Wali Paidi Episode 02

Ilmu Melipat Bumi

Beruang putih di Kutub Selatan. (FOTO: Arturo de Frias Marques via Wikimedia Commons)

COWASJP.COM – Sehabis dari pertemuan di Makkah, Wali Paidi kembali ke Indonesia. 

Wali Paidi pingin mencoba ilmu yang baru saja didapat dari temannya, wali dari India, Naseer Khan. Yaitu ilmu melipat bumi. 

Naseer Khan memang terkenal sakti. Seluruh biksu di India tidak dapat menandingi kesaktiannya. Bahkan biksu dari Tibet banyak yang masuk Islam, setelah kalah bertarung dengan Naseer Khan ini.

Ketika berangkat ke Makkah Wali Paidi "nunut" temannya dari India ini. Wali Paidi hanya disuruh menggandeng tangannya, tiba-tiba saja cling.... dia dan temannya Naseer Khan sudah berada di Makkah. Di atas bukit tempat pertemuan.

Dan karena kasihan, Wali Naseer Khan ini mengijazahkan ilmu melipat bumi kepada Wali Paidi, supaya di acara pertemuan-pertemuan yang akan datang, Wali Paidi tidak repot mencari nunutan lagi. 

BACA JUGA: Episode 1: Siapakah Wali Paidi?‚Äč

Wali Paidi memejamkan matanya dan mulutnya mulai berkomat kamit membaca doa-doa khusus. Tiba-tiba saja tubuh Wali Paidi terasa dingin, bumi yang didudukinya terasa seperti es.

Wali Paidi membuka matanya. Tampak di depannya bukit yang tertutup es.

Dia melihat ke bawah, bumi yang didudukinya juga terbuat dari es.

"Di manakah aku ini," batin Wali Paidi.

Wali Paidi berdiri, melihat sekelilingnya, semuanya tampak putih tertutup salju. Wali Paidi berjalan mengitari tempat yang belum pernah dilihat selama hidupnya.

Sepi tiada orang sama sekali. Lama lama Wali Paidi mendengar ada orang bersenandung membaca sholawat.

Wali Paidi dengan langkah perlahan-lahan, mengikuti asal suara senandung sholawat tersebut.

senjata953ad.jpgLaskar Taliban di Afghanistan. (FOTO: stockphoto.com)

Tampaklah di depannya beruang besar putih, membungkuk di tepi sungai mencari makanan ikan segar.

Masya Allah ternyata yang bersenandung shalawat itu bukan manusia, tapi beruang putih ini.

Wali Paidi berhenti, beruang putih itu menoleh kepadanya, dan berkata, 

"Assalamu’alaikum," ucap beruang itu.

"Wa'alaikumussalam" jawab Wali Paidi dengan perasaan kaget dan heran.

"Kamu Wali Paidi kan? Aku tadi dapat kabar kalau nanti ada orang yang kesasar ke sini, namanya Wali Paidi," ucap beruang itu.

Setelah memakan ikan yang baru didapatnya beruang putih itu melanjutkan berkata lagi, "Kamu jangan kuatir memang sudah biasa orang belajar itu tidak bisa langsung menguasai ilmu yang baru didapatnya. Cobalah sekali lagi," kata beruang tersebut, lalu pergi meninggalkan Wali Paidi.

Wali Paidi diam seribu bahasa. Dia mendongak ke atas melihat posisi matahari. Ternyata dia

kesasar ke kutub selatan, dan bertemu beruang putih yang bisa bicara.

 Setelah sholat sunnah dua rokaat, Wali Paidi mulai merapal doanya kembali dan cling......

 Wali paidi membuka matanya kembali, dan betapa kagetnya Wali Paidi ketika membuka matanya tampak di sekelilingnya banyak orang berlarian dengan memakai baju gamis selutut dgn memakai surban.

Tampak di tangan mereka senjata AK 47. Terdengar suara bising peluru berseliweran. "Aduh.... kesasar lagi aku ini, tadi kesasar ke kutub selatan , sekarang kesasar lagi ke Afghanistan, wes-wes kok gak kesasar ke Hollywood saja..." gumam Wali Paidi.

Wali Paidi mengamati salah satu pasukan yang semuanya berjenggot panjang. Dia tersenyum sendiri melihat jenggot mereka. Memang di negara yang dikuasai Taliban ini, bukan operasi helm yg dilakukan di sana, tapi operasi jenggot.

Kalau ada laki-laki yang tidak berjenggot maka kena tilang. Wali Paidi berdiri berjalan mencari tempat yang sepi. Dia tidak suka dengan peperangan.

Wali Paidi memutuskan untuk langsung pergi saja. Setelah menemukan tempat sepi, Wali Paidi mulai merapal do’a-do’a ilmu melipat buminya lagi.

Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Wali Paidi. Dia membatin mudah-mudahan tidak kesasar lagi.

Wali Paidi membuka matanya perlahan-lahan. Tampak di depannya rumah yang terbuat dari kayu. Persis rumah para transmigran di luar Pulau Jawa.

Tidak lama kemudian, keluarlah seorang tua berpeci putih dengan baju taqwa dan bersarung melambaikan tangannya memanggil Wali Paidi. 

Dia teringat dengan orang tua ini, beliau adalah Habib Ali Al-Habsyi Pahat, Malaysia, yang kemarin juga ikut pertemuan di Makkah. 

"Masya Allah ternyata aku masih kesasar lagi" batin Wali Paidi.

Wali Paidi melangkahkan kakinya mendekati Habib Ali al-Habsyi. Dia teringat beberapa tahun yang lalu ketika Sayyid Maliki dari Makkah mau berkunjung ke ndalemnya Habib Ali ini, Di dalam perjalanan Sayyid Maliki ini tiba-tiba merasakan kangen yang amat sangat terhadap datuknya Baginda Nabi Muhammad SAW. 

Setelah sampai di depan ndalem Habib Ali, al-Habib Ali hanya menyuruh masuk Sayyid Maliki. Sedang rombongan yang lain disuruh menunggu di luar, beberapa menit kemudian Sayyid Maliki keluar dengan beruraikan air mata. Sayyid Maliki menangis tersedu-sedu.

“Sudah terobati kangenku...” ucap Sayyid Maliki dengan masih menangis.

Ternyata ketika Sayyid Maliki masuk ke ndalemnya Habib Ali, Sayyid Maliki dipertemukan oleh Habib Ali dengan Baginda Nabi Muhammad SAW, Subhanallah.....

“Mari masuk nak, jangan melamun saja," ucap Habib Ali.

"Inggih mbah..." jawab Wali Paidi, lalu melangkah mendekati Habib Ali. Setelah mencium tangan beliau, Wali Paidi masuk ke ndalem.

"Kamu memang gak bakat dengan ilmu melipat bumi itu nak Paidi. Jadi nanti gak usah dicoba lagi, kamu naik pesawat saja dari sini ke Indonesia," kata Habib Ali.

"Inggih (ya) Mbah," jawab Wali Paidi.

"Siapa tahu nanti ketika kamu naik pesawat, kamu bertemu dengan Mulan Jameela, yang kamu gandrungi itu," goda Habib Ali.

“Ha... ha... ha....” Wali Paidi hanya bisa tertawa mendengar godaan Habib Ali ini.

Setelah makan bersama, Wali Paidi pamit pulang. Habib Ali menepuk- nepuk pundak Wali Paidi mengantarkannya keluar dari ndalem.

“Ingat perintah sang Sultan nak Paidi, setelah sampai di rumah segeralah ke Gunung Arjuna untuk kholwat di sana..” ucap Habib Ali.

"Inggih mbah," jawab Wali Paidi.

Setelah mencium tangan Habib Ali, Wali Paidi beranjak pergi ke bandara, naik pesawat pulang ke Indonesia. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda