Apa Kunci Sukses Industri Pariwisata di Era New Normal?

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI DIY Bobby Ardyanto Setyo Aji. (Foto: Erwan W)

COWASJP.COM – Industri pariwisata siap bangkit kembali setelah sekian bulan mati suri karena terdampak covid-19. Saat ini stakeholder sedang mengambil ancang-ancang untuk beroperasional kembali. Para pelaku industri pariwisata menegaskan sudah tidak mungkin lagi berdiam diri menunggu pandemi Covid-19 yang entah kapan berakhirnya.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DPD DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan pelaku industri pariwisata perlu beradaptasi dengan situasi baru. Adaptasi atau penyesuaian tersebut harus didasarkan pada regulasi. ”Adaptasi akan berjalan lancar manakala ada regulasi yang jelas dan tegas,” ujar Bobby.

Bobby menyampaikan hal itu dalam webinar yang digelar Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia (Hildiktipari) DPW V dan Asosiasi Dosen Pariwisata Indonesia (ADPI) pada Sabtu (30/5). Webinar bertajuk “Kesiapan Operasional Industri Pariwisata di Masa Pandemi Covid-19” ini menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, dan industri.

Dari unsur pemerintah tampil Dr. Frans Teguh, MA (staf ahli Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi). Dan dari akademisi hadir Prof. Dr. Bet El Lagarense, MMTour, (Guru Besar bidang Pariwisata Politeknik Negeri Manado). Webinar dibuka oleh Ketua Hildiktipari DPW V Drs. Santosa, MM.

Bobby menambahkan, operasional pariwisata di masa pandemik harus dikawal dengan regulasi secara ketat, dimonitor dan evaluasi. Serta perlu diberlakukan punishment bagi yang melanggar regulasi yang telah ditetapkan. ”Dalam hal ini regulasi menjadi tolak ukur keberlanjutan pariwisata itu sendiri. Sebab, keberlanjutan pariwisata di masa covid-19, sangat tergantung dari trust yang berhasil dibangun oleh pelaku pariwisata,” tandas Bobby.

Frans Teguh, MA menyampaikan perlunya kesiapan manajemen yang didukung dengan SDM yang handal. Menurutnya, hal itu sangat penting untuk disiapkan guna membuka kembali bisnis pariwisata. Frans juga mengingatkan pentingnya mengutamakan protokol yang comply dengan standar CHS (Clean, Health, & Safety).

”Pembukaan pariwisata tidak boleh terburu-buru dan harus memenuhi dua syarat pokok, yakni grafik kasus pandemik melandai dan adanya rekomendasi dari gugus tugas,” tegas Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi ini.

Dari perspektif akademisi, Prof. Dr. Bet El Lagarense, MMTour, Guru Besar bidang Pariwisata Politeknik Negeri Manado menyampaikan insan pariwisata harus optimistis. Ia menegaskan, Tourism Will Never End. Pariwisata akan berlanjut terus, seiring dengan perubahan di era new normal.

Hanya saja Bet menekankan, pariwisata mendatang akan berubah fokusnya. Yakni, dengan memfokuskan pada kualitas bukan kuantitas, harus selektif market, dan limited number.

Webinar atau diskusi daring berlangsung lancar. Diikuti oleh hampir 100 peserta dari sejumlah wilayah di Indonesia. Menurut Ketua Hildiktipari DPW V Santosa, diskusi daring ini bertujuan menggali ide dan gagasan, dari berbagai pihak sehingga mampu dirumuskan rencana aksi yang diharapkan dapat menjadi rujukan stakeholder terkait. Webinar dipandu oleh Dr Ayu Cornelia dengan host Dr. Ani Wijayanti, MM. CHE. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda