Pro Cowas JP

Jangan Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Ketika penulis mengikuti forum ilmiah Annual American Phytopathological Society Congress, Portland Oregon, Amerika Serikat. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Perkembangan menghadapi Covid-19 dalam 2 bulan terakhir sepertinya semakin menjengkelkan. Sepertinya belum ada tanda-tanda akan mereda.  

Padahal berbagai cara dan metode telah diterapkan. Sampai penerapan PSBB pun masih saja kasus terkena Covid-19 bertambah. Virusnya yang hebat atau manusianya yang kurang waspada?

 “Selama vaksin belum ditemukan, siapkan diri hidup berdampingan dengan Covid-19,” begitu ajakan dari Menristek Bambang Brodjonegoro. Hal ini sejalan dengan ajakan Jubir pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurinto: “Mari jalani pola hidup baru dan berdamai dengan Covid-19.”  

Ajakan ini kontan mendapat tanggapan yang “sinis” dari sebagian masyarakat luas.  Mereka kaget. Belum lama mengajak rakyat untuk “melawan Covid-19”, koq sekarang malah mengajak berdamai?  

Seorang JK (Jusuf Kalla), Ketua PMI, mantan Wapres, berkata dengan lantang: “Bisa saja,.. tapi mati orangnya. Virus ini kan ganas dan tidak pilih-pilih siapa, tidak bisa diajak berdamai. Berdamai itu kalau dua-duanya mau. Kalau kita mau damai, virusnya enggak, ya gimana?”

**

Bagaimana jika hal tersebut ditanyakan kepada saya? (He he he …… siapa yang mau bertanya …?.  Ge eR amat ……. Jika tidak ada yang tanya, biarlah saya sendiri yang bertanya ke diri sendiri … he … he .. he).  

Secara konsep, saya bisa memahami berbagai macam strategi yang dapat digunakan untuk mengendalikan Covid-19. Baik dengan jalan “MELAWAN” maupun dengan jalan “BERDAMAI”.  Kedua strategi tersebut bisa dijalankan bersama.  

BACA JUGA: Kisah Pensiunan Petrokimia Kayaku (1)​

Namun, ketika ajakan “mari berdamai dengan Covid-19” tersebut didasarkan karena VAKSIN (dan juga Obat) belum ditemukan, saya menjadi tidak paham ajakan tersebut.  Mengapa demikian? Untuk menjawabnya, kita harus paham, apa itu fungsi vaksin dan apa fungsi obat.

Vaksin itu pada dasarnya berfungsi untuk PENCEGAHAN. Obat berfungsi untuk PENGOBATAN.  Tindakan pencegahan bisa dilakukan dengan strategi MELAWAN, dengan cara perang atau konfrontasi.  

BACA JUGA: Kisah Pensiunan Petrokimia Kayaku (2- Habis)

Siapa yang dilawan dan bagaimana caranya? Yang DILAWAN adalah Virus Corona. Caranya adalah bersikap “antipati” terhadap virus ini sendiri. 

Kita tidak boleh mendekat dan bersentuhan dengan virus. Kita pakai masker agar virus tidak dengan bebas menyerang kita dan atau “menari-nari” berpindah di antara kita. 

pronyar.jpgIr Susilo Hambeg Poromarto MSc, PhD (penulis)ketika di Camp Natural Resources, University of Wisconsin, Madison. (FOTO: istimewa)

Jika virus kita perkirakan sudah menempel pada tubuh kita, kita segera “basmi” virus dengan disinfektan. Kita “hancurkan” partikel virus ini di mana saja berada.  Inilah bentuk PERLAWANAN kita.  

Tindakan pengobatan hanya akan dilakukan jika virus telah menyerang tubuh kita, dan kita telah menjadi sakit.  Namun, sayang, obat virus yang satu ini belum diketemukan.

Selanjutnya, adakah jalan DAMAI untuk pencegahan Covid-19?  Jika jalan damai yang dimaksudkan adalah hidup berdampingan dengan virus corona, maka hal ini bisa dijalankan dengan cara membuat tubuh kita tahan atau resisten terhadap serangan virus. 

Berarti, kita harus mengonsumsi makanan-makanan tertentu. Pola hidup sehat. Berjemur di pagi hari. Itulah beberapa tindakan untuk membantu meningkatkan ketahanan tubuh kita dari serangan virus.  

Jika tubuh kita benar-benar TAHAN, maka virus tersebut tidak perlu kita “hancur leburkan” partikelnya.  Tidak ada kekhawatiran bagi kita. 

Tetapi, siapa yang dapat menjamin bahwa tindakan tersebut di atas membuat kita telah aman?”

Sekarang, mari kita bayangkan seandainya vaksin (sebagai pencegahan) dan  obat telah ditemukan. Kita tidak perlu repot-repot untuk “membasmi” virus di mana pun berada.  Tidak perlu pakai masker, tidak perlu setiap saat cuci tangan, dan tidak perlu takut lagi untuk bersosialisasi secara terbuka di antara kita.  

Dengan tersedianya vaksin, kita cukup memvaksin diri kita agar kita menjadi tahan, tidak terserang oleh virus.  Kita tidak perlu MELAWAN virus. Demikian juga ketika obat sudah ditemukan. Kita tidak perlu terlalu takut seandainya kita terlanjur diserang oleh virus ini.  Tinggal kita obati saja.

KESIMPULANNYA: “kita baru bisa BERDAMAI dengan Covid-19, jika vaksin dan obat SUDAH ditemukan”.  

Jika vaksin dan obat sudah tersedia, maka kita tidak perlu repot-repot untuk MELAWAN”.  Sebaliknya, “selama vaksin dan obat BELUM diketemukan, kita harus MELAWAN dan bukan malahan BERDAMAI”.

Kalau Menristek berkata: “Selama vaksin belum diketemukan, siapkan diri hidup berdampingan dengan Covid-19.” 

Saya sebaliknya. Saya akan berkata: “Selama vaksin belum ditemukan, JANGAN (mau) hidup berdampingan dengan Covid-19.” (*)

Penulis: Ir Susilo Hambeg Poromarto. M.Sc. Ph.D, Dosen Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Catatan: Pro Cowas JP adalah rubrik anyar CoWasJP.com. Ruang ekspresi para pembaca (viewers). Tulisan yang positif dari para pembaca. Mohon maaf, tulisan yang bernada menghujat, beraroma SARA, dan bermuatan kepentingan politik, tidak ditayangkan.​

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda