Setelah Setahun Berlalu

COWASJP.COM – Selama setahun ini aku menjalani kehidupan baruku dengan berkaki satu sungguh membuat haru biru batinku. Pasrah memang pasrah, menerima kehendakNya, juga "harus."

Sebagai ciptaan Allah memang harus menyadari bahwa kita hidup di dunia ini tidak dengan tiba-tiba, tapi atas kehendak Allah. "Kun fayakun".

msnshur1.jpgBerjalan yg selalu pakai walker (alat bantu berjalan)

Pada bulan-bulan awal setelah amputasi sampai di bawah lutut, tak henti-hentinya aku menyesali segala yang telah terjadi. Mulai aku gak mau dijenguk tetangga. Gak mau menerima teman-teman yang ingin berkunjung, bahkan teman-teman Cowas JP yang dikomandani Suhu pun aku juga menolak.
Ŕasanya aku benar-benar merasa tidak ada gunanya lagi, dan tidak berhak menikmati dunia.

Suatu ketika kondisiku ngedrop. Adikku yang menunggui aku menuntun untuk mengucap kalimah toyyibah: "laa ilaha illallah" hingga beberapa menit.
Saat dites gula darahku hanya 44, langsung dilarikan ke IGD. Kadar gula normal sebelum makan 70-130 mg/dL. Alhamdulillah, setelah ditangani dokter bisa selamat.

Perubahan hidupku sehari-hari benar-benar drastis. Dulu aku oleh para tetangga dikenal sebagai orang yang gak bisa diam. Dalam hal apa pun. Kegiatan dalam kampung maupun kegiatan di rumah. Apa pun pekerjaan jarang saya memakai tenaga tukang, kecuali yang aku merasa gak bisa atau yang berbahaya bila saya lakukan sendiri.
Karena merasa bukan ahlinya, saya tidak berani memperbaiki peralatan-peralatan yang ada aliran listriknya, seperti AC dan sejenisnya. 

Sekarang, untuk pekerjaan yang ringan pun aku sudah gak bisa, karena keterbatasan yang benar-benar membuat aku mudah marah. Meneteskan air mata saat merasa terharu, belum lagi perasaan gak nyaman saat merasa telapak kaki di ujung sana masih ada. Merasa gatal, bebel, digaruk, dipegang, ternyata memang sudah gak ada telapak maupun jari-jarinya. 
Allahu Akbar.
Saat melihat hal-hal yang perlu ditangani, aku benar sudah gak mampu lagi. Berjalan pun tertatih-tatih dengan alat bantu jalan walker, bagaimana mau kerja. Bisa dibayangkan bagaimana hati ini gak menangis. 

manshur.jpgBeberapa teman dari PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia) saat berkunjung ke rumah

Alhamdulillah, setelah melihat beberapa teman dan diberi motivasi dan wejangan, lambat laun aku bisa menerima dan pasrah apa yang telah terjadi, dan insyaAllah saya diberi kesabaran untuk beribadah dan menjalani sisa hidup ini. Subhanallah.

Gak terasa sudah setahun amputasi itu berlalu, dan sudah setahun pula kulalui hidup hanya dengan satu kaki. Alhamdulillah kini aku sudah melewati masa kritis satu sampai tiga bulan setelah amputasi.
Kata dokter Nikko Ashari Hidayat, dokter bedah yang menangani, saya harus berhati-hati melewati masa itu. Karena akan fatal akibatnya jika infeksinya sudah sampai ke tulang, akhirnya ke jantung, berakibat meninggal.

Teman-temanku sekalian, sekarang sudah ada aplikasi "KAKIDIABET" nya Dokter Nikko, mari kita manfaatkan terutama bagi temen-teman penyandang DIABETIS. Mudah-mudahan dengan aplikasi tersebut menambah wawasan kita untuk menyelamatkan kaki kita dari amputasi.

masnhur2.jpgAplikasi KakiDiabet

Tulisan ini adalah memori saya setahun yang lalu, semoga ada manfaatnya. Aamiin. (*)

Penulis: Mansyur Effendi, anggota Cowas JP (Konco Lawas mantan karyawan Jawa Pos).

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda