan sholat yang begitu indah dan sangat syahdu. Suara imam yang begitu merdu, seakan-akan diajak berjalan mengelilingi rahasia-rahasia ayat-ayat  Allah yang dibaca oleh sang imam sholat.

Setelah mengucapkan salam dan selesei sholat, Wali Paidi baru tersadar. Ternyata di sampingnya ada orang yang sangat dikenalnya. Yaitu Mbah Parmin seorang kusir bendi di kampungnya.

Ternyata Mbah Parmin tubuhnya juga bercahaya.

Sebelum Wali Paidi hilang dari rasa kagetnya , Mbah Parmin berkata kepadanya.

"Paidi, tolong kalo nanti di rumah jangan bilang siapa-siapa tentang masalah ini," kata Mbah Parmin.

"Baik Mbah," jawab Wali Paidi kemudian meneruskan dzikirnya.

Seusai dzikir baru Wali Paidi mulai ngobrol lagi dengan Mbah Parmin.

"Mbah, siapa yang ngimami sholat subuh ini," tanya Wali Paidi.

"Beliau Baginda Nabi Muhammad" jawab Mbah Parmin.

"Dan di barisan depan itu adalah wali-wali qutb. Di barisan berikutnya wali-wali yang derajatnya di bawah wali qutb. Mereka berbaris sesuai tingkatannya, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Semuanya hadir di sini," jelas Mbah Parmin.

Wali Paidi tersenyum, Mbah Parmin juga tersenyum. Mereka berdua sadar kalau berada di barisan yang paling belakang.

Tidak lama kemudian acara dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Sambil membaca sholawat, Wali Paidi bertemu guru mursyidnya dan wali-wali yang selama ini cuma diketahui tentang ceritanya saja.

Wali Paidi begitu bahagia karena bisa bersalaman dengan para wali yang  selama ini sangat dicintainya dan dihormatinya. 

Setelah acara bersalaman selesei, para wali pergi sendiri-sendiri. Tiba-tiba hilang entah ke mana.

Tinggal Wali Paidi dan Mbah Parmin aja yang berada di dalam masjid.

Setelah semua pergi, baru Wali Paidi dan Mbah Parmin keluar dari masjid.

"Di manakah ini mbah?" tanya Wali Paidi kepada Mbah Parmin.

"Di Gunung Pring Magelang Jawa Tengah," jawab Mbah Parmin.

Wali Paidi menoleh ke belakang , ternyata masjid itu sudah hilang.

"Udah Di, aku pergi dulu yah. Assalamuálaikum,"  kata Mbah Parmin sambil menjabat tangan Wali Paidi.

Mbah Parmin berjalan di sela-sela pepohonan, dan lama-lama kelamaan hilang. 

"Mbah ... Mbah ... tunggu sebentar," teriak Wali Paidi memanggil Mbah Parmin. Tapi Mbah Parmin sudah hilang ditelan keheningan hutan belantara.

"Aduh mbah, aku sebenarnya mau pinjem duwit buat sangu pulang ," Wali Paidi berkata sendiri. "Terpaksa nggandol truk lagi ini. Wah..wah."

Wali Paidi dengan tersenyum melangkah pergi juga. "Selama ada rokok dan kopi gak masalah. Syukur alhamdulillah" ucap Wali Paidi dengan mengeluarkan rokok dari selipan kopyahnya, lalu menyalakannya. Kemudian meneruskan perjalanannya.

Wali Paidi tidak berani mencoba ilmu melipat bumi yang dimilikinya. Takut kesasar-kesasar lagi seperti waktu itu.

Wali Paidi berjalan sambil mengenang kembali pertemuannya dengan para wali, juga dengan Baginda Nabi barusan. 

Walau tidak begitu jelas melihat wajah Rosulullah karena sangat terangnya nur cahaya yang terpancar dari tubuh Rosulullah, Wali Paidi masih ingat perkataan Rasulullah ketika acara bersalam-salaman tadi. 

Bahwa bala' atau adzab Allah akan diturunkan. 

Para wali disuruh oleh Baginda Nabi untuk bersiap-siap menerimanya, sesuai dengan tingkatannya. Ketika bala' atau ujian turun, yang menanggung pertama kali adalah para wali-wali Allah sesuai dengan tingkatannya.

Semakin tinggi derajatnya, semakin besar pula ujian yang ditanggungnya. Para wali ini melakukan hal tersebut supaya ketika ujian itu sampai kepada umat manusia lainnya, tinggal sedikit dan ringan.

Masya Allah betapa besar rasa cinta mereka kepada kita semua. 

Kadang bala' atau ujian Allah itu tidak sampai menimpa umat manusia, karena sudah habis ditanggung para wali. 

Kalau bala'atau ujian Allah itu begitu besar dan luas, maka bala' itu baru menimpa manusia.

Dan bala' atau ujian yg paling ringan yang diterima oleh umat manusia adalah "ndas ngelu gak ngerti sebabe." Kepala pusing tidak tahu penyebabnya, disertai dengan perasaan sedih dan galau yang tidak tahu penyebabnya juga.

Tak terasa Wali Paidi sudah sampai di jalan raya, dan dilihatnya ada sebuah truk yang melintas. Wali Paidi menyetop dan minta nunutan (ikut). (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda