Bersama Milenial Beruntung

Diajari Kelola Sampah Plus Main Pantun dan Video

Materi Kearifan Lokal yang disampaikan oleh Ricardus Giring.

COWASJP.COM – ”Mas kita jadi workshop secara online ya. Harus ada praktik seperti biasanya. Pesertanya 100-an anak milenial di Pontianak, Kalimantan Barat.” Kalimat itu datang dari Ketua Yayasan Mekar Pribadi, Oetari Noor Permadi. Terdengar merdu dan jelas khas seorang penyiar atau pembawa acara. Bagi pemirsa TVRI di era 1990-an pasti mengenal nama ini. Ya, Oetari Noor Permadi adalah mantan penyiar TVRI.

Saya mengiyakan saja. Sebab, tidak hanya kali ini saja saya diajak Mbak Oetari –begitu saya biasa memanggilnya-- berbagi dan belajar bersama para milenial. Juga bukan baru kali ini saja saya berbagi dengan anak-anak muda Kalimantan Barat. Sebelumnya pernah ke Kabupaten Bengkayang, lima jam dari Pontianak menuju perbatasan Serawak.

Tapi, begitu telepon ditutup, saya pun bingung membayangkan kegiatannya akan seperti apa. Tersirat Mbak Oetari meminta kegiatan acara berlangsung seperti biasanya saat saya berada di tengah-tengah peserta workshop. Berinteraksi langsung, mendekat ke peserta yang mengalami kesulitan, memeragakan dan mencontohkan langsung agar bisa dilihat dan ditiru. 

Bagi orang yang lama bergelut di bidang audio visual dan pembelajaran budaya, Mbak Oetari sangat paham bahwa bahasa visual lebih mudah dipahami oleh anak-anak muda. Saat mereka melihat langsung, dan kemudian ikut melakukannya, maka memori yang terekam sangat kuat. Dan itulah yang dilakukan Mbak Oetari dengan Mekar Pribadi selama ini.

Mbak Oetari pertama kali ”membawa” saya pada acara di Surabaya tahun 2009 menjelang Pemilu. Acara bersama Direktorat Jenderal Informasi Keterbukaan Informasi Kominfo. Kegiatannya sosialisasi pemilu kepada para pemilih pemula. Pesertanya 100-an siswa SMK, SMA dan mahasiswa. Saya diminta melatih mereka untuk menulis dan melaporkan selayaknya reporter media. 

Kenapa sosialisasi pemilu diisi pelatihan menulis? Argumen saya saat mengusulkan ide ini sangat sederhana. Ketika peserta diminta untuk membuat laporan berupa tulisan, maka mereka mau tidak mau akan menyimak sebagaimana seorang reporter memperhatikan narasumber. Lalu, mereka akan mencatat hal-hal penting dan menarik yang disampaikan narasumber. Apalagi ada iming-iming tulisan terbaik mendapat hadiah. Narasumber waktu itu budayawan Radhar Panca Dahana dan Ketua KPU Surabaya.

Di awal acara, Dirjen IKP Kominfo sempat meragukan saya. ”Apa mungkin Mas Erwan dalam waktu dua jam bisa ngajari mereka?” Saya jawab, ”Insya Alllah!” Saya yakin dengan kegiatan yang sudah saya jalani cukup lama. Mendampingi mahasiswa maupun reporter baru satu media untuk menemukan fakta penting dan menarik yang bisa dan harus disampaikan ke publik.

sampa1.jpg

Di akhir acara, Bapak Dirjen itulah yang mengumumkan pemenang hasil reportase para peserta. Dan beliau selalu mereview karya para pemenang. Dia baca karya pemenang dan berucap, ”Wah, ini gaya Reportase TransTV. Kalau yang ini Liputan6.” Begitu seterusnya.

Begitu acara selesai, kami ke Bandara Juanda bersama Bapak Dirjen. Di dalam mobil, beliau menyampaikan terima kasih. ”Ternyata bisa ya Mas melatih mereka dengan cepat!” Saya jawab, ”Mereka anak-anak pintar Pak!”

Dari acara itulah, Yayasan Mekar Pribadi terus mengajak saya menjadi bagian dari sejumlah kegiatan pelatihannya. Dengan BPOM, Dirjen Kebudayaan, Dirjen IKP, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dan lain-lain. Bahkan untuk event tahunan Festival Budaya Anak Bangsa (FBA) di TIM, saya pun selalu dilibatkan. Tahun 2019, digelar November, merupakan pelaksanaan FBA yang ke-XI.

Kendati sudah beberapa kali diajak menggelar workshop, ajakan untuk workshop online di saat Pandemi Covid-19, ini menjadi hal baru. Perlu ada hal baru agar peserta tidak bosan menghadap layar laptop atau HP. 

sampah1.jpg

Kami pun berdiskusi dan berkordinasi terus. Merumuskan materi dan cara menyampaikannya. Kemudian mendiskusikannya dengan Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan (Puslatmas dan PGL), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Institusi inilah yang sepakat dengan format pelatihan model baru ini. Workshop online juga pengalaman baru bagi Puslatmas PGL yang dipimpin Bu Cicilia Sulastri.

Workshop online tidak hanya sehari. Tetapi tiga hari. Menggunakan aplikasi Zoom. Digelar Selasa-Kamis (24-26 Juni 2020). Mulai pukul 08.00 pagi hingga 14.00. Bahkan dilanjut diskusi WAG dengan para peserta untuk mematangkan rencana aksi bisa sampai pukul 15.00. 

Nama kegiatannya, Workshop Online “Cerdik Kelola Sampah Berbasis Kearifan Lokal.” Narasumber harus ada paparan, video, diskusi atau tanya jawab, praktik dan kuis. Peserta selalu diinfo bahan dan alat apa yang akan dipakai pada sesi praktik. 

Saya kebagian ”mborong”. Menjadi narasumber tiga hari berturut-turut. Hari pertama tampil bersama pembicara Dr Meuthia Naim, widyaiswara Pusdiklat SDM LHK), dan budayawan Dayakologi Ricardus Giring. Dr Meuthia memberi paparan pada upaya Reduce (pengurangan) sampah, saya kebagian materi Reuse (memanfaatkan kembali) dan Recycle (daur ulang sampah)

Dan Mas Giring menyampaikan kearifan budaya lokal (Dayak, Melayu, Tionghoa) yang bisa menjadi rujukan dasar atau pijakan dalam pengelolaan sampah. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya UGM tahun 2003 ini juga mengajari berpantun.

sampah2.jpg

Hari kedua, saya mulai action pukul 08.00. Diberi waktu 90 menit. Saya menjadi narasumber bersama Mbak Oetari Noor Permadi dan Mas Petrus. Mbak Oetari mengajarkan bagaimana memetakan persoalan sampah yang ada di lingkungan dan cara mengomunikasikannya kepada orang lain yang mau diajak berperan. Mas Petrus mengajari cara membuat video untuk mendokumentasikan aktivitas dan menyebarkannya ke jejaring media sosial. 

Saya kebagian bicara Ragam Pengelolaan Sampah Anorganik dan Pembentukan Komunitas dalam Pengelolaan Sampah. Saya gambarkan sampah anorganik bisa dikelola sendiri maupun berkelompok. Pengelolaan sendiri pasti harus dilakukan. Yaitu untuk sampah rumah tangga. Sedangkan secara berkelompok, bisa mengelola satu jenis sampah anorganik saja, dua jenis sampah anorganik saja atau beberapa jenis.

Saya contohkan beberapa pengelola sampah anorganik yang hanya mengelola satu atau dua jenis. Ada yang hanya mengelola sampah ban bekas saja (sapuupcycle.id Salatiga), mengelola sampah ban luar saja (Mas Nana Kepanjen, Malang) dan mengelola dua jenis sampah anorganik seperti Project B Indonesia dari Jogja.

Sedangkan untuk mengelola beberapa sampah anorganik saya contohkan Bank Sampah. Saya tidak mencontohkan Bank Sampah Griya Sapu Lidi secara khusus. Melainkan saya paparkan konsep bank sampah seperti apa dan bagaimana cara membentuknya.

sampah3.jpg

Untuk praktik pengelolaan sampah anorganik skala rumah tangga, saya minta sediakan kantong pilah di rumah. Cukup tiga saja. Kantong untuk sampah kertas, plastik serta kaca/logam. Dalam sesi ini memang diajarkan agar peserta membiasakan untuk #pilahsampahdarirumah Sampah yang muncul dimasukkan ke dalam kantong sesuai jenisnya. Setelah terkumpul bisa disedekahkan ke tukang rosok atau disetorkan ke bank sampah terdekat. Di Kota Pontianak sudah banyak Bank Sampah juga. Saya lupa, di Pontianak juga ada aplikasi jemput sampah. Nah, sampah pilah yang terkumpul sebenarnya bisa dibeli oleh Angkuts.

Sayangnya, tidak semua sampah itu laku di Bank Sampah atau mau diambil tukang rosok. Ada sampah yang masih sering muncul di rumah dan tidak laku. Yakni sampah sachet kemasan. Selama ini sampah ini dibakar atau dibuang ke TPA. Apa solusinya?

Saya usulkan pakai botol bekas. Saya katakan ”Botolmu Tempat Sampahmu.” Botol ini sebagai solusi menampung sampah-sampah sachet itu agar tidak dibakar atau dibawa ke TPA. Botol berisi sampah anorganik bersih dan kering ini dikenal dengan sebutan Ecobrick atau Re-brick.

”Tapi ingat, itu adalah solusi bagi sampah yang sudah eksis. Yang sudah ada. Jangan kemudian nyampah agar botol segera penuh! Begitu juga sikap untuk Butik Daur Ulang atau Bank Sampah. Jangan mentang-mentang ada yang mau mengelola, kemudian kita semaunya memproduksi sampah!” Beberapa kali, kami tekankan agar upaya reduce (pengurangan timbulnya sampah) yang harus diutamakan.

sampah4e4aa8.jpg

Hari ketiga, saya tampil lagi di sesi pertama pukul 08.00. Menyampaikan Pengelolaan Sampah Organik dengan Losida. Waktu hanya 45 menit. Harus ada praktik. Semestinya Losida singkatan dari Lodong Sisa Dapur itu dibuat dengan pipa paralon. Paralon sepanjang 120 cm. Tapi, bagaimana untuk praktik dalam waktu singkat. Peserta juga tidak mesti punya paralon.

Akhirnya ada ide mengganti paralon dengan botol bekas. Botol ukuran 1,5 liter. Botol itulah yang kami perlakukan seperti paralon dalam pembuatan Losida. Posisi botol dibalik. Tutup berada di posisi bawah, pantat botol di atas. Dari tutup botol itu, diukur setinggi sekitar 10 cm. Atau sepertiga panjang botol. Di area itu buatlah lubang. Sembilan lubang cukup. Bisa menggunakan solder atau obeng. 

Kemudian di ujung botol, atau pantat botol, dibuat bukaan untuk memasukkan sampah sisa dapurnya. Losida botol sudah jadi. Tinggal meletakkan botol itu di pot atau tanah. Caranya, bagian yang berlubang masuk ke dalam tanah. Sisanya di atas permukaan. Jika punya sampah organik sisa dapur tinggal masukkan.

”Berarti ini Botsida, Botol Sisa Dapur,” kata saya.

sampah5.jpg

”Kalau saya berarti Botsika Pak. Botol Sisa Kantor,” seloroh Banq Beng MS peserta dari RRI Pontianak. Ia bersama rekan kantornya seperti Doddy Junaidi, dan Hera Yulita bergabung dalam Kelompok RRI Pontianak. 

Peserta lain dari Fatayat NU dan guru PAUD PKK Pontianak. Dan tentu saja anak-anak muda milenial yang menjadi Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Saka Kalpataru maupun siswa SMP, SMA N 8 Pontianak, SMK N 5 dan Kampoeng Edukasi Poernama di Pontianak.

Tiga hari belajar bersama sangat menyenangkan. Selain mendapat tambahan ilmu tentang sampah, dari peserta maupun dari narasumber lain, juga dapat asupan seni budaya yang  bergizi. Saya dan para peserta pun tentu bertambah ketrampilannya membuat pantun dan membuat video. Saya benar-benar bersama milenial yang beruntung. Dapat ilmu dan ketrampilan yang banyak dalam sekali workshop.

Eh, mau tahu ketrampilan saya berpantun? Ini buktinya!

Di Belanda beli terompah

Terompah balur warna tembaga

Sampah rumah harus dipilah

Sampah campur sangat bahaya

 

Ditunggu kumpul tak berkabar

Ternyata pergi ke Eropah

Sampah terkumpul jangan dibakar

Setor saja ke Bank Sampah

 

Main gitar depan rumah

Ada bapak kasih saweran

Ajak sekitar kelola sampah

Agar Pontianak bersih nyaman

 

Kalau sempat mampir rumah

Bawakan aku lidah buaya

Terus semangat pilah sampah

Sampai bertemu lain masa (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda