Yang Mati dan Yang Hilang (2 - Habis)

COWASJP.COM – "Lho..Bagyo ya gak onok kabare. Ilang nang endi arek iku (hilang ke mana orang itu)," ujar Loetfi.

"Kita sudah sama sama tua. Masing-masing sudah di atas 70, jadi semua ini karena keterbatasan," sahut saya.

Memang, sejak 10 tahun lalu saya sendiri tidak pernah lagi bertemu. Sungguh saya kadang dalam hati minta maaf, karena ketika masih aktif di Jawa Pos, hanya sekali dua kali berkunjung ke rumahnya di Donowati Surabaya. Maklum, sebagai wartawan Jawa Pos, sangat sangat sibuk.

Kesibukan itu pula yang membuat saya jarang silaturahim ke Gembong Gang 4 Surabaya, tempat paman-paman saya tinggal. Setahun mungkin hanya empat lima kali menjenguk tempat kelahiran saya itu. 

BACA JUGA: Yang Mati dan Yang Hilang (1)

Meski begitu, tali persaudaran kami tetap erat. Apalagi setiap Hari Raya Idulfitri, saya sekeluarga bisa dipastikan melepas rindu pada mereka yang dulu pernah ikut mengasuh saya.

Memang, kerinduan saya pada orang-orang yang pernah dekat itu tak mudah dilepaskan begitu saja. Maklum saya anak tunggal. Sehingga mudah dekat dengan teman atau famili. Saya butuh mereka. 

Semisal, kedekatan saya dengan teman kecil saya Misjam (alm), Mardiono (alm), Asnan Efendy, Subagio Legowo, loetfi, dan Djatmiko (alm).

Kedekatan saya dengan teman kecil memang tak mudah saya lupakan. Bayangkan sudah sekitar 30 tahun ini tinggal saya sendiri di Jalan Ronggowarsito, Surabaya.

Teman-teman kecil saya yang lain sudah berpencar. Mereka masing-masing bersama anak istrinya pindah.

Ada yang ke Pakis Sidokumpul, Simo, Banyuurip. Bahkan Djatmiko sudah jadi orang Jakarta. 

Di Jakarta pula, Djatmiko berhasil mempersunting None Betawi. 

kembang-kuning6a134.jpgKali Kembang Kuning semakin menyempit dan kotor. (FOTO: Koesnan Soekandar)

Sungguh, setelah 30 tahun berlalu, saya selalu teringat satu persatu rumah mereka. Meski telah berubah. Yang menempati pun para pengusaha.

Begitulah kenyataannya. Tapi...InsyaAllah meski rumah saya telah berubah bentuk, kan... sudah saya tempati selama 65 tahun. 

Nah, selama 65 tahun itulah saya berteman erat dengan Misjam, Mardiono, Subagio, Loetfi, Asnan dan Djatmiko. 

Pertemanan yang tak pernah putus meski kami sama sama berkeluarga. Bahkan dengan Djatmiko, sekalipun dia tinggal di Jakarta bersama keluarganya, kami hampir setiap bulan selalu saling berbincang lewat telepon. Lewat telepon itulah kami saling mengabarkan kesehatan masing masing. 

Tentu saja, diseling canda ria mengingat masa kecil. 

Masa kecil yang indah. Seperti di saat saya bisa bertatap muka dengan laki-laki kelahiran Surabaya Januari 1943 ini. 

Hem...saya masih ingat ketika saya ke Jakarta pada Hari Raya 15 tahun lalu, untuk silaturahim. Tiba-tiba Djatmiko tergelak. Ternyata laki-laki karyawan pelabuhan ini, teringat pada tahun 1956. Hari itu hari Minggu yang cerah tapi wajah saya memerah. Menahan tangis. Tangisan yang harus saya tahan, karena kepala saya dijitak kondektur trem listrik. Sementara Djatmiko hanya mampu tertunduk lesu. Tak berani protes.

Protes pun tak akan meringankan hukuman dari sang kondektur. Soalnya memang salah kami. Kesalahan utama "tidak beli karcis." Saya sorak-sorak setiap trem listrik mendahului pengendara sepeda. 

"Hore..hore kesalip," teriak saya sambil tepuk tangan.

Tiba-tiba ..tak .. tak.. tak kepala saya ada yang menjitak. 

"He....ayo turun, gak bayar ribut ae...:" teriak sang kondektur.

Itulah kenangan indah saya bersama sahabat saya Djatmiko.

Kenangan indah itu tiba-tiba berubah. Suatu petang tiga tahun lalu,  HP saya berdering, "halo.. Icon ya bagaimana khabarmu. Terus bagaimana bapak di mana?"

"Ya om saya Icon. Ini di rumah sakit," sahut Icon anak kedua Djatmiko.

"Om ini..kalau mau bicara sama bapak. Bapak tadi nanyakan Om.."

"Ok...halo Djat ... halo. Aku Koesnan ... halo." 

Tapi tak sepatah pun terucap dari bibir Djatmiko yang sudah 20 tahun menderita diabetes itu.

"Om... halo om. Bapak sudah... meninggal. Maafkan bapak," kata Icon.

Innalillahi wainna Illaihi rojiun. Selamat jalan Djatmiko.(*) 

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda