Kisah Punakawan Bernama Sujarwo

COWASJP.COM – Dalam pertunjukan wayang kulit ada satu segmen yang disebut sebagai "goro-goro", biasanya muncul di penghujung malam ketika ki dalang memunculkan karakter-karakter lucu para punakawan, Bagong, Petruk, Gareng, Lurah Semar, plus Limbuk, dan Cangik.

Semua tokoh punakawan itu rakyat jelata dari kalangan bawah yang bukan siapa-siapa. Mereka adalah abdi, kawula, wong cilik, dengan peran yang minor dan marginal. Peran utama mereka adalah nyuwita, nderek, dan mengabdi kepada bendara para ksatria dan raja gung binantara.

Episode "goro-goro" ini sangat disukai penonton, karena menjadi bisa tombo ngantuk yang menyegarkan. Setelah mata berat mengantuk karena melek hampir semalam suntuk, kehadiran para punakawan itu seperti kopi hangat atau air segar yang langsung membuat mata terbuka lebar.

Para punakawan itu semuanya berpenampilan fisik lucu dan unik khas rakyat. Bagong bertubuh gemuk, pendek, rambut botak, mata melotot. Si Gareng, kecil, hitam, kurus, jalannya terpincang-pincang. Petruk, ekstra tinggi, kurus, seperti tiang listrik dengan hidung panjang. Wo Semar sebagai sesepuh punya badan super-gemuk dengan perut besar yang dibiarkan terbuka.

Bentuk fisik mereka boleh dibuat bahan tertawaan, tapi mereka manusia-manusia setia, jujur, dan mengabdi sepenuhnya kepada bendara dan negaranya. Para punakawan itu ngomongnya ceplas-ceplos dan lucu. Humor-humornya segar. Kalau bendara sedang suntuk, punakawan menghibur dengan senda gurau, tapi punakawan juga tidak takut mengingatkan bos-bosnya yang berbuat khilaf.

Episode "goro-goro" membawa penonton untuk kembali ke dunia realitas sosial rakyat jelata. Cerita pewayangan yang semula didominasi oleh para dewa, raja, kstaria, dan brahmana dengan versi cerita yang elitis dan bahasa yang penuh petitah-petitih, berubah menjadi episode rakyat dengan bahasa sederhana, blaka-suta, tanpa tedeng aling-aling.

Cerita yang semula mengawang-awang, penuh gemerlap kraton dan misteri kayangan jonggring salaka, mendadak dibawa ke alam realitas sosial rakyat sederhana dan apa adanya. "Goro-goro" adalah cara rakyat jelata memotret dan menjelaskan realitas sejarah; jujur, sederhana, dan apa adanya.

Seumpama cerita wayang, maka sejarah Jawa Pos adalah kisah para dewa yang agung, raja-raja penuh wibawa, dan para kesatria gagah berani, sakti mandraguna. Dunia yang indah dan penuh gemerlap. 

Setidaknya itulah yang diketahui publik melalui berbagai kisah maupun publikasi yang selama ini ditulis dan diterbitkan.

Tapi, kali ini sejarah Jawa Pos disajikan dari sudut pandang yang benar-benar beda. Sejarah Jawa Pos diceritakan dari perspektif rakyat jelata yang memotret sejarah besar dengan mata yang jujur, polos, dan apa adanya.

Buku ini sejenis "goro-goro" dalam segmen pergelaran pewayangan yang menceritakan sebuah episode suka-duka para punakawan yang sederhana dan setia ketika mendampingi para ksatria membangun keraton megah dan menembus kayangan menemui para dewata.

Sujarwo--dan banyak sujarwo-sujarwo lain di Jawa Pos--adalah personifikasi para punakawan itu. Seseorang yang tidak akan pernah dicatat oleh sejarah, karena perannya memang kecil, atau nyaris tak ada, karena sejarah adalah milik para raja dan para ksatria elite itu.

Tapi, sejarah versi punakawan ini sangat penting untuk diungkap karena ia menjelaskan perkembangan Jawa Pos dari sudut pandang pekerja yang paling bawah. Bagaimana seorang karyawan di lini paling bawah sebuah produksi koran menceritakan peristiwa sehari-hari yang "tidak penting" yang dialami sepanjang karirnya.

Tetapi, sebenarnya sejarah yang tidak penting itu justru sangat penting untuk memberi gambaran yang lebih utuh dalam memotret perkembangan Jawa Pos sebagai salah sebuah institusi media terbesar di Indonesia. Kisah versi punakawan ini bisa melengkapi berbagai kisah sukses kerajaan Jawa Pos yang merangkak dari koran dengan oplah "sak becak" menjadi konglomerasi media cetak terbesar di Indonesia pada zamannya.

TIGA PERIODE JAWA POS

Perkembangan Jawa Pos secara umum bisa dibagi menjadi tiga periode; Periode Kembang Jepun, Periode Karah Agung, dan Periode Graha Pena. Masing-masing merentang mulai awal 1980-an sampai sekarang. 

Periode Kembang Jepun adalah periode rintisan, ketika Dahlan Iskan, Kepala Biro Tempo Jawa Timur, ditugasi untuk memimpin Jawa Pos yang diambil alih oleh PT Grafitti Pers yang menerbitkan Tempo. Periode Kembang Jepun adalah periode para pioner yang berjuang tanpa lelah di sebuah gedung tua peninggalan Belanda di daerah Surabaya Utara yang kumuh.

Periode Kembang Jepun menjadi periode tonggak, ketika Jawa Pos yang oplahnya hanya sebecak-- sekitar dua atau tiga ribu-- diam-diam punya ambisi untuk mengalahkan Surabaya Post, yang saat itu sudah meraksasa dan melegenda dengan oplah puluhan kali lipat dari Jawa Pos.

Dalam tinjauan ekonomi-politik media, periode Kembang Jepun barangkali bisa disebut sebagai "Periode Komodifikasi", yaitu satu proses dimana informasi atau berita yang sebenarnya gratis, dijual sebagai komoditas. Ini adalah tahap awal dari proses konglomerasi media, ketika sebuah organisasi media yang sedang berkembang hanya berjualan berita untuk ditukar dengan uang langganan atau eceran, dan dijual kepada pemasang iklan untuk mendapatkan uang.

Periode kedua adalah periode Karah Agung, ketika Jawa Pos mulai menjadi kekuatan baru yang mengejutkan banyak orang. Dalam tempo 10 tahun Jawa Pos dengan sangat agresif merebut pangsa pasar Surabaya dan Jawa Timur dari Surabaya Post yang tak berdaya, sakit-sakitan, dan menunggu ajal.

Periode Karah Agung adalah "Periode Spasialisasi" ketika sebuah media mulai mengembangkan sayapnya menembus dan melewati ruang dan waktu dengan memanfaatkan teknologi cetak jarak jauh. Pada periode inilah Jawa Pos mengalami perkembangan yang cepat dan menembus pasar ke luar Jawa melalui cetak jarak jauh di berbagai daerah luar Jawa.

Periode Graha Pena adalah periode pematangan, "Periode Strukturasi", ketika Jawa Pos sudah sangat besar pengaruh ekonomi, sosial, dan politiknya. Jawa Pos sudah menjadi konglomerasi media cetak terbesar di Indonesia, mengalahkan musuh bebuyutan Kompas-Gramedia. 

jarwo37ed5.jpgBahari (kiri, penulis) saat mewawancarai Sujarwo. (FOTO: Tim Buku)

Pada periode spasialisasi inilah terjadi tukar-menukar pengaruh antara media dengan kekuasaan. Media yang pengaruhnya sangat besar memengaruhi kekuasaan, dan sebaliknya, kekuasaan juga memanfaatkan media untuk memperkokoh kekuasaannya. Pada periode ini aktor media masuk ke kekuasaan dan aktor kekuasaan masuk ke media. Pada periode inilah Dahlan Iskan masuk ke lingkar elite kekuasaan menjadi menteri dan calon presiden.

Dalam siklus bisnis, periode ini disebut sebagai periode kematangan, ketika sebuah produk berada pada puncak siklus dan berhasil menguasai pangsa pasar. Pada posisi ini produk itu mengalami saturasi atau kemacetan yang biasanya diikuti dengan siklus menurun. 

Kisah Jarwo dalam buku ini adalah kisah Periode Karah Agung dengan perkembangan spasialisasi yang super agresif. Periode yang sangat penting itu diceritakan secara sederhana oleh Jarwo yang memainkan peran langsung meskipun hanya sebagai figuran.

Kisah Jarwo mengungkap berbagai pergulatan yang dialami seorang karyawan rendahan di bagian percetakan dengan segala macam suka dukanya. Banyak hal yang dialaminya mulai dari konflik, intrik, sampai fitnah.

Ia dituduh mencuri perangkat komputer. Tuduhan yang tidak pernah dibuktikan kecuali atas petunjuk dukun. Ia dipindah ke luar kota jauh dari sahabat dan keluarga. Jarwo nyaris menyerah karena putus asa.

Dengan berat hati ia berusaha bertahan. Teman dekatnya memberi dorongan, meyakinkannya supaya tetap bertahan. Jarwo merasa disingkirkan dan diasingkan, tapi ia bertahan.

JARWO LULUS CUM LAUDE

Selama masa-masa sulit itu Jarwo mempersiapkan diri membekali diri jika suatu ketika hal buruk terjadi pada dirinya. Dia punya naluri dagang yang tajam dibanding dengan teman-teman sekitarnya. Limbah cetak maupun sisa kertas yang terlihat tidak berharga bagi Jarwo terlihat sebagai emas yang bisa mendatangkan rezeki. Diam-diam ia menekuni bisnis sampingan jual beli limbah dan sisa kertas yang hasilnya lumayan dibanding gaji bulanannya.

Ketekunan dan keuletan ditambah naluri bisnis yang tajam dan kepintaran membangun relasi sosial membawa keberuntungan bagi Jarwo, bisnisnya makin berkembang dan hidupnya makin mapan. Dan ketika saatnya Jarwo harus pensiun dari Jawa Pos, Jarwo benar-benar telah siap.

Bagi banyak karyawan, masa pensiun adalah masa yang suram dan kosong. Tidak ada lagi kebanggaan, tidak ada lagi status sosial yang bisa dipamerkan. Sebaliknya, bagi Jarwo pensiun memberinya lebih banyak waktu luang untuk membesarkan bisnis, membantu teman-teman lama yang kesulitan, dan mencurahkan waktu untuk keluarga.

Jawa Pos adalah sebuah universitas kehidupan terbuka, dan Jarwo telah lulus cum laude

Inilah cakra manggilingan, wolak-walike jaman. Jarwo Si Punakawan sekarang seorang miliarder yang menikmati hari-hari pensiunnya dengan nyaman. (*)

Catatan: Tulisan Dr Dhimam Abror Djuraid ini adalah Kata Pengantar dalam buku : Cak Jarwo Eling Konco Mlarat. Tukang Cetak Jawa Pos Jadi Miliarder

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda