KPI Bikin Heboh

Penulis bersama bintang sinetron Dea Annisa. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Tiba tiba KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) melontarkan wacana mengejutkan. Memberhentikan sinetron stripping (tayang tiap hari) yang dinilai tidak edukatif, menjual kemewahan, mimpi, misteri dan lain lain. 

Terang saja para pekerja di balik layar dibuat shock. Apalagi pihak TV yang menjadikan sinetron stripping sebagai lahan untuk memanen iklan. 

SinetronGGS.jpgDunia sinetron lagi heboh karen KPI mau menghentikan sinetron stripping (serial tiap hari). (FOTO: Istimewa)

Tapi saya sih yes yah. Wacana KPI ini ada benarnya juga. 

Saya kok yes yah. Kalau dihitung-hitung, penulis yang bekerja lebih dari 15 tahun, mungkin sudah menulis ribuan episode series dan ratusan FTV di hampir semua TV Indonesia, baik menulis sendiri, dengan tim sendiri atau pun bergabung dalam satu tim penulis. Mungkin sekarang adalah waktu yang telat tapi tepat, kreator-kreator di balik layar mengadopsi cara kerja orang luar, menyiapkan produksi dengan penuh perhitungan untuk beberapa episode saja.. Minimal 30 atau maksimal 120 atau 300 episode, misalnya.

Kita bisa mulai dengan membuat cerita dan konsep yang bagus, sedikit idealis boleh, berisi dan mencerdaskan. Mulainya sudah lama sebenarnya, tapi selalu dilepeh (ditolak) oleh Production House atau TV. Mereka seperti ‘alergi’ kalau kita sudah berbicara soal kualitas apalagi idealisme. Mereka pasti akan bilang, bisa panjang nggak nih kira kira ceritanya. 

Yasalam. Mereka seolah tidak punya tanggung jawab moral pada isi sebuah tayangan setelah dipanjang-panjangkan. 

Sudah saatnya kita abaikan pola-pola pembuatan konsep yang berkiblat pada jumlah episode panjang dan rating oriented. 

Kita harus mengubah orientasi kita pada tontonan berkualitas. Tayangan televisi kita saat ini butuh enlightment (, pencerahan) tidak lagi sekadar entertainment. 

DeaAnnisa-2.jpg

Yang bisa menjadikannya seperti itu tentunya adalah masyarakat sendiri, baru kemudian diadaptasi oleh orang-orang seperti kita di balik layar.

Tayangan berkualitas lahir dari penonton berkualitas. Rating hanya menentukan grafik kuantitas penonton dan kurva selera pemirsa. Belum pernah terjadi di Indonesia, tayangan berkualitas akan mendongkrak rating. Ini yang harus diubah. 

Bagaimana cara mengubahnya? Penonton harus berhenti menonton sinetron yang terlalu panjang, apalagi sampai ribuan episide. Penonton harus mengalihkan mindset-nya bahwa tayangan ribuan itu hanya akan membuang waktu. 

Harus seperti itu. Jika tidak, sinetron-sinetron akan terus diproduksi dengan memikirkan jumlah episode dan cerita yang berpotensi panjang dan dipanjang-panjangkan.

Mengikuti pola seperti ini bukan hanya penonton yang lelah, tapi juga penulis dan kreator di belakangnya. Lain cerita kalau kita sepikiran dengan kapitalis-kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan semata. 

Semua penulis atau sutradara yang money oriented, ya enjoy enjoy saja, sinetron ribuan episode menghasilkan miliaran rupiah dalam setahun. Apalagi pemain. Itu sebabnya kita semua tidak pernah mengeluh, bahkan bersorak bergembira ketika episode-episode yang kita kerjakan jumlahnya ratusan apalagi ribuan. 

Pola pikir dan pola kerja seperti ini harus diubah. Kita semua, termasuk masyarakat penonton punya tanggung jawab untuk memperbaiki kondisi ini.

Kita harus berpikir dan bertarget pada kualitas. Tidak usah jauh-jauh, kita meniru cara kerja sinetron-sinetron Malaysia saja. Kita bebas mau bikin cerita dengan setting apa saja, mau lokasinya 60-70 % di Amerika, Turki, Maroko, Korea atau di mana saja, asal budget dari PH-nya besar. Kita bebas berkreasi, dengan catatan episodenya sudah ditentukan jumlahnya. Honor kreator dan pemain pun sudah dihitung dengan cermat. Ini jelas tidak bisa ditiru di Indonesia. 

Yang kita pikirkan pertama kali adalah kejar tayang, bagaimana materi dikirim dari lokasi ke editing dalam waktu cepat dan perubahan cerita setelah melihat rating minute by minute.

Saya sih jujur dari nurani yang paling dalam, sekarang ini saya lebih berorientasi ke produksi sinetron Malaysia yang mengadopsi pola kerja produksi Korea, Filipina, Jepang dan Thailand. Tapi kalau di Indonesia dapat sinetron lagi yang honornya oke juga, ya lanjut lagi main sinetron, begitu terus, entah sampai kapan. 

Kreator di Malaysia sudah lama tidak memikirkan episode ribuan. Masyarakat penontonnya pun sudah terbentuk menjadi komunitas penonton selektif dan berkualitas. Sinetron Indonesia pernah berjaya di TV-TV Malaysia, tapi tidak lagi sekarang, setelah sinetron dikangkangi oleh jumlah episode. 

Sekali lagi yang bisa mengubah semua ini adalah masyarakat penonton yang cerdas dan tentu saja KPI yang membuat kebijakan standar tayangan televisi. 

Selama selera penonton kita tetap tempe, jangan harap akan disajikan spageti atau fettucine yang lezat, tetap akan anyep di lidah mereka. Selama KPI masih ‘tunduk’ pada kapitalis televisi, jangan harap konten TV kita akan berubah menjadi tayangan enlightment, mencerahkan. Dan sekali lagi penonton yang cerdas akan melahirkan tayangan berkualitas. (*)

Penulis: Andi Atthira, mantan wartawan Tabloid Nyata & Suara Indonesia, Jawa Pos Group. Penulis skenario sinetron dan film sejak tahun 2004.

Pewarta : Andi Atthira
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda