Wali Paidi Episode 7

Selalu Husnudzon dengan Siapa pun

Suasana ngaji di Pondok Pesantren. (FOTO: alif.id)

COWASJP.COM – Setelah beberapa hari bersama Wali Paidi, si murid thoriqoh ini menghadap kepada guru mursyidnya guna melaporkan peristiwa yang dialaminya.

Kira-kira sepuluh meter dari gerbang pondok, si murid sudah disambut kawannya yang juga mondok di situ.

“Kang.... sampeyan sudah ditunggu Mas Yai di depan mushollah pondok...” kata kawannya. 

“Lho.... Yai sudah menunggu to,” jawab si murid.

“Iya kang. Tadi kira-kira setengah jam yang lalu aku disuruh Mas Yai membuat dua cangkir kopi. 

Beliau berpesan, setelah membuat kopi tolong taruh di depan mushollah dan cepat-cepat kamu ke pintu gerbang. Ada dulurmu akan datang,” terang kawan si murid.

Mereka berdua memasuki pintu gerbang pondok yang begitu kecil. 

BACA JUGA: Satu per Satu Benda dalam Musholla Menghilang​

Pintu gerbang pondok di sini memang beda dengan pintu gerbang pondok-pondok pada umumnya. 

Pintu gerbang di sini cuma satu daun pintunya dengan ukuran 1 meter x 2 meter.

Terbuat dari kayu yang dilapisi seng. Kalau ada orang yang tidak pernah ke pondok ini pasti tidak tahu pintu gerbangnya.

Pernah dulu abahnya Mas Yai mau merenovasi pintu gerbang ini dengan membuatnya agak lebar dan diperbagus.

Tapi malamnya abahnya Mas Yai ini mimpi bertemu Mbah Yai yang mengatakan, 

“Nak, jangan dipugar pintu gerbang itu. Biarlah seperti itu saja. Biarlah orang mengira kalau di sini tidak ada pondok.”

Setelah mimpi tersebut Abah Yai urung merenovasi pintu gerbang pondok.

Setelah melewati pintu gerbang pondok si murid dan kawannya ini melihat Mas Yai sudah duduk sambil merokok di depan mushollah pondok.

Di depannya ada dua cangkir kopi.

Si murid mengucapkan salam kepada Mas Yai, “As-salamu ‘alaikum.”

“Wa alaikum salam,” jawab Mas Yai.

Setelah mencium tangan gurunya, si murid duduk di depan Mas Yai. 

Sedang kawannya pergi tidak ikut duduk dengannya. Karena yang di panggil Mas Yai bukan dia... (inilah adab seorang murid).

Setelah menceritakan pengalamannya, si murid ini bertanya kepada guru mursyidnya,

“Yai.... ketika sholat dulu, saya mendengar bacaan Wali Paidi itu tidak sempurna. Tapi lama kelamaan suara Wali Paidi ini berubah menjadi sempurna dan sangat merdu. Apa maksud semua itu?”

Setelah mengisap rokoknya dalam-dalam Mas Yai berkata:

NGAJI1.jpgFOTO: Twitter @SuasanaPesantren

“Kamu kan jelas pernah mendengar, kata Nabi : Bau mulut orang yang berpuasa itu wangi bagaikan minyak kesturi di hadapan Allah. Ketika kamu mendengar suara Kang Paidi itu menjadi merdu, sesungguhnya kuping yang kamu pakai untuk mendengar itu "kupingnya" Gusti Allah. Kalau kupingmu sendiri yang kamu pakai maka terdengar seperti itu. Jadi terdengar tidak sempurna menurutmu. Tapi di hadapan Allah bacaan Kang Paidi ini begitu merdu.

Begitu juga dengan bau mulut orang yang berpuasa, akan tercium sangat busuk kalau menciumnya itu dengan hidung kita sendiri.”

Simurid ini bertanya lagi:

“Apakah Kang Paidi ini juga orang thoriqoh...”

“Iya.... dia murid Abahku. Kang Paidi ini sebelum masuk thoriqoh perilakunya sudah sangat berthoriqoh.

Kalau kamu melihat tingkah polahnya yang awur-awuran itu hanya untuk menutupi ke-sejatian dirinya.

Setahu saya, Kang Paidi ini orang yang tidak punya su’udzon kepada orang lain. Kepada siapa pun orangnya baik. Anak kecil maupun maling, Kang Paidi ini tetap husnudzon.

Inilah salah satu kelebihan Kang Paidi,” jawab Mas Yai.

“Tapi.... mengapa bukan yai sendiri yang mengatakan kepada saya kalau selama ini tempat yang saya kira Makkah itu sebenarnya tempat pembuangan sampah..” tanya si murid lagi.

“Hahahaha.... itu memang tugasnya Kang Paidi... dan lagi, tempat pembuangan sampah itu kan dekat dengan mushollah Kang Paidi.

Kalau aku yang menunjukkan, kamu akan bingung berada di mana, sedangkan TPA itu jauh dari sini."

**

Di tempat lain Wali Paidi sedang kedatangan seorang tamu yang pingin sekali bisa berangkat haji.

“Kang, saya ingin sekali bisa berangkat haji. Tolong saya dikasih amalan yang bisa membuat saya bisa berangkat haji,” pinta orang tersebut.

“Saya tidak bisa. Coba sampeyan minta kepada Yai yang lebih mengerti soal itu. Saya ini orang bodoh,” jawab Wali Paidi.

“Tidak kang. Saya tidak keliru karena saya bermimpi kalau sampeyanlah yang bisa menunjukkan jalan tersebut,” bantah orang tersebut.

“Baiklah. Kalau sampeyan memaksa, sehabis sholat shubuh sampeyan baca surat yasin sebanyak 7 kali.

Kalau ada apa-apa sampeyan ke sini lagi,” jawab Wali Paidi.

Setelah orang tersebut membacanya selama 1 bulan, tapi tidak terjadi apa-apa, orang ini kembali kepada Wali Paidi.

“Tidak ada apa-apa kang,” kata orang yang kepingin naik haji ini.

“Kalau begitu bacaan surat Yasin-nya ditambah surat Waqiah sebanyak 7 kali. 

Nanti kalau ada apa-apa sampeyan ke sini lagi,” kata Wali Paidi.

Setelah dibaca selama 1 bulan surat Yasin dan surat Waqiah, tetap tidak mengeluarkan tanda apa-apa.

Ahirnya orang ini kembali lagi ke Wali Paidi.

“Masih belum ada tanda apa-apa kang,” kata orang yang pingin naik haji.

Wali Paidi terdiam dan memejamkan matanya sebentar.

Selanjutnya dengan mantab dia berkata kepada orang tersebut :

“Kalau begitu... tambah lagi dengan surat tanah, pasti sebentar lagi sampeyan akan berangkat haji.”

“Ha..ha..ha...” 

Orang yang kepingin haji ini tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Wali Paidi.

“Anu kang... katanya para kiai.... haji itu tidak hanya ibadah rohani saja, tapi juga ibadah jasadi."

"Terutama ibadah dengan bondo atau duit,” jawab Wali Paidi dengan mimik serius tapi terlihat lucu. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda