Rambu Islam New Normal

Umat harus Patuhi Protokol Kesehatan

Dr Shofiyullah Muzammil MAg

COWASJP.COM – Harus ada kesadaran bagi pemuka/tokoh agama untuk berbagi peran dalam menjalani new normal ini. Sains atau medis harus diberikan peran teknis berdasar atas riset ilmiah yang dilakukan untuk menentukan dan menjalankan protokol kesehatan. Sedangkan agama tetap memegang peranan dalam identitas nilai-nilai keislaman agar umat patuh pada protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh sains atau medis.

Demikian disampaikan oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Ekonomi Bisnis UIN Sunan Kalijaga, Jogja Dr Shofiyullah Muzammil MAg. Dr Shofiyullah menyampaikan hal tersebut dalam agenda Sambung Silaturahmi bertajuk “Perilaku Baru Dalam Kondisi New Normal Dari Aspek Kesehatan Dan Islam,” melalui Zoom Meeting ditemani dr Raden Budi Santosa SpM MM, yang menyampaikan paparannya tentang prinsip-prinsip perilaku menghadapi era New Normal dari sisi kesehatan. 

Pria asal Madura yang juga menjabat Komisi Hukum dan Fatwa MUI DIY menegaskan bahwa kita dituntut untuk tidak berlama-lama stay at home tanpa batas yang tidak bisa ditentukan. Masyarakat Indonesia harus segera bangkit mengikuti kondisi New Normal.

Dalam konteks itulah, Shofiyullah memberikan gambaran bagaimana masyarakat Indonesia seharusnya berperilaku di era New Normal. Ia pun memberikan rambu-rambu berdasarkan prinsip-prinsip dasar dalam agama Islam.

"Agama juga membackup pemerintah dalam melakukan peran kebijakan dengan mengeduksi umat atas prinsip beragama yang mengutamakan keselamatan jiwa dan menghindari kesulitan dan kepayahan dalam beribadah," tegasnya sembari menambahkan umat Islam harus patuh pada protokol yang sudah ditentukan ahlinya.

Ditegaskannya, agama, termasuk juga Islam dapat diibaratkan sebagai Pharmakon, istilah dalam farmasi yang berarti racun atau obat. Bisa menjadi racun dan bisa juga menjadi obat, ditentukan oleh konteks dan intensinya. Bisa menjadi obat bila dosis-nya tepat, dan menjadi racun bila dosis-nya berlebih atau over dosis. Demikian juga dalam beragama, termasuk juga dalam ber-Islam, hendaknya diterapkan secara tepat agar membawa kebahagiaan dunia dan akherat. "Sebagai belief system agama juga berfungsi sebagai pharmakon."

Menurut Shofiyullah, ada tiga peran agama di masyarakat yakni peran teknis, kebijakan dan identitas. Ia lantas merincinya. Peran teknis, agama memberikan petunjuk praktis dalam menjalankan ajaran syariat. Peran kebijakan, agama memberikan pedoman dan ketentuan yang harus dijalankan dan dipatuhi. Peran identitas, agama memberikan identifikasi dan kualifikasi seseorang dalam menjalankan ajaran/

"Ketiga peran itu harus dalam takaran dosis yang tepat sehingga Agama bisa berfungsi sebagai obat dan bukan racun bagi umat," tandas pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil DIY ini.

Penanaman dan doktrin nilai tauhid/akidah yang benar adalah pondasi utama dalam beragama (believe/faith/ trust). Iman yang benar akan menenangkan. Hanya Allah yang wajibul wujud. Hanya Allah sebagai PEMILIK/AL-MALIK. Hanya Allah yang menilai (AL-HAKIM), hanya Allah (AL-KHALIQ) yang bisa mematikan (AL- MUMITU) dan menghidupkan makhluk (AL-MUHYI).

Ilmu Pengetahuan adalah pondasi kedua dalam beragama, addienu ‘aqlun la diena liman la aqla lahu. Ilmu Pengetahuan adalah sunnatullah tanpa ilmu pengetahuan maka dia akan tergilas dan terlempar dari gelanggang sejarah peradaban.

Dalam situasi new normal, Shofiyullah juga menekankan prinsip keselamatan badan/jiwa lebih diutamakan dibanding menjalankan ajaran agama secara benar tapi beresiko pada terancamnya jiwa. Ditegaskannya, ibadah tidak menyulitkan manusia. Allah tidak menghendaki hambaNya tersiksa dalam menjalankan ibadah. Apalagi sampai mencelakakan diri.

Allah menghendaki kenyamanan bagi hambaNya dalam menjalankan ibadah. Tidak benar anggapan bahwa kualitas ibadah berhubungan dengan tingkat kesulitan dan kepayahan dalam melaksanakannya. Kemaslahatan manusia selamanya lebih utama dari kemaslahatan agama. Jika dihadapkan pada pilihan antar keduanya, kemaslahatan jiwa harus diutamakan daripada kemaslahatan agama.

Pria yang suka humor ini juga menjelaskan soal pandemi, wabah dan social distancing dari kisah sejarah Islam. Ia mengutip satu hadits. “...Wabah itu terkadang datang, dan terkadang pergi. Bila terdengar ada di suatu tempat maka janganlah kalian mendatanginya. Dan bila terjadi di suatu tempat sedangkan dia ada di situ maka janganlah kalian keluar dari tempat itu." (HR Muslim 4112)

Kemudian juga menceritakan kisah Gubernur Syam ‘Amru bin al-‘Ash ra. (50 SH – 43 H = 574 – 664 M) yang memerintahkan rakyat Syam saat dilanda pandemi yang dikenal dengan Tho’un Amawas. Kisah yang saat ini bisa diberi makna social distancing.

 “Wahai seluruh rakyat Syam, sesungguhnya tho’un itu ibarat api yang menyala berkobar-kobar, dan kamu semua adalah bahan bakarnya, oleh karena itu, berpencarlah kalian, pergilah secara terpisah-pisah ke gunung-gunung, agar api tidak lagi mendapatkan bahan bakarnya, dengan cara demikian, api itu akan padam sendiri.”

Mengakhiri paparannya, Shofiyullah menegaskan bahwa orang sukses di dunia adalah orang yang tahu dan patuh pada ketentuan hukum alam apapun agama dan keyakinannya. Sedangkan seorang Muslim yang tahu dan patuh pada ketentuan hukum alam (berakhlak) hidupnya akan sukses dunia akhirat. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda