Dadu....!

Tidak ada dadu lagi di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. FOTO: jatimnow.com

COWASJP.COM – Hari Raya Idulfitri  tahun ini sungguh berbeda. Beda sekali. 

Jalan-jalan di ujung gang sangat lengang. Tidak ada lagi anak berbaju baru menyulut mercon cabe rawit.Tak tampak lagi anak-anak hilir mudik sambil menghitung uang hasil  "unjung unjung" atau hasil tabungannya sendiri.

Sialan... Covid 19 lah biangnya!

Sungguh, suasana dingin dan sunyi seperti di tengah kuburan ini tidak pernah sekalipun saya alami selama puluhan tahun lahir dan tinggal di Surabaya dan 65 tahun di Ronggowarsito.

Karena itu, patut  dicatat, adalah  peristiwa yang pernah saya alami sekitar 30 tahun lalu dan menjadi kenangan melekat sampai sekarang. Yakni betapa meriahnya orang-orang kampung saya menyambut hadirnya Hari Raya Idulfitri. Hampir setiap menjelang Magrib di bulan Ramadhan, para penjual es degan dikerubuti pembeli. Sambil menunggu suara Azan Magrib yang di radio transistor yang sengaja disetel oleh penjualnya. Atau menunggu suara "blanggur" petasan besar yang disulut di area Makam Belanda yang berdekatan dengan Masjid  Rahmat yang menandakan sudah saatnya berbuka.

Bukan cuma itu,  penjual gado-gado  dan kolak dadakan pun sudah dipenuhi para ibu ibu. Mereka memborong empat sampai lima bungkus gado gado di sela-sela suara mercon bantingan yang dibanting anak-anak mereka.

koesnan2.jpgKoesnan Soekandar (penulis). (FOTO: istimewa)

Kini tak ada lagi suara itu. Tak ada lagi anak-anak merengek untuk nonton film pada Hari Raya pertama. Atau ke Kebun Binatang pada Hari Raya Kedua. Tidak ada lagi rengekan itu. Tidak ada lagi rengekan minta dibelikan tensoplast, karena sepatu barunya yang dicoba sehari sudah melecetkan kakinya. Padahal esoknya pas Hari Raya akan diuji coba lagi ke Pantai Kenjeran.

Akh...sepatu baru!

Memang, sepatu itu baru. Biasanya hitam warnanya sekalian bisa dipakai untuk sekolah di kelas baru. Sungguh indah dan menyenangkan. 

Hem...kesenangan itu agaknya tidak cuma monopoli anak-anak. Yang dewasa pun sekitar 50 - 60 tahun lalu bukan main riangnya. Sebagian kecil orang-orang kampung ketika awal Ramadhan tiba, mereka mulai menggelar permainan dadu di seputar kampung-kampung. Satu gang biasanya yang menggelar dadu dua sampai tiga orang.

Mengherankan memang. Mereka tak ada yang takut ditangkap polisi. Biasanya mereka berdalih: "Riyoyo .. setahun sepisan gak apa-apa." Artinya mereka beranggapan karena Hari Raya, maka bebas main dadu. 

Dadu sendiri oleh calon bandarnya telah disiapkan seminggu sebelum Bulan Ramadhan tiba. Mereka membuatnya dari kayu kubus antara 5 sampai 7 Cm. Kemudian masing penampang dicat hitam bulat mulai satu sampai enam.

Kemudian mereka membuat lapak sekitar  20 meter persegi. Tentu saja lapak itu juga diberi cat pembatas mulai bulatan satu sampai bulatan berderet enam. Ini sesuai dengan bulatan yang dicat di penampang kubus.

Ini dia dadu.

dadu1.jpgTidak ada dadu lagi di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. (FOTO: okezone.com)

Ok ..., sejak awal bulan Ramadhan sudah mulai rame orang pasang. Mulai 10 rupiah sampai 50 rupiah. Dadu pun ditutup dengan bekas kaleng mentega, kemudian dikopyok (digoyang naik turun,) Yang pasang harus menaruh di lapak sesuai nomer yang dikehendaki. Misalnya yang pasang 10 rupiah, jika cocok dengan dadu yang dikopyok akan memperoleh 10 rupiah juga. Demikian seterusnya. Tentu saja pemasangnya ya itu tadi mereka yang juga beranggapan Riyoyo bebas "berjudi".

Karena itu jangan tanya: 

Apa mereka sholat atau puasa? Maaf...ini seperti di awal tadi.. .ini kenangan 50 atau 60 tahun lalu. Yah... sampai sekarang pun saya tidak habis pikir. Kenapa di tahun tahun itu ada yang berpikiran begitu.

Tentu saja saya sendiri berharap keseruan dan keindahan bulan puasa jangan lagi  dilembari dengan lapak dadu seperti ketika saya masih anak-anak.

Terus terang, siapa pun orangnya hari-hari ini pasti merindukan Hari Raya Idulfitri tahun depan tidak akan ada lagi virus yang berjuluk Covid-19. Semua rindu tarawih bersama sanak keluarga di masjid. Saya pun rindu Sholat Ied di Taman Surya Surabaya.

Hem..seusai Sholat Ied hati ini rindu sarapan Soto Madura Tapak Siring. Lantas kalbu ini rindu sungkem dan peluk cium anak cucu. Ya Allah... akankah virus tahu kerinduan ini..? Terkutuklah hai..kamu Covid-19.. !!! (*)

Penulis: Koesnan Soekandar, Wartawan Senior di Surabaya.

Pewarta : Koesnan Soekandar
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda