Ibu-Ibu KKI Zoom Meeting

Bagaimana Mengatur Keuangan Keluarga Saat Pandemi Covid-19

Desain grafis: lenteratoday.com

COWASJP.COM – Ibu-ibu KKI (Komunitas Kebaya Indonesia) menggelar zoom meeting Rabu 20 Mei 2020, mulai pukul 09.00. Inti penelaahan: bagaimana sebaiknya ibu-ibu mengatur keuangan di tengah badai pandemi Covid-19 sekarang?

Tercatat 213 negara dan teritori di seluruh penjuru dunia terlanda pandemi Covid-19. Menurut data worldometers, sampai pukul 18.30 WIB Rabu 20 Mei 2020, sebanyak 5.008.325 warga positif Covid-19. Di seluruh dunia. Yang sembuh 1.974.974 orang (39,43%). Yang meninggal dunia 325.325 orang (6,49%).

Lockdown dan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dilakukan di berbagai negara. Perekonomian lumpuh. Angka pengangguran di Amerika Serikat mencapai 20 juta orang lebih.

Di Indonesia, berbagai sektor informal dan formal tutup. Ngopi bareng di warkop pun nggak bisa, karena warkop tutup. Tidak boleh ada kerumunan manusia di warkop, restoran, dan fasilitas sosial lainnya. Termasuk lokasi wisata. Transportasi pun sangat dibatasi. 

Dampak Covid-19 menghantam berbagai sendi kehidupan, termasuk perekonomian. Di seluruh planet bumi. Terhentinya operasional sektor bisnis, penurunan omzet hingga PHK secara otomatis mengguncang keuangan keluarga.

Nah, dalam seminar via daring yang diselenggarakan Kominitas Kebaya Indonesia (KKI) itu, Dr. H. Setyorini, MM., MBA menyampaikan beberapa hal penting yang harus dilakukan agar keuangan keluarga mampu melewati masa pandemi. Mampu bertahan di masa kelabu saat ini. Pasti akan berakhir juga, namun belum diketahui kapan persisnya. 

“Kebijakan pemerintah untuk meminta kita tetap beraktivitas di rumah atau work from home (WFH) yang sudah berjalan sebulan ini, tanpa sadar sudah mengganggu arus pemasukan dan pengeluaran kita. Jadi, kita harus bisa membedakan mana kebutuhan dan mana pula keinginan,” tegasnya dalam diskusi bertajuk “Manajemen Keuangan di Masa Pandemi Covid-19” itu.

Keinginan adalah hal yang bisa ditunda, tidak mengikat dan tidak harus dipenuhi. 

Sedangkan kebutuhan adalah keinginan yang harus dipenuhi. Makan, minum, vitamin, obat misalnya yang diperlukan agar tubuh kita tangguh.

erna.jpgDesain grafis: lenteratoday.com

Ibu-ibu diminta untuk mencatat lebih detail pengeluaran rutin. Memprioritaskan pengeluaran sangat penting. 

Ada perbedaan yang sangat besar antara keinginan dan kebutuhan. Misalnya, perumahan, makanan, utang, transportasi, dan asuransi dapat menjadi hal sangat penting bagi kehidupan sehari-hari.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat daftar. Tentukan apa yang paling penting, lalu putuskan hal yang perlu dihilangkan, kurangi atau temukan solusi kreatif untuk pengeluaran opsional lainnya.

“Ada kebutuhan pokok, investasi, angsuran mobil hingga rumah, tabungan atau saving. Bila memungkinkan, tingkatkan saldo dana darurat. Misalnya tabungan, emas, dan deposito,” katanya. Anjuran ini tentu diperuntukkan ibu-ibu dari keluarga kelas menengah bawah ke atas. Bukan bagi ibu-ibu kelas bawah yang jelata.

Tujuannya agar jika sewaktu-waktu ada kebutuhan dana mendesak, misal untuk pengobatan, bisa dipenuhi. ”Para istri dan ibu biasanya sudah ‘khatam’ hal dasar seperti membagi pengeluaran dalam amplop-amplop. Dan ini memang harus dilakukan di saat pandemi. Biar antara pemasukan dan pengeluaran bisa terkontrol,” jelasnya.

Melakukan evaluasi sumber penghasilan serta menghitung ulang kebutuhan anggaran rumah tangga harus dilakukan. Perubahan gaya hidup akibat social distancing, tentunya membuat bekerja dan sekolah lebih sering dilakukan dari rumah dengan system online.

”Work from home, study from home tentu mengubah anggaran yang dikeluarkan, misal kebutuhan internet. Ini harus dihitung ulang,” jelasnya.

Di akhir diskusi, dia berharap masyarakat tidak panik dan berharap wabah segara berlalu. ”Harus optimistis. Sukses finansial, sukses keluarga, hidup bahagia,” tutupnya. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : lenteratoday.com

Komentar Anda