Agama yang Objektif & Sains yang Subjektif

Desain Grafis: Padma Press.

COWASJP.COM – Beberapa waktu terakhir ini, agama sedang diadu dengan sains. Agama vs Sains. Begitulah yang ramai di jagat maya dan sosial media. Beberapa nama populer yang menyuarakannya, di antaranya adalah Goenawan Mohamad, AS Laksana, Ulil Abshar Abdalla, Denny JA, dan Nirwan Arsuka, serta sejumlah akademisi dan pemikir lainnya. Saya jadi ingin ikut nimbrung.

Benarkah Agama dan Sains berada di pihak yang berlawanan secara diameteral? Bagi saya: Tidak. Karena, keduanya tidak berada di dalam tataran yang sama. Tidak "Apple to Apple". Melainkan, seperti membandingkan sebatang pohon dengan buah apel. Tentu, tidak layak dibandingkan.

Agama adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pewahyuan yang bersifat subjektif. Sedangkan sains adalah pengetahuan empiris yang diperoleh secara objektif. Tentu, akan terjadi perdebatan seru berkepanjangan, ketika kedua pengetahuan itu diperlawankan: subjektivitas vs objektivitas.

Pada umumnya, khalayak memandang subjektivitas dan objektivitas adalah dua posisi yang berlawanan. Padahal sesungguhnya tidak. Bagi saya, objektivitas adalah bagian dari subjektivitas. Karena, sesungguhnyalah semua pengamatan dan kesimpulan objektif itu berada di dalam subjektivitas pengamatnya.

Ini bukan sekadar subjektivitas saya. Melainkan, sudah menjadi kesimpulan objektif sains. Bahwa, sains mutakhir ternyata mengarah kepada subjektivitas. Sebuah objektivitas yang subjektif. Atau, sebuah subjektivitas yang objektif. Terserah Anda, mau memilih istilah yang mana.

Albert Einstein sebagai pendekar Fisika Modern telah menyadarkan kita, melalui teorinya yang sangat fenomenal, yang kita kenal sebagai Teori Relativitas. Yang secara sederhana bisa dikatakan, bahwa hasil pengamatan terhadap suatu keadaan atau objek bergantung kepada kondisi pengamatnya.

agus-mustofa2.jpgFOTO: Facebook.

Saya berikan contoh konkretnya.  
1. Jika ada peristiwa, di mana A bergerak terhadap B, maka pada dasarnya kita juga bisa mengatakan bahwa B bergerak terhadap A. Tergantung dari sudut pandang pengamatnya.

2. Sebuah mobil bergerak pada kecepatan 100 km/ jam terhadap pengamat yang diam, akan tampak bergerak dengan kecepatan 200 km/ jam bagi pengamat yang bergerak dengan kecepatan 100 km/ jam, dalam arah berlawanan.

3. Sebuah objek akan mengalami perubahan ukuran alias dilatasi panjang, ketika diamati oleh pengamat yang bergerak dengan kecepatan cahaya.

4. Demikian pula dimensi waktu akan mulur atau mengalami dilatasi waktu, ketika dilihat oleh pengamat yang bergerak dengan kecepatan cahaya.

5. Di Fisika Modern dikenal adanya Prinsip Ketidakpastian Heisenberg. Yakni: adalah tidak mungkin untuk mengukur dua besaran secara bersamaan, misalnya “posisi” dan “momentum” suatu partikel. Karena, ketika pengamat fokus pada pengukuran “posisi”, maka ia akan kehilangan pengamatannya pada “momentum”. Dan sebaliknya, ketika ia fokus pada pengukuran “momentum”, maka ia akan kehilangan pengamatan pada “posisi” objek. Dengan kata lain, kesimpulan atas hasil pengamatan tergantung pada subjektivitas pengamat.

agus-mustofa1.jpgGus Agus Mustofa. (FOTO: facebook)

6. Di dalam Mekanika Kuantum dikenal suatu kondisi yang disebut “superposisi”. Di mana suatu benda bisa berada di dalam dua keadaan sekaligus, bergantung pada pengamatnya.

Jadi, objektivitas sains modern kini telah mengakui ketidak-objektifannya. Hanya para penganut sains klasik saja yang mengira bahwa sains adalah pengetahuan yang objektif, tanpa tercampur subjektivitas. Perkembangan sains mutakhir sudah sedemikian jauh, melampaui batas-batas objektivitasnya. Dan telah memasukkan variable subjektif ke dalam rumus-rumus matematisnya, melalui pendekatan statistik.

Dengan demikian, apakah kita masih pantas untuk mengadu “subjektivitas” vs “objektivitas”? Sementara, puncak pengetahuan sains modern telah membuktikan secara objektif, bahwa sains tak lagi murni objektif. Melainkan: objektivitas yang subjektif.

Maka, tak perlu lagi mempertentangkan antara agama yang subjektif dengan sains yang objektif. Karena, sesungguhnya agama adalah “Pohon Pengetahuan”, sedangkan sains adalah “Buah Pengetahuan”. Kedua-duanya adalah pengetahuan yang sangat berguna untuk memahami Realitas Sejati yang subjektif sekaligus objektif.(*)

Penulis Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis buku-buku Tasawuf Modern, dan Pengasuh Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda