Marketing Bodoh, tapi Berhasil Melawan Produk Gratis

COWASJP.COMTak bisa dijual saya yang  bodoh. Bisa terjual masih bodoh juga.

***

Kreativitas tidak harus datang dari atasan, pimpinan atau Bos saja. Anak buah pun bisa  memunculkan ide dan kreativitas yang patut diacungi jempol. Meskipun kreatifitasnya sederhana tapi punya efek yang besar dan tak pernah terpikirkan oleh Bosnya.  

Kadang memang ada arogansi yang melekat pada diri seorang Bos. Muncul perasaan lebih hebat, lebih pintar, dan lebih segala-galanya dibanding anak buah. Kalau sudah model seperti ini Bosnya, jangan berharap kinerja di unitnya akan moncer. Malah bisa  terjadi  sebaliknya, boomerang menunjam.

Hal ini terjadi saat  awal menjadi petugas lapangan di perusahaan baru saya (PT Petrokimia Gresik) sekitar tahun 1987 (33 tahun lalu). Setelah berhenti menjadi wartawan Jawa Pos.   

Sebagai anak muda sangat menggembirakan dan menyenangkan bekerja dengan fasilitas yang cukup baik di kala itu. Kendaraan SUV terbaru untuk operasional sehari-hari dan semua pembiayaan ditanggung perusahaan. Tinggal nyopiri saja. Memang oke banget  bagi orang muda, pendek kata bisa berpenampilan perlente sekaligus bergaya.

Padahal semua fasilitas tersebut adalah bagian dari sarana memudahkan dan meringankan dalam bekerja. Bagaimana tidak, karena pekerjaannya menuntut harus sering ke daerah yang jaraknya berjauhan. Untuk  membina hubungan dengan pelanggan dan mengembangkan produk.   

Saat itu, serangan wereng coklat tanaman padi  di Indonesia meluas. Yang pasti akan membahayakan ketersediaan pangan nasional. Bahkan bisa berefek kelaparan bagi rakyat Indonesia bila tak segera ditangani. 

Jepang sebagai negara sahabat dan sangat berkepentingan terhadap kestabilan dalam segala hal terhadap Negara Indonesia,  berupaya membantu untuk mengendalikan serangan wereng coklat. 

Sewaktu masih jadi wartawan Jawa Pos, saya pernah menuliskan di halaman artikel tentang berbagai aspek perkembangan wereng coklat. Mulai dari kerugian yang ditimbulkan, siklus hidupnya, cara mengendalikan, dan akibat lainnya. Dan itu menjadi pembahasan serius di DPRD Jawa Timur. Saya tahunya setelah Pak Dahlan Iskan (Pemred Jawa Pos) kala itu mengatakan bahwa artikel saya tentang wereng ramai dibicarakan DPRD. 

Saat itu pemerintah Jepang memberikan bantuan gratis insektisida barbahan aktif Buprofesin (APPLAUD) kepada pemerintah Indonesia  sebesar 1000 ton. Cukup untuk sejuta hektar (1.000.000 ha). Ada sebagian yang diproduksi di Jepang dan sebagian di Indonesia di salah satu anak perusahaan Petrokimia Gresik  yang didirikan bersama Mitsubhisi Corporation dan Nippon Kayaku.

Applaud sendiri saat itu merupakan insektisida satu-satunya paling ampuh dan efektif mengendalikan wereng coklat. Barangkali terampuh di dunia, bersifat sistemik, berefek telur wereng tidak menetas, tak bisa ganti kulit. Racunnya berada di dalam daun di mana wereng hidup dengan menghisap daun batang padi bagian bawah.

bawang2.jpgPersiapan lahan tanam bawang merah. (FOTO: Bambang Supriyantoro/Cowas JP)

Meskipun insektisida untuk wereng tersebut merupakan bantuan dan digunakan secara gratis, ternyata Nihon Nohyaku pemilik produk dari Jepang,  mengirimkan juga  para ahlinya ke Indonesia untuk membantu menyosialisasikan produk Applaud WP kepada petani, dan pejabat pemerintah yang terkait. Agar tidak salah penggunaan dan menyampaikan manfaat lainnya. Tentu sambil mempromosikan produknya.   

Tidak seperti kita. Setelah produk kita masuk proyek, ya sudah ditinggal begitu saja seperti anak yang diterlantarkan.  Banyak kasus setelah berhasil mendapatkan proyek produk A, ternyata tidak berdampak positif untuk pemasaran pada masa berikutnya. 

Tak sampai setahun setelah Applaud didistribusikan merata di daerah sentra produksi padi, kemudian anak perusahaan Petrokimia Gresik tersebut mulai memasarkan insektisida tersebut secara bebas. Inilah yang secara ilmu marketing menyusahkan para marketer yang mendapat tugas memasarkan produk tersebut. Bagaimana tidak susah. Promosinya hanya untuk wereng pada tanaman padi saja.   Sementara kalau ada serangan wereng coklat , petani mengharapkan bantuan gratis dari dinas pertanian. Lha terus  dijual ke mana insektisida tersebut kalau hanya untuk wereng coklat pada tanaman padi.   

Mendapatkan produk Applaud WP dengan gratis dilawan dengan Aplaud dengan harga relatif mahal.   Hanya petani yang kepepet dan kebingungan mendapatkan Applaud (gratis) yang mau membeli.

Sifat orang Jepang pantang menyerah,  terus memonitor dan bertanya perkembangan Applaud bantuannya.   

Mereka datang berkali-kali ke kantor Gresik dan berkunjung ke daerah sekaligus memantau bagaimana perkembangan penjualan Insektisida  Buprofesin/Applaud WP.  

Sebagian besar petugas lapangan saat itu kebingungan. Dengan cara bagaimana menjualnya? Dengan alasan   hanya khusus wereng coklat, dan serangan wereng coklat terus mereda. Lantas juga harus melawan produk yang sama dengan harga gratis.

bawang1.jpgKios pestisida di Nganjuk. (FOTO: Bambang Supriyantoro)

Hampir semua gasus (petugas khusus lapangan) sebagai marketing di daerah tentu banyak yang sudah kehabisan akal. Sementara mereka terus didesak dan dipaksa oleh bosnya agar segera mengembangkan penjualan insektisida khusus untuk wereng tersebut  di pasaran.

Menariknya, ada salah seorang petugas khusus yang nekad menerobos di luar kelaziman (out of the box). Meskipun masih dengan isi kepala yang tetap bingung, yakni  dengan ide bodohnya,    mengembangkan Insektisida Buprofesin untuk bawang merah! (Bukan hanya untuk padi). 

 Ya, bawang merah! Ini tentu tidak lazim. Melanggar pakem. Tak sesuai dengan anjuran dan saran pada kemasan. Bahkan secara teknis pun tak mungkin efektif.  

Tapi apa yang terjadi? Ternyata berhasil,  produk tersebut mulai terjual di kios kios pertanian dan digunakan petani untuk tanaman bawang merah.     

Pada suatu kesempatan si Jepangnya mengunjungi daerah tersebut. setelah berkunjung ke berbagai wilayah sentra padi yang ada serangan wereng di Jatim. Si Jepang ini tertarik setelah mendapat laporan bahwa Applaud WP bisa terjual  untuk tanaman bawang merah. 

bawang.jpgPusat perdagangan bawang merah di Komoro, Nganjuk. (FOTO: Bambang Supriyantoro/Cowas JP)

Apakah tanaman bawang merah diserang wereng coklat? Mungkin dia heran. Applaud yang sebenarnya khusus untuk wereng coklat padi, koq bisa dijual untuk mengendalikan hama ulat pada bawang merah? 

Setelah bertemu petugas lapangan di pinggir area tanaman bawang merah, dan dijelaskan oleh petugas tadi, Si Jepang  geleng-gelang kepala sambil berkata: “Tidak bisa…tidak bisa…No Good….Nooo...no..no.” 

Mungkin dia bingung kok bisa?  Dan dia yakin tidak akan bisa. Mendengar jawaban tersebut  si Gasus (petugas khusus) yang ganti bingung. 

Gimana sih pak, orang Jepang ini memaksa-maksa kita untuk menjual Applaud WP sekarang malah bilang..Na..No..Na..NO. Gak ngerti aku Pak?“ sergah Gasus kepada  saya.  

Dia kemudian berbicara pelan-pelan, orang Jawa bilang nggremeng (menggerutu, bicara untuk diri sendiri). Tapi terdengar oleh saya. 

Begini gerutunya: “Tidak bisa dijual dikira saya yang bodoh. Sekarang saya bisa menjualnya masih dikatakan odoh juga.” 

Mungkin ada kata yang ditahan dalam hati: "Wong Jepang iki ngawur dan ngelantur."  Nggak bisa menerima kenyataan bahwa Applaud juga bisa untuk membasmi hama ulat bawang merah. Hehehehehe. 

Lantas saya bertanya ke Gasus yang bersangkutan.  "Bagaimana kamu berpromosi Applaud untuk ulat di bawang merah?” 

"Ya, sebagai campuran saja Pak. Barangkali ini Applaud bisa untuk membunuh telurnya. Petani saya minta campurkan dengan insektisida lain pilihannya. Semua produk yang disebut petani saya sarankan untuk dicampur Applaud WP agar lebih efektif  karena produk tersebut bisa ikut membunuh telurnya “

Beberapa tahun kemudian  ide sederhana dari si Petugas Lapangan “Bodoh “ ini, ternyata sudah diadopsi competitor. Di Jawa Timur bahkan insektisidanya  bisa terjual ratusan ton pada bawang merah. Padahal untuk ulatnya bawang, Applaud tak mempan. 

Ide marketing “Bodoh”  (bisa membunuh telur ulat) ini ternyata di bawa ke berbagai wilayah di Indonesia oleh kami (petugas mantan wartawan Jawa Pos ini). (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda