Pro Cowas JP

Jangan Terlalu Lama Berpacaran

Resepsi pernikahan 2 Oktober 1988. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Bermula dari rapat rencana Reuni SMEA Taruna Pancasila di SDN Tanggulangin I, Jalan Tanggulangin No. 10 Surabaya. Di situlah dulu saya dan calon isteri saya bersekolah. Jadi, sekolahan itu kalau pagi ditempati anak SD, kalau sore sekitar jam 15.00 dipakai SMEA Taruna Pancasila.

Selesai rapat biasanya absen dulu. Pas giliran saya loh kok ada anak yang lumayan cantik. Menurut ukuran saya. Maka saya memberanikan diri untuk berkenalan, siapa namanya mbak? 

"Arlis Mawarti," jawabnya. 

"Tinggalnya di mana mbak?" tanyaku lagi. 

"Kemayoran gang Masjid No. 1 Surabaya," jawabnya lengkap.

Mbak Arlis junior saya, lulusan tahun 1984. Sedangkan saya lulusan tahun 1981 jadi belum kenal. 

Tak lama kemudian, tepatnya Minggu pagi (tanggalnya saya lupa) saya cari alamat tersebut. Ketemu dan kami pun ngobrol sampai siang. Ternyata dia asli Nganjuk, di sini dia kos supaya dekat dengan kantornya PT. Industri Sandang Nusantara (belakang Kantor Kas besar Negara). Waktu itu saya juga sudah kerja di PT. Petrokimia Kayaku Gresik. Akhirnya saya tiap Sabtu malam ke rumahnya. 

Pernah kami ke THR bareng sama temannya cewek. Akupun ikut dia naik bus kota. Sepeda motor kuparkir di halaman rumahnya. 

Sampai di THR saya main permainan yang disediakan THR. Semua hadiah saya berikan kepadanya. Kejadian itu tahun 1986. Setelah itu setiap Sabtu malam saya ke rumahnya. 

Suatu ketika ibu kosnya mengatakan bahwa mbak Arlis pulang ke Nganjuk. Saat yang lain atau mbak Arlis kursus mengetik. 

Akhirnya saya putus asa. "Wah belum jodohku," kataku dalam hati.

pro1.jpg

Minggu pagi (lupa tanggalnya) Februari 1988 saya melihat pengumuman di kampus UNTAG (Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya) Jalan Semolowaru. Kira-kira pukul 8 pagi saya melihat ada anak naik becak. Kok melihat saya terus. Saya teringat mbak Arlis yang dulu pernah saya kenal. Ternyata dia juga ingat saya dan kami pun tegur sapa. 

"Mas mau ke mana?" dia bertanya. 

"Mau pulang," jawabku. 

Kemudian saya balik bertanya mau ke mana? Aku mau belajar bersama teman kuliah, aku antar mau nggak? 

"Ya, terima kasih," jawabnya, kemudian memberi alamat kost yang baru, Nginden Gang Masjid No. 1.

Besoknya, Senin jam 18.00 kebetulan dosen saya nggak masuk. Saya kemudian mencari tempat kost mbak Arlis. Ketemu. Kebetulan dia masih tidur, terus dibangunkan adiknya yang ikut kos di situ juga. Agak pusing, katanya. Ternyata dia habis puasa Senin Kamis, tidak terasa ngobrol sampai jam 21.00. 

"Apakah masih pusing," tanyaku. 

"Sudah nggak," jawabnya. 

Sejak itu saya tiap 2 hari sekali berkunjung ke mbak Arlis. Mumpung kuliahnya di UNITOMO (Universitas Dr. Sutomo Surabaya), sedangkan saya di UNTAG. Kampusnya berdampingan. 

Seiring berjalannya waktu akhir Mei 1988 saya diajak ke rumahnya diperkenalkan orang tuanya di Nganjuk. Turun dari bus, perjalanan menuju ke rumahnya masih sekitar 10 km. Yang 5 km kalau hujan jalannya becek, kata penduduk setempat. Karena banyak yang mengelupas. 

Waktu itu menjelang puasa Ramadhan. Karena itu mbak Arlis mengajak saya nyekar ke makam kakek dan neneknya. 

Ke Nganjuk kami bertiga naik bus bersama adiknya. Dalam perjalanan pulang mbak Arlis bertanya, "Apakah sampean menerima keluargaku? Adikku masih sekolah semua. Yang nomor 2 sudah bekerja di Rumah Makan Podo Trisno, yang nomor 3 masih sekolah kelas 2 SMK, yang nomor 4 masih kelas 3 SMP, yang nomor 5 kelas 6 SD, yang nomor 6 kelas 3 SD." 

"Tidak ada masalah asal kita dengan ikhlas menyekolahkan adik-adik," jawabku. Menjelang Lebaran saya dan mbak Arlis pergi ke Pasar Turi untuk membeli kebutuhan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Untuk Ibu, Bapak, dan keempat adiknya. Adiknya yang nomor 2 sudah bekerja, sudah bisa mencukupi kebutuhan sendiri. 

Begitu Hari Raya tiba saya naik bis ke Nganjuk sendiri. Ternyata sudah dijemput sama mbak Arlis dengan naik sepeda ontel. Waktu itu habis hujan. Setelah salaman dengan Ibu dan Bapak calon mertua, saya diajak ke keluarganya. Ke Budenya dan Pamannya. Rumahnya masuk lagi ke pelosok dengan mengayuh sepeda ontel. 

Sorenya saya pamit pulang. 

Suatu ketika mbak Arlis sakit. Dia punya riwayat sakit maag. Pulang dari dokter saya ajak dia mampir ke rumah. Saya perkenalkan Ibu, Bapak, dan Nenek saya. 

Ternyata Nenek saya sangat setuju jika kami berjodoh. Jangan lama-lama, cepat dilamar, pesan Nenek. 

Dua minggu bakda Lebaran, Bapak dan Ibu saya ke Nganjuk, ke rumah keluarga Arlis. Menanyakan apakah mbak Arlis sudah ada yang punya? Ternyata belum. "Alhamdulillah," kata Bapak saya. Kalau begitu saya ingin mengambil menantu mbak Arlis. Ternyata disambut gembira oleh Bapaknya mbak Arlis. 

Setelah disepakati kedua belah pihak akhirnya pada tanggal 4 Agustus 1988 saya menikah dengan mbak Arlis di Nganjuk. Sedangkan resepsinya tanggal 2 Oktober 1988. Tepat 10 Agustus 1989 anak saya yang pertama lahir. Anak kedua lahir pada 18 Desember 1993. 

Kalau diperhatikan, cerita di atas efektif berpacaran cuma 6 bulan. Mulai bulan Februari ketemu kedua kalinya, bulan Agustus menikah. Relatif singkat sekali, padahal belum mengenal betul masing-masing karakter. Tapi alhamdulillah Allah SWT mempertemukan jodoh saya. Kata orang jodoh tidak ke mana-mana. Walaupun sudah nggak ketemu 2 tahun akhirnya ketemu lagi dan lantas menikah. Kebetulan waktu itu usia saya sudah 30 tahun, mbak Arlis 24 tahun. Kesimpulannya, kepada pembaca yang masih bujang jangan lama-lama berpacaran nanti menyesal diambil orang lain. Sulit mencari penggantinya. 

Demikian sedikit cerita yang saya alami bersama isteri tercinta mbak Arlis Mawarti.  Saya sudah hidup berumah tangga selama 32 tahun. Alhamdulillah tidak pernah bertengkar. Ya ada sih perselisihan sedikit, misalnya habis makan piring kok belum dicuci, itulah pengalaman saya. Kata adiknya mbak Arlis, Mas Anwar ini loh nggak pernah bertengkar sama mbak. 

"Mungkin bintangnya sama Gemini, saya 4 Juni sedangkan mbak Arlis 12 Juni. Kenapa harus bertengkar," jawabku. 

Tiap hari sama2 tidur bareng, apalagi sekarang ini saya dalam keadaan sakit. Lebih sayang. Saya minta dimasakkan apapun dituruti. Contohnya saya minta oseng-oseng daun pepaya dan ikan mujair digoreng, langsung siangnya sudah tersedia di meja. Kalau pergi sendiri tidak boleh dia harus ikut. 

Suatu malam saya bisiki, "Bu, saya mohon maaf Ibu ngopeni saya dengan telaten dan sabar. Mari kita kelola usaha foto copy dan jualan alat-alat tulis. Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga yaitu suami tidak boleh menceritakan kekurangan isteri, dan sebaliknya kekurangan isteri tidak boleh diceritakan oleh suami kepada teman atau tetangga. Kalau ada masalah dibicarakan berdua saja. 

Semoga cerita pribadi saya ini bermanfaat bagi pembaca, terutama yang masih bujang. Sekali lagi terima kasih. (*) 

Penulis: Chairul Anwar, pensiunan PT. Petrokimia Kayaku. 

Di Dusun Sambisari RT. 26 RW. 05 Desa Sambibulu Kec. Taman Sidoarjo.    

Catatan: Pro Cowas JP adalah rubrik anyar CoWasJP.com. Ruang ekspresi para pembaca (viewers). Tulisan yang positif dari para pembaca. Mohon maaf, tulisan yang bernada menghujat, beraroma SARA, dan bermuatan kepentingan politik, tidak ditayangkan.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda