Cukup Kebapakan untuk Besarkan DI's Way

DESAIN: YouTube/Yu'Srie.

COWASJP.COM – Menyalip di tikungan tajam sungguh berbahaya. Dibutuhkan kecepatan yang luar-biasa dan keterampilan yang tinggi, agar berhasil mendahului lawan hingga tiba paling awal di garis finis. 

Performa mesinnya pun dituntut sangat prima.

Lebih dari itu juga diperlukan jam terbang yang panjang. Salah perhitungan secuil saja, sungguh fatal akibatnya. Nyawa benar-benar dipertaruhkan.

Tentu saja ada alasan khusus, mengapa seorang pembalap mengambil keputusan untuk mempertaruhkan nyawanya tadi. 

Dan, begitulah saya menangkap KENEKATAN Dahlan Iskan menerbitkan Harian DI's Way-nya pada Sabtu 4 Juli 2020 dari kantornya di kawasan Yos Sudarso, Surabaya. Saya sengaja menuliskan kenekatan dengan huruf besar, sebagai simbol hal yang luar-biasa.

Ketika Covid-19 masih membelenggu kita, Bos --demikian saya biasa memanggilnya-- justru pilih tancap gas. Sekuat-kuatnya. Sekencang-kencangnya.

Saking kuat tancap gasnya, saya sangat yakin seluruh praktisi media di Tanah Air tengah menanti kelahiran jabang bayi DI's Way. Bagaimana jenis kelamin, dan seperti apakah wajah dan kulit tubuhnya. Juga posturnya. Pokoknya komplet.

Maaf, sejak awal saya tak pernah percaya, bahwa Bos akan meninggalkan dunia media cetak yang telah melambungkan namanya sebagai pengusaha hebat.

talks-show.jpgPenulis, Moch. Taufiq. (FOTO: istimewa)

Sejak pisah dari Jawa Pos --yang telah dibesarkannya hingga menjadi harian pagi nasional-- saya sangat meyakini pada suatu hari nanti Bos bakal kembali ke dunia aslinya: media cetak. 

Kapan kepastiannya, saya pikir hanya menunggu waktu saja. Bom itu akan meledak pada saat yang tepat. Dan, Bos sendirilah yang meledakkannya.

Pada saat itulah Bos bakal melakukan REVANS. Dan, dia sangat paham kapan pertarungan hidup-mati itu harus dilaksanakan. Ketika pertarungan ini digelar, Bos juga tahu persis bagaimana kondisi lawan, titik kelemahannya, di bagian mana yang harus digempur habis-habisan agar lawan menyerah. Kalah.

Ketika pandemi Covid-19 masih mencekam sebagaimana yang terjadi sekarang ini, Bos justru nekat menyalip lawan di tikungan yang sangat tajam.

Saya sebut sangat tajam, karena porsi iklan dan tiras media cetak menurun drastis, termasuk Jawa Pos. Dan, saya berpendapat inilah kehebatan seorang Dahlan Iskan. Bahwa guncangan ekonomi di masa pandemi Corona justru dijadikannya momentum paling tepat untuk menyalip lawan yang  menguasai pasar koran di Jawa Timur. 

Ketika pemasukan iklan dan pemasaran koran menukik tajam, maka Bos mengibaratkannya sebagai motor balap yang baru saja  melewati bendera start. Posisinya masih sangat memungkinkan untuk dikejar. 

Maaf, bukan hanya untuk dikejar saja. Melainkan disalip, lantas ditinggalkan keteteran jauh di belakang. Keok.

Hingga menjelang seminggu DI's Way terbit, kasak-kusuk pun berseliweran. Yakni tentang latar belakang dan senjata apa yang akan digunakan Bos untuk menaklukkan lawannya.

Menurut hemat saya, Bos mempunyai energi besar untuk mendirikan dan membesarkan DI's Way bukan karena dukungan penuh dari beberapa komunitas besar yang mapan. Atau pun karena Bos punya segudang uang untuk mengoperasionalkannya.

Namun, kekuatan besar yang dimiliki Bos sesungguhnya adalah kedewasaannya yang makin matang. Lebih mampu bertutur-kata. Lebih pintar mengendalikan emosi. 
 
Kartu di Tangan Bos
Saya tidak perlu memberikan contoh atas makin matangnya Bos dalam bersikap. Namun keputusannya memiliki saham di DI's Way hanya 2 persen --karena 98 persen diperuntukkannya untuk karyawan-- adalah bukti konkretnya. Tidak sepeser pun uang yang harus dikeluarkan karyawannya untuk menanam saham di DI's Way.

Jika langkah Bos dianggap hanya mengekor kepemilikan saham di Huawei --yang 98 persen sahamnya dimiliki karyawan-- maka kita semua perlu membuka data: adakah media di Tanah Air yang sudah menerapkan pola kepemilikan saham sebagaimana yang dilakukan Huawei.

Walaupun baru akan terbit 4 Juli, namun di mata saya Bos kini sudah mengantongi kemenangan sementara. 

taufik.jpg

Sorotan publik, praktisi media, dan perusahaan-perusahaan --yang gemar membelanjakan uangnya beriklan di media cetak-- atas 'Apa dan Siapa DI's Way' secara tidak langsung sudah menepikan posisi harian yang telah ada di pasaran. 

Nama besar dan tangan dingin Bos mengelola media cetak, telah menjadi magnet kuat untuk menarik perhatian kita semua.

Masalahnya sekarang adalah apakah DI's Way  mampu berdampingan dengan gadget dalam memenuhi kehausan informasi masyarakat luas. Sebab, sekian tahun terakhir ini  kita sudah terbiasa hidup bersama gadget untuk mendapatkan beragam informasi terkini. Tanpa kenal ruang dan waktu. Nyaris semuanya diperoleh secara gratis. 

Saya tidak sependapat, jika DI's Way lebih diposisikan sebagai media bagi kelompok millenial. Saya lebih sepakat DI's Way adalah media alternatif bagi siapa pun yang benar-benar haus akan ketajaman dan keakuratan informasi. Lebih banyak menampilkan features berita dan foto. Humanis, namun penuh inspirasi.

Bos sangat beruntung mempunyai pendamping bisnis bernama Zainal Muttaqin, mantan Koordinator Halaman Olahraga Jawa Pos era Kembang Jepun. Zam --panggilan akrab Zainal Muttaqin-- yang saya kenal mempunyai sikap kalem, lembut dan lebih bisa berkompromi. Karena cenderung kalem, maka cara bicaranya pun tidak meledak-ledak. Dan, ini sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang style Bos.

Artinya, Zam lebih pas kalau kebagian tugas yang berurusan langsung dengan karyawan yang mempunyai karakter yang sangat beragam.

Bahwa memang tidak ada gading yang tak retak. Begitu pula yang bakal dan kelak dialami oleh DI's Way. Namun, saya optimis DI's Way mampu memiliki pembaca tersendiri, sekaligus membuka dimensi baru dalam penyajian berita bagi masyarakat luas.

Maka, saya hanya berpikir sederhana saja soal masa depan DI's Way. Media ini akan merebut sukses jika Bos benar-benar mampu mengalahkan dirinya sendiri. Dia dituntut bersikap sebagai seorang ayah bagi timnya.

Siapa saja tahu Bos bukanlah tokoh sembarangan. Apa pun yang disentuhnya --hampir semuanya--  menjadi emas. Nyaris selalu memetik laba besar. Itulah sebabnya seluruh personel di DI's Way akan mati-matian menjunjung tinggi nama baik Bos. Agar tidak tercoreng sedikit pun.

Saya sangat yakin, personel DI's Way justru sangat bangga dan tersanjung, lantaran telah lolos seleksi untuk sekantor dengan Bos. Artinya, mereka rela bergabung bukan semata-mata karena besaran gaji dan iming-iming fasilitas lainnya. Mereka bakal militan.

Bagi Bos sendiri, inilah pertaruhan segala-galanya. Pertarungan yang terakhir. Penuh gengsi. Pilihannya hanya 2: hidup atau mati.

Faktor umur Bos yang tahun depan bakal genap  70 tahun, saya pikir bukan alasan yang memberatkan untuk kembali mengukir sejarah kesuksesan dalam mendirikan harian di Surabaya dengan modal sendiri.

Justru inilah awal pertarungan revans yang sesungguhnya. Dan, secara pribadi saya mengucapkan selamat datang di arenanya! (*)

Penulis: Moch. Taufiq, Wartawan Senior di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda