Bukan Koran...

COWASJP.COM – Perdebatan mengenai masa depan koran sudah muncul sejak 1990-an ketika gerakan paperless world, dunia tanpa kertas, mulai jadi wacana perbincangan.

Ketika radio dan televisi mulai dikenal luas di Eropa setelah Perang Dunia Kedua, nasib koran juga dipertanyakan. Ternyata koran masih bisa survive hidup beriringan dengan radio dan televisi. Tapi, Penemuan internet pada awal 1980-an dan ditemukannya jaringan world wide web (www) yang melahirkan revolusi teknologi informasi menjadi ancaman maut bagi koran di seluruh dunia.

Gutenberg melahirkan The Gutenberg Galaxy menandai perubahan revolusioner dengan menyebarnya buku-buku ilmu pengetahuan dan agama di seluruh benua Eropa. Gerakan demokrasi yang ditandai runtuhnya feodalisme dan pemisahan agama dengan gereja menandai era The Gutenberg Galaxy.

Galaksi Gutenberg berakhir dengan munculnya galaksi baru The Internet Galaxy yang melahirkan globalisasi yang menjadikan dunia berada di ujung jari hampir setiap orang yang mengoperasikan telepon pintar.

Masyarakat di seluruh planet ini terkoneksi ke dalam sebuah jaringan membentuk The Network Society, Masyarakat Jaringan, ditandai dengan penggunaan teknologi digital yang masif yang melahirkan masyarakat informasional.

Masyarakat informasional yang hidup dalam jaringan tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu karena informasi bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Tidak perlu ada presedennya dan tidak perlu dipikirkan sekuen berikutnya. 

Inilah timeless time, waktu yang tidak berwaktu yang membebaskan orang dari ikatan ruang dan waktu dan memungkinkan kita melakukan work from home dengan nyaman.

Pandemi Covid-19 kali ini membawa konsekuensi sosial dan ekonomi yang devastating, menghancurkan. Tetapi umat manusia sangat tertolong oleh terbentuknya masyarakat berjaringan yang memungkinkan orang tetap bekerja secara produktif meskipun terkurung dan tersandera selama lebih dari tiga bulan.

Tidak terbayangkan bagaimana manusia modern mau dikerangkeng di dalam rumah dan kebebasannya untuk berkumpul menikmati hidup diberangus berbulan-bulan tanpa menimbulkan gejolak sosial yang berarti.

Terima kasih kepada masyarakat berjaringan. Badan fisik bisa dikerangkeng tapi ujung jari jemari melanglang buana, mblakrak ke seluruh dunia memesan makanan kegemaran, menonton drama Korea, menyaksikan liga sepakbola Eropa, mengonsumsi berita politik, dan mendengar gosip terbaru di sekitar tetangga dan teman.

Seandainya pandemi ini terjadi dua puluh tahun yang silam ketika masyarakat berjaringan tidak sekokoh sekarang, dampaknya akan jauh lebih mengerikan.

Konsekuensi dari masyarakat berjaringan adalah lahirnya the power of identity, kekuatan identitas. 

@Ketika manusia semakin mengglobal, dia akan makin menjadi tradisional. 

Manusia jaringan menonton film blockbuster terbaru, menyaksikan Liverpool menjuarai Liga Inggris, dan kemudian memesan nasi pecel via Go Send untuk makan malam.
Ketika suntuk dan bosan lalu memutar Pamer Bojo Didi Kempot sambil karaokean. Saat terdengar azan Isyak dia akan break untuk shalat berjamaah bersama keluarga di rumah.

Agama menjadi sumber identitas yang paling kuat. Identifikasi terhadap agama memberi kekuatan, perlindungan, dan harapan. Karena itu, ketika masjid ditutup, Jumatan ditiadakan, tarawih dan shalat Idul Fitri dibatalkan, reaksinya menjadi sangat emosional. 

ROR.jpg

Mereka yang dalam kondisi normal hanya berjamaah di masjid seminggu sekali saat Jumat (itupun datang terlambat menjelang iqomat) tiba-tiba ada di garda paling depan sebagai pembela shalat berjamaah.

Teori konspirasi menjadi konsumsi setiap detik, bahwa pandemi ini tidak ada, pandemi hanya akal-akalan media untuk menciptakan histeria berlebihan, bahwa rumah sakit dan tenaga medis menangguk untung dari pandemi. 

Banyak yang yakin pandemi adalah konspirasi musuh agama untuk menjauhkan umat dari masjid. Tapi tak kalah banyak yang percaya bahwa pandemi adalah rekayasa supaya perempuan seluruh dunia berhijab dan memakai burkah. 

Gerakan anti-masker meluas, anjuran jaga jarak diabaikan. Bukan hanya kalangan bawah yang memercayainya. Politisi, pemuka agama, akademisi, dan elite-elite masyarakat percaya pada teori konspirasi itu. 

Globalisasi melahirkan musuh-musuhnya sendiri. Donald Trump dan Jair Bolsonaro, presiden Brasil, layak masuk Guiness Book of Record sebagai presiden yang tidak pernah memakai masker selama pandemi, dan tidak pernah meminta rakyat memakainya.

rorq.jpg

Gegara pendemi karir politik Trump di ujung tanduk. Global leadership Amerika juga terancam. Sementara Chima, yang selama ini diperkirakan bakal menggeser kepemimpinan global Amerika, harus merekonstruksi ulang strategi geopolitiknya. Proyek belt and road yang menjadi andalan China harus ditata ulang.

Inilah The End of Millenium, berakhirnya era millenium. Inilah rentetan konsekuensi munculnya masyarakat jaringan. Negara-negara besar yang di era lalu begitu kuat, dipaksa untuk menata diri kembali karena keberadaan mereka sudah tidak relevan. Sebagai gantinya akan muncul network state, negara jaringan, seperti Uni Eropa, ASEAN, NAFTA, dan kumpulan negara-negara regional.

Di mana posisi media dalam konstelasi ini? Seperti kata McLuhan (1964), the medium is the message, media adalah pesannya. Bukan konten media atau keberadaan fisik media yang membawa pesan kepada mastarakat, tapi media itu sendirilah yang menjadi pesan.

Media adalah the extension of man, penyambung manusia, mirror of the society, cermin masyarakat. Media megekspresikan kondisi dan kebutuhan masyarakat, dan masyarakat memakai media untuk mengekspresikan eksistensi dan identitasnya.

Dalam kondisi ketidakmenentuan tsunami informasi dan banjir hoaks, orang butuh medium yang kredibel. Dalam keruwetan globalisasi masyarakat berjaringan sekarang ini, orang butuh media sebagai bagian dari ekspresi identitas lokalnya.

Inilah peluang dan tantangan untuk DI's Way bukan koran (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda