Kota Seribu Misteri

Tampak penulis dengan latar belakang pintu gerbang Westgate Tower yang menjulang telah membentengi kota itu sejak tahun 1340. (Foto: Istimewa)

COWASJP.COM – Aku “terdampar” di kota tua yang menyimpan seribu misteri dan luka tentang sejarah masa silam.  Dinding batu yang tinggi  yang diberi nama City Wall, dan pintu gerbang Westgate Tower yang menjulang telah membentengi kota itu sejak tahun 1340.  

BACA JUGA: Cinta Pertamaku

Pada abad pertengahan, dinding batu dan pintu gerbang ini adalah saksi bisu akan kedatangan pasukan Roma, perang saudara, dan perang dunia kedua saat kota ini dibombardir pasukan Jerman. 

seni.jpg

Bagai masuk ke lorong waktu 2000 tahun silam, aku terpana memandangi pesona kota yang mempunyai getaran tersendiri di hatiku. Gedung-gedung kuno berjejer rapih di sepanjang jalan.  Nama-nama St Agustine, St Martin, St Gregory, Pilgrim’s Way, Norman Castle, St Agustine Abbey, dan Museum of Canterbury Tales diabadikan menjadi nama-nama jalan dan gedung sebagai bukti kesejarahan di kota ini.  

Dalam perjalananku mengelilingi kota ini, aku tiba di museum tua The Canterbury Tales.  Di dalam museum ini aku berjalan dari ruang ke ruang dengan suasana yang getir tentang masa lalu. Dengan penerangan temaram aku menyaksikan suasana saat perang saudara, saat musim dingin tanpa alat penghangat, dan saat kehidupan masih sangat jauh dari modern.  

seni2.jpgFoto-Foto: Senny Suzanna Alwasilah for CoWasJP.com

Selama menjelajahi masa demi masa itu, jantungku terus berdebar-debar.  Suara audio visual ringkikan kuda, kokok ayam, hempasan angin, hembusan salju yang dingin,  obrolan dan cekikikan orang-orang yang bercengkrama menambah suasana semakin mencekam.  

Aku ingin segera keluar dari ruangan  itu tapi pintu yang menghubungkanku satu masa ke masa lainnya terkunci dan akan menguak sendiri bila waktunya tiba.  Sungguh pengalaman yang luar biasa.  
Aku yang telah terkagum-kagum menyaksikan kemegahan kota London yang hiruk pikuk dengan ikon kota Istana Buckingham, London Eye, dan Big Ben yang monumental, masih saja tergerak untuk mengunjungi kota kecil ini karena dalam sejarahnya, dunia istana ini selalu terkait dengan katedral dan aku penasaran ingin mengunjunginya. 

BACA JUGA: Alumni SMAN I Cicalengka Berbagi Sembako​

Katedral di kota kecil ini telah menjadi cerita turun temurun. Tampilannya sangat megah dengan interior yang mewah.  Katedral yang kini berusia 1.400 tahun ini masih berdiri kokoh dan karena ketinggiannya yang menjulang, bisa terlihat dari jarak yang cukup jauh.  

seni3.jpg

Tak terbayangkan, bagaimana orang-orang membangun katedral semewah dan semegah itu seribu tahun yang lalu. Pantaslah setiap tahunnya ribuan orang dari berbagai belahan bumi datang berbondong-bondong mengunjungi katedral ini. Bagi para pemeluk Katolik Inggris, ziarah ke katedral ini bagaikan ziarah ke Mekkah bagi kaum Muslimin.  Seribu tahun silam, di sekitar katedral ini tumbuh komunitas ibadah  dan dipercaya  sebagai komunitas terbesar yang berbahasa Inggris, dan pada abad ke-10 secara formal menjadi komunitas gereja sampai  tahun 1540, saat  sistem monastery (kebiaraan) ini  dibubarkan oleh King Henry VIII.   

Nah, jangan mengaku pernah datang ke kota ini bila tidak kenal sosok Thomas Becket, seorang yang menjadi bagian dari catatan kisah dan sejarah pahit masa silam di katedral ini.  Thomas Becket yang lahir tahun 1118 telah diangkat sebagai uskup agung pada tahun 1161, namun ia terbunuh di katedralnya sendiri lantaran lebih mencintai agamanya ketimbang manut kepada Raja. 

Terbunuhnya Becket, yang dipercaya sebagai seorang syahid oleh pemeluk Katolik adalah puncak dari perseteruan antara gereja dan kerajaan saat itu. 
Cerita sejarah tentang Katedral yang memilukan telah membuatku ingin tahu lebih banyak tentang kota ini.  Maka aku pun berjalan lagi menelusuri pelosok kota.  

sen5.jpg

Ruas jalan di kota yang hanya berpenduduk 50 ribu jiwa ini tidak begitu besar namun tertata rapi.  Bangunan-bangunan penuh sejarah terpelihara dengan baik.  Semuanya tampak asri dan bersih.  Bunga-bunga yang cantik berwarna-warni menyelaraskan suasana masa lalu dengan aroma modern.  

Menelusuri  Jalan Walting Street  di pusat kota ini, jalan yang di masa lalu adalah jalan utama menuju kota London, mengingatkanku  pada sejarah Katolik Roma.  Seribu tahun silam ribuan prajurit Roma berbaris di jalan ini, berderap meneriakkan yel-yel kemenangan.  

seni4.jpg

Kota tua ini bernama Canterbury yang diambil dari kata canter yang artinya derap kecepatan kuda. Kota ini berjarak hampir 100 km dan bisa ditempuh satu setengah jam dengan bis nomor 007 dari kota London. Bagi mereka yang pernah membaca kisah ziarah dari penyair Geoffrey Chaucer, The Canterbury Tales, akan bisa membayangkan bagaimana ratusan ribu peziarah datang ke katedral yang berdiri megah di kota ini untuk beribadat, bertaubat, dan mendapatkan kesembuhan nurani. (*)

Penulis adalah:  Dekan Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan Bandung. Mengajar menulis pada jurusan Sastra Inggris di Universitas yang sama. Sejak 2016 Senny adalah President of ASEAN Women Writers Association (AWWA).

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda