Mau Dibawa ke Mana Harian DI’sWay?

COWASJP.COM – Pada minggu-minggu ini,  Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos, mantan Menteri BUMN, menjadi perbincangan hangat. Terutama di kalangan bekas anak buahnya yang terhimpun dalam Cowas JP (Konco Lawas Jawa PosGroup). Perkumpulan mantan karyawan Jawa Pos Group.

Pasalnya, Dis (nama kode wartawan) dan panggilan saat aktif di Jawa Pos, membuat keriuhan dengan istilah; “Bukan Koran, tapi Harian DI's Way .“  

BACA JUGA: Abah Lupa DI's Way Terbit Pagi Ini​

Beberapa teman Cowas pun kaget. Seperti  mendengar keriuhan perabot dapur yang jatuh melalui tangga dari lantai 2. “Di era redupnya kejayaan koran kok malah bikin surat kabar,” kata salah seorang Cowaser. 

“Apa yang sedang dicari?” sahut Cowaser lainnya.    

“Dari sisi finansial  tidak ada yang dikhawatirkan untuk 20 tahun mendatang,” tulis Dahlan pada media online Cowasjp.com.

Lantas apa?  Muncul silang pendapat yang cukup seru di WA Group Cowas JP. Tiba tiba melalui tulisan yang diunggah Cowasjp.com (tulisan Dahlan Iskan setiap hari lewat media online DI’s Way), Dahlan memberikan pernyataan yang juga membuat dahi para mantan anak buahnya berkerut. “98% saham perusahaan anyar  tersebut adalah milik karyawan, sisanya 2% milik saya.“  

Inspirasinya adalah perusahaan raksasa Huawei, di mana pendirinya Ren Zhengfei hanya memiliki saham 2 %.  

Masalah kepemilikan saham oleh karyawan pers diatur dalam Undang Undang Pers nomor 40 tahun 1999, sebagai upaya untuk menyejahterakan karyawan dan insan Pers yang selama ini terabaikan.  

Apakah semata-mata untuk menyejahterakan para karyawan di perusahaan barunya?

Undang Undang Pers memaksa perusahaan pers memberikan kontribusi kepada para karyawan pers. Sebab, ada dugaan  sebagian terbesar hasil keuntungan dari perusahaan pers tidak dinikmati oleh para karyawannya. Tapi hanya dinikmati pemilik sahamnya. Dialihkan atau diinvestasikan ke berbagai  bidang lain yang  tentu saja insan pers hanya bisa gigit jari. Kalaupun ada  yang dibagikan, gula-gula yang diperoleh  insan pers hanya  percikan kecil keuntungan. Itupun kalau perusahaan sedang berbaik hati.   

Karyawan dan insan pers yang babak belur membesarkan  perusahaan selalu terlewatkan dalam pembagian keuntungan.  Inilah yang mungkin menginspirasi pembuatan undang-undang Pers.

Kita tidak bisa menduga langkah Dahlan hendak ke mana? Membuat  gebrakan di masa sulit. Dalam situasi pendemik  Covid-19, di mana semua sektor perekonomian remuk dan ambyar, malah membikin media cetak yang bukan koran. Dengan persiapan yang relatif pendek, seperti  mempersiapkan serbuan kilat dalam peperangan.  

Tentu banyak pihak termasuk para mantan anak buahnya menduga-duga apa yang akan dilakukan Harian DI's Way?    Modal membuat media cetak dengan nama besar Dahlan Iskan pasti tidak akan ecek ecek. Pasti telah disiapkan permodalan yang besar dan keseriusan luar biasa untuk menjadi pemain baru dalam harian cetak.

Yang patut diacungi jempol adalah kepemilikan saham yang mayoritas milik karyawan. Semua modalnya 100 persen dari Dahlan Iskan. So, Harian DI's Way pasti dibangun sepenuh hati oleh Dahlan Iskan sendiri. 

Berkaca pada pengalaman masa lalunya, ketika membesarkan Jawa Pos 1982 - 2000), Dahlan bisa menyinergikan karyawan lama yang sudah berumur dan anak muda yang enerjik dan powerfull.   

Bedanya, Harian Di's Way adalah perusahaan baru. Sama sekali dari nol. Bukan melanjutkan perusahaan lama yang sudah ada seperti Jawa Pos.

Barangkali untuk meng-copy paste pengalamannya tahun 1982 masuk Jawa Pos, beberapa mantan anak buahnya yang ikut  bergabung tahun 1982, diajaknya lagi bekerja di Harian Di's Way. Misalnya Mbak Oemi – sapaan akrab Theresia Oemiati yang tidak muda lagi (69 tahun) yang ditugasi sebagai sekretaris redaksi. Seperti jabatannya dulu di di Jawa Pos maupun di Biro MBM Tempo Jawa Timur doeloe.

Dari segi kemampuan memang tak diragukan karena seumur-umur Mbak Oemi kerja di Jawa Pos. Sudah terbiasa momong arek-arek wartawan yang tentu menghadapi tekanan berat dalam bekerja.

Semua mantan anak buahnya Dahlan Iskan yang tergabung dengan Cowas JP saat ini  banyak yang  berumur lebih dari 60 tahun. Mereka kebanyakan Pasukan Tempur Revolusi Kembang Jepun 1982 - 1989.

Saya yang bergabung Jawa Pos tahun 1984, adalah rekrutmen kedua lulusan S-1 dari berbagai Perguruan Tinggi. Ada yang dari IKIP, ITS, UGM, UNEJ, IPB. Saat itu masih berumur 25 tahun lebih sedikit.   

Karyawan lama (asli) Jawa Pos ada yang berumur 80 tahunan, Almarhum Pak Singgih. Saat saya masuk Jawa Pos ada anak mudanya juga. Waktu itu semuanya ditangani (ditata dan diatur) Dahlan Iskan sendiri.

Dahlan Iskan bekerja sambil meningkatkan keterampilan anak buahnya. Membangkitkan semangat dan militansi kerja. Dan bila perlu melayani distribusi koran sampai di jalan-jalan. Membangun jaringan agen di antara para karyawannya sendiri.

Ibarat sepakbola, Pak Dahlan mengajarkan permainan TOTAL FOOTBALL ala Rinus Michels yang fenomenal itu.

Saya teringat saat ada teman yang usul, Jawa Pos perlu punya perpustakaan, maka keesokan harinya sudah tersedia ruang perpustakaan. Meskipun belum ada buku bacaannya sama sekali. Tapi di ruang itulah ruang baca wartawan untuk memperluas referensi.

Dahlan-Iskan.jpgDahlan Iskan (kanan) tadi malam, Jumat 3/7/2020, mengawasi kerja divisi redaksi.

Lain waktu, ada yang memberikan masukan, “ Jawa Pos, harus punya wartawan di luar negeri, Pak. Ini untuk membuktikan bahwa Jawa Pos adalah koran yang tak dianggap enteng.”

Tak sampai 2 minggu yang usul tersebut (Almarhum Djoko Susilo) berangkat ke AS. Terus disusul penempatan wartawan di negara Eropa, Timur Tengah, Hong Kong, dan Kuala Lumpur. Bahkan ada yang di Sydney, Australia.

Semua even internasional penting diliput oleh wartawannya sendiri. Bila perlu pasukan khusus dari Surabaya atau Jakarta diberangkatkan untuk memperkuat tim peliput.

Maka, unsur ekslusivitas yang keren pun pasti didapat. Gengsi koran terdongkrak naik. Tentu saja berita-berita lain dari kantor berita asing tetap dimuat. Tapi pasti akan berbeda dengan koran-koran lain. Itulah nilai lebih Jawa Pos doeloe, yang kini telah punah. 

Ketika masa resesi 1998 menghantam dunia, semua wartawan di luar negeri ditarik pulang ke tanah air. Kemudian “dalih berhemat” ini berjalan terus. Sampai sekarang. Alhasil semua berita internasional adalah copy paste kantor berita dan media online. Hilanglah semangat ingin lebih baik dan lebih baik. Tidak ada lagi angle lain yang eksklusif dan menggairahkan bagi pembaca.

Saya pun pernah usul, bagaimana kalau Jawa Pos memuat jawaban Ujian Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang waktu itu masih lima atau 10 perguruan tinggi. Saya pun ketiban sampur karena hanya perlu  9 jam, jawaban sudah masuk, dan jelas puyengnya menata di lembaran koran.

Barangkali penerbitan Harian DI's Way ada juga yang mengusulkan atau membisiki. Tapi bisa juga tidak ada.  Sepertinya itu ide Pak Bos sendiri. Asli dari Pak Bos – sapaan akrab Dahlan Iskan di kalangan anak buahnya doeloe.

Kalau melihat aktifnya turun lapangan, tampaknya Dahlan mempersiapkan harian baru ini secara detail.  

Tekad kuat menerbitkan Harian Di's Way menjadi tebak-tebakan mantan anak buahnya di Cowas JP. Termasuk penulis.  Tebakan untuk membuktikan bahwa media cetak tidak  harus mati di zaman serba digital sekarang. Bahkan Dahlan merasa lebih muda di dalam tantangan barunya sekarang.  

Ada juga yang menduga untuk menebus dosa, tapi dosa apa?  Lebih tepat jika dikatakan Dahlan berbuat banyak kebaikan di sisa umurnya. Buktinya 98% saham dimiliki karyawan. Semoga benar-benar menyejahterakan para karyawannya,bila Harian DI’sWay maju dan maju.

Dugaan terakhir ini, dari aspek pribadi Pak Dahlan tidak kekurangan harta sampai 7 turunan. Dia telah bergerak di bisnis lain yang besar. Antara lain pabrik irradiasi yang sangat dibutuhkan oleh para eksporter buah dan pangan. Yang sangat prospektif itu.

Dan semua itu tak dapat dipungkiri  bermula  dari membesarnya Koran Jawa Pos menjadi Koran Nasional.  Keuntungan berlimpah ruah, sehingga terus menerus  berinvestasi ke mana mana dan sampai kini. Mulai bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan koran sampai sektor yang bukan bisnis intinya.

Jadi, Harian DI’sWay bukan untuk mencari keuntungan pribadi seorang Dahlan. Yang paling mendekati kebenaran, ya menjadi ladang beramal sholeh di sisa umur.  

Jangan-jangan hasil keuntungannya nanti didedikasikan untuk orang-orang yang kurang beruntung. Termasuk kepada para mantan anak buahnya yang sesudah pensiun dari Jawa Pos, banyak yang  hidupnya kurang beruntung.   

Semoga sukses Pak Bos. Semoga selalu diberi kesehatan, dikaruniakan  umur panjang untuk  mewujudkan niat baiknya. Aamiin.  Bravo Harian DI'sWay!!(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda