Pro Cowas JP

Kisah Pensiunan Petrokimia Kayaku (2- Habis)

Chairul Anwar dan isteri usaha fotocopy di rumahnya. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COMChairul Anwar, pensiunan PT Petrokimia Kayaku ini pernah ditawari temannya, namanya Bu Yuli, minum darah ular kobra. Inilah seri kedua (terakhir) tulisan Mas Chairul Anwar:

*** 

Bu Yuli, sehari hari berprofesi sebagai notaris untuk wilayah Jawa Timur. Rumahnya di Medokan Sawah, Surabaya. Tawaran untuk minum darah ular kobra itu terpaksa saya tolak dengan cara halus. 

Memang, Bu Yul kalau sakit langsung meluncur ke Jombang minta darah kobra untuk diminum. Setelah minum, katanya, badannya terasa segar. Akan tetapi, menurut orang Muslim, minum darah itu haram. 

Saya juga pernah mencoba obat herbal. Bermacam-macam. Antara lain daun sukun yang jatuh dari pohonnya direbus kemudian diminum. Daun petersel yang daunnya seperti seladri. Daun seladri juga. Namun, tetap tidak membawa hasil. 

Itulah bagian dari perjalanan hidup saya sejak divonis gagal ginjal. Terus berusaha dan berusaha. Allah telah memberikan penyakit gagal ginjal kronis, dan saya tidak boleh putus asa. Pasti ada hikmah di balik sakit saya ini. 

Yang jelas, 10 Desember 2016 saya diberi kesempatan oleh Allah menunaikan Ibadah Umrah selama 10 hari, bersama keluarga. Saya, Isteri dan 2 anak bisa beribadah di Masjidil Haram. Saya juga bisa berdoa di depan makam Rasulullah di Masjid Nabawi, Madinah. Berdoa di tempat-tempat yang diijabahi, memohon kepada Allah untuk mengaruniakan kesembuhan pada penyakit saya. 

BACA JUGAKisah Pensiunan Petrokimia Kayaku (1)

Sebelum berangkat saya dibekali dokter RSAL surat Travelling Hemodialisis di Makkah. Alhamdulillah saya masih kuat waktu itu, jadi tidak saya gunakan.

Selama sakit 3,5 tahun, Alhamdulillah saya masih sanggup mengkhatamkan Al Quran sampai 20 kali. Padahal kalau tidak diberi sakit, belum tentu saya buka kitab suci Al Quran, 1 kali saja belum tentu khatam Al Quran.

Ketika menjalani terapi hemodialiasis (HD) di RSAL Surabaya, teman saya pun bertambah. Tadinya kami tidak kenal satu sama lain. Akhirnya saling kenal seperti saudara. Guyub. Bila ada teman yang tidak datang langsung kami telepon. Kami sampaikan kepada teman yang tidak hadir itu, bahwa beliau ditunggu suster untuk HD. 

Kami pun guyub dengan keluarga yang mengantar. Tak jarang keluarga pasien membawa kue atau makanan kecil, kemudian dibagi-bagikan ke pasien dan yang menunggu. 

pro3.jpg

Menurut saya itulah hikmahnya. Merasa sehidup seperjuangan. Kalau ada temannya sakit, kita jenguk sama-sama. Itulah hikmah orang sakit yang masih diberi rahmat oleh Allah SWT.  

Selama hemodialisis 3,5 tahun, kesehatan saya sering drop. Terutama hemoglobin (HB) turun sampai 7. Normalnya 13,2 sampai 17,3. Bagi pasien gagal ginjal, hemoglobin 7,6 sudah boleh menjalani hemodialisis (HD). 

Jika HB di bawah 7,6, dokter menyebutnya anemia. Perlu transfusi sampai menghabiskan 2 sampai 3 kantong dalam 2 hari. Setelah itu baru boleh hemodialisis. 

Kadang tumbuh rasa jenuh. Setiap Rabu dan Sabtu harus ke RSAL. Tidak jarang pukul 04.00 harus berangkat ke RS. Sebelum shalat Subuh naik kendaraan umum, bus hijau jurusan Joyoboyo-Mojokerto. 

Kadang perlu lama menunggu bus. Saya turun depan RSI Surabaya, setelah itu jalan kaki menuju Mushollah sholat Subuh dulu. Setelah itu ke ruangan hemodialisis sekitar pukul 05.00 sampai jam 09.00. Begitulah pekerjaan saya sehari-hari setelah pensiun. 

Sampai suatu ketika ada 2 teman yang sama-sama menjalani hemodialisis bercerita. Mereka coba pasang CAPD. Hasilnya positif. Saya pun tertarik dengan cerita dia. Kedua teman saya itu kulitnya bersih, perutnya tidak buncit, karena minumnya tidak seberapa banyak. Akhirnya saya tertarik dan ikut pasang CAPD.

Cuci darah dalam bahasa medis disebut juga sebagai hemodialisis. Hemodialisis berasal dari dua kata yaitu hemo (darah) dan dialisis (pemisahan zat terlarut). Sehingga hemodialisis sendiri berarti proses pembersihan darah dari zat-zat yang tak terpakai. 

Dokter spesialis penyakit-dalam menjelaskan bahwa cuci darah memiliki dua metode. 

Pertama, hemodialisis atau metode cuci darah menggunakan mesin. 

Kedua, melalui perut yang dikenal denggan CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis).

Dokter menyebut terapi dialisis ini dilakukan pada orang dengan gagal ginjal atau fungsi ginjalnya berada pada tahap lima atau kronis. Terapi dialisis dilakukan saat pasien tak lagi bisa diobati secara konservatif melalui diet dan obat-obatan. Pada tahap ini, pasien biasanya mengalami gejala seperti sesak, mual, muntah. Saat ginjal tak lagi berfungsi, ginjal tak bisa membuang racun di dalam tubuh. 

Racun inilah yang dibuang melalui proses hemodialisis. "Pada pasien gagal ginjal, banyak toksik yang bertumpuk di dalam tubuh dan harus dibuang agar kualitas hidup pasien membaik,"

pro4.jpg

Namun, proses cuci darah ini dilakukan dengan bantuan mesin bernama dialiser. Bantuan mesin cuci   darah atau hemodialisis dilakukan karena ginjal  manusia mengalami masalah atau gangguan sehingga tak lagi bisa menjalankan fungsinya untuk menyaring zat-zat sampah.

Apa yang akan terjadi bila telat cuci darah?

Jika seseorang yang mengalami penyakit ginjal kronis telat cuci darah akan menimbulkan masalah. Berikut ini beberapa kemungkinan efek samping apabila seseorang telat cuci darah. 

Naiknya kadar ureum dan kreatine. Akibatnya yaitu semakin banyak limbah dan racun yang menumpuk dalam darah dan tubuh. 

Ginjal tidak bisa menyaring darah dengan baik. Ini dapat menyebabkan penumpukan cairan sehingga Anda mungkin mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan. Anda juga bisa mengalami sesak napas. Intinya, gejala-gejala yang pernah Anda alami saat sebelum cuci darah dapat terulang kembali.

Fungsi ginjal semakin turun. Kalau Anda beberapa kali telat cuci darah, fungsi ginjal pelan-pelan akan melemah.

Makin banyak jaringan ginjal dan sel organ lainnya yang rusak. Tanpa cuci darah, jaringan ginjal dan sel organ lainnya dalam tubuh tidak bisa bekerja sendiri dan akhirnya akan rusak. 

Gejala dan komplikasi tambah parah. Komplikasi telat cuci darah di antaranya adalah gagal jantung. Ini karena tiba-tiba kadar kalium dalam darah melonjak naik. Gagal jantung bisa berakibat fatal. 

Fungsi ginjal akan berhenti sepenuhnya. Kalau Anda tidak rutin cuci darah, fungsi ginjal Anda bisa saja berhenti sepenuhnya. Karena ginjal adalah organ vital manusia, ginjal yang sudah tidak berfungsi lagi bisa menyebabkan kematian

Pernah saya ditawari teman saya namanya Bu Yuli yang sehari hari sebagai Notaris untuk wilayah Jawa Timur rumahnya di Medokan Sawah, yang ditawarkan minuman darah ular kobra, saya tolak dengan cara halus supaya tidak tersinggung, dia itu kalau sakit langsung meluncur ke Jombang minta darah kobra untuk diminum, setelah minum badan rasanya segar. Menurut orang muslim minum darah itu haram. Obat herbal yang pernah saya konsumsi sudah bermacam macam seperti daun sukun yang jatuh dari pohonnya terus direbus kemudian diminum, daun petersel daunnya seperti seladri dan daun seladri juga, masih tetap tidak membawa hasil. 

Saya diberi oleh Allah Penyakit Gagal ginjal Kronis tidak putus asa tetap berjuang dan ada hikmahnya :

Pada bulan 10 Desember 2016 saya diberi kesempatan oleh Allah menunaikan Ibadah Umrah selama 10 hari, bersama keluarga : Saya, Isteri dan 2 anak, di Masjidil haram saya berdoa di depan makam Rasulallah dan tempat2 yang diijabahi minta kesembuhan penyakit saya, sebelum berangkat saya dibekali dari dokter RSAL surat Travelling Hemodialisis di Mekah, alhamdulillah saya masih kuat waktu itu jadi tidak saya gunakan.

Selama sakit 3,5 tahun saya alhamdulillah masih sanggup mengkhatamkan Al Quran sampai 20 kali, padahal kalau tidak diberi sakit belum tentu saya buka kitab suci Al Quran, 1 kali saja belum tentu khatam Al Quran.

Seperti kalau kita therapi hemodialiasis (HD) di RSAL punya teman banyak, tadinya tidak kenal satu sama lain akhirnya saling kenal seperti saudara dan guyup misalnya teman satunya tidak datang langsung ditelepon ditunggu suster untuk HD, jadi pengantar atau keluarganya bisa guyup, tidak jarang keluarga pasien membawa kue atau makanan kecil dibagi bagikan ke pasien dan yang menunggu, menurut saya itulah hikmah karena merasa sehidup seperjuangan, kalau ada temannya sakit kita jenguk sama-sama, itulah hikmah orang sakit masih diberi rahmat oleh Allah SWT.

pro5.jpgRS PHC, Tanjung Perak, Surabaya. (FOTO: Chairul Anwar)

Selama Hemodialisis 3,5 tahun saya sering mengalami kesehatan drop terutam Hemoglobin (HB) turun sampai 7 normalnya antara 13,2  17,3 untuk orang yang sakit gagal ginjal hemoglobin yang dikehendaki 7,6 sudah boleh hemodialisis (HD), kalau melihat HB kurang dokter menyebutnya Anemia, perlu transfusi sampai menghabiskan 2 sampai 3 kantong dalam 2 hari, setelah itu baru boleh hemodialisis. 

Setiap Rabu dan Sabtu ke RSAL ada rasa kejenuhan, tidak jarang pagi2 berangkat jam 04.00 sebelum subuh naik kendaraan umum bis hijau jurusan Joyoboyo  Mojokerto, kadang2 cepat kadang2 lama menunggu, setelah naik turun depan RSI Surabaya, setelah itu jalan kaki menuju Mushollah sholat subuh dulu, kemudian baru ke ruangan hemodialisis kira2 jam 05.00 sampai jam 09.00 begitulah pekerjaan saya sehari hari setelah pensiun. Dari pekerjaan yang menjenuhkan ada 2 teman hemodialisis mencoba pasang CAPD, setelah berhasil kedua teman tersebut cerita ke saya, akhirnya saya tertarik dengan cerita dia, kelihatannya kedua teman tersebut kulitnya bersih, perutnya tidak buncit karena minumnya tidak seberapa banyak. Akhirnya saya tertarik dan ikut pasang CAPD.

MANFAAT DAN RISIKO CAPD 

Ada metode selain hemodialisis yang dapat digunakan dalam proses cuci darah. Namanya CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis). Pada metode ini, selang bukan dipasang di lengan, melainkan di rongga perut.

Kita ketahui, ginjal berfungsi menyaring zat-zat sisa di dalam darah dan membuangnya melalui urine. Ketika ginjal gagal untuk melakukan fungsinya, zat-zat sisa akan menumpuk di dalam tubuh. Inilah yang menimbulkan efek berbahaya. 

Agar hal tersebut tidak terjadi, penderita gagal ginjal memerlukan bantuan untuk menyaring zat-zat sisa dari darah. Proses penyaringan ini disebut sebagai dialisis.

Dialisis bisa dilakukan dengan dua metode, yaitu hemodialisis (cuci darah) dan dialisis peritoneal (cuci darah lewat perut). Metode yang kedua inilah yang disebut CAPD.

Cara Kerja CAPD

CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis) diawali dengan pembuatan sebuah lubang kecil di dekat pusar pasien oleh dokter bedah. Lubang kecil ini berguna untuk memasukkan selang (kateter) ke dalam rongga perut (rongga peritoneum). 

Kateter akan dibiarkan berada di rongga perut agar pasien dapat melakukan proses dialisis sendiri. Begini alurnya:

Setiap kali hendak melakukan cuci darah, pasien gagal ginjal harus menghubungkan kantong berisi cairan dialisat baru ke kateter dan menunggu sampai cairan tersebut mengisi rongga perutnya.

Cairan dialisat kemudian dibiarkan di dalam rongga perut selama beberapa jam. Ketika darah melewati pembuluh darah di peritoneum, zat-zat sisa dari darah tersebut akan diserap oleh cairan dialisat ini.

Cairan dialisat yang sudah tercampur dengan zat-zat sisa akan dialirkan keluar melalui perut ke kantong lain yang kosong.

Proses ini harus dilakukan oleh pasien sekitar 4 kali per hari. Masing-masing proses pertukaran cairan biasanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Keunggulan CAPD

Dibandingkan dengan hemodialisis, CAPD memiliki beberapa kelebihan, di antaranya adalah:

1/ Pasien gagal ginjal tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit. 

Pasien yang menjalani hemodialisis biasanya perlu berkunjung sampai tiga kali ke rumah sakit atau klinik setiap minggu. Masing-masing kunjungan membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk proses hemodialisis. 

CAPD dapat dilakukan sendiri di rumah tanpa membutuhkan mesin hemodialisis. Dengan begitu pasien tidak perlu rutin berkunjung ke rumah sakit atau klinik untuk cuci darah.

2/ Peralatan yang digunakan untuk CAPD bersifat portabel (mudah dibawa).

Peralatan CAPD biasanya hanya berupa kantong cairan dialisat, klip, dan kateter untuk mengalirkan cairan dialisat ke dalam rongga perut. Karena mudah dibawa, CAPD memungkinkan penggunanya lebih leluasa bepergian. 

CAPD juga lebih mudah digunakan oleh pasien yang tinggal jauh dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

3/ Larangan atau batasan makanan pengguna CAPD lebih sedikit.

Karena proses cuci darah dengan CAPD dilakukan setiap hari dan bukan hanya tiga kali per minggu, pengguna CAPD umumnya akan memiliki risiko lebih kecil mengalami akumulasi atau penumpukan kalium, natrium, dan cairan. 

Hal ini menyebabkan pengguna CAPD lebih fleksibel dalam mengatur asupan makanan dan minuman dibandingkan pengguna hemodialisis.

4/ Fungsi ginjal dapat bertahan lebih lama.

Pengguna CAPD mungkin dapat mempertahankan fungsi ginjal lebih lama dibandingkan pengguna hemodialisis.

5/ Lebih baik bagi jantung dan pembuluh darah.

Dengan CAPD, pasien gagal ginjal dapat mengontrol jumlah cairan di dalam tubuh dengan lebih baik. Hal ini akan mengurangi beban kerja jantung dan tekanan di dalam pembuluh darah.

RISIKO CAPD

Setiap prosedur medis pasti memiliki kelemahan. Artinya, di balik keunggulan CAPD sekali pun, metode ini tetap memiliki risiko pada orang yang menjalaninya. Beberapa di antaranya adalah:

1/ Infeksi

Area kulit di sekitar kateter dapat terinfeksi oleh bakteri jika kebersihannya kurang terjaga. Risiko terjadinya infeksi pada CAPD cukup tinggi karena pengguna perlu membuka-tutup kateter dan melakukan pergantian cairan dialisat secara rutin. 

Ketika masuk, bakteri dapat menginfeksi peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Gejalanya berupa demam tinggi, sakit perut, mual, muntah, dan cairan dialisat berwarna keruh.

2/ Hernia.

Pengguna CAPD akan menahan cairan dialisat di dalam rongga perut untuk waktu yang lama. Kondisi ini memberikan tekanan pada dinding perut. Tekanan yang terus-menerus akan menyebabkan kelemahan pada dinding perut. Akibatnya, organ di dalam perut, seperti usus, dapat menonjol keluar dan membentuk hernia.

3/ Peningkatan berat badan.

Cairan dialisat mengandung gula yang disebut dekstrosa. Terserapnya cairan ini dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh kelebihan kalori dan mengalami peningkatan berat badan. Hal ini juga dapat memperburuk penyakit diabetes.

4/Dialisis tidak optimal.

Seiring berjalannya waktu, efektivitas CAPD dalam membersihkan darah bisa berkurang, sehingga pasien gagal ginjal mungkin perlu beralih ke hemodialisis.

Dengan mempertimbangkan segala manfaat dan risiko CAPD, pasien gagal ginjal diharapkan dapat memilih metode penyaringan cairan dan darah yang paling sesuai untuk dirinya. 

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar diberikan penjelasan dan penanganan yang sesuai.

Dengan melihat perbandingan antara Hemodialisis dan CAPD kenyataannya lebih menguntungkan CAPD, maka saya putuskan beralih ke CAPD. 

Maka, pada 15 Nopember 2019 saya berkunjung ke rumah teman saya Bapak Sri Sapto minta saran bagaimana caranya beralih ke CAPD. Inilah sarannya:

Mintalah persetujuan dari RSAL, dalam hal ini dokter Herjunianto (dokter penyakit dalam), bahwa akan pindah dari Hemodialisis ke CAPD. Kemudian akan direkomendasikan ke Rumah Sakit PHC, Surabaya. Menemui dokter Chandra Irwanadi M, DR.SP.PD spesialis neprologi.

Pada tanggal 17 Nopember 2019 saya ke dokter RSAL minta rekomendasi dan disetujui oleh dokter Herjunianto. Pada tanggal 18 Nopember 2019 saya ke dokter Chandra di RS PHC, Surabaya. Disetujui dan disarankan ke dokter Luciana Wardoyo, SP.B-KBD, spesialis bedah digestive.

Pada 23 Nopember 2019 saya ke dokter Luciana Wardoyo. Beliau mengatakan bisa dilakukan, tunggu jadwal operasi. Pada Sabtu 30 Nopember 2019 Sabtu saya ditelepon. Dikabarkan bahwa operasi bisa dilakukan pukul 14.00. Syaratnya: Jumat malam pukul 22.00 saya harus puasa.

Sebelum puasa saya hemodialisasi di RSAL. Besok paginya saya berangkat ke rumah sakit PHC sekitar pukul 05.00. Petugasnya masih tidur ketika saya sampai di RS PHC. Saya bangunkan. Kemudian  saya dipanggil ke laboratorium untuk periksa kesehatan. Ternyata tidak ada masalah. 

Setelah itu disuruh puasa mulai pukul 07.00 sampai 14.00. Jadi, puasa mulai Jumat jam 22.00 dibatalkan. Sekitar pukul 14.00 saya dibawa ke lantai 4 ke ruang operasi. Saya sempat bertanya-tanya bagaimana rasanya operasi. Ternyata yang sakit pada waktu disuntik obat bius, disuntikkan di punggung. 

Tak sampai 30 menit  operasi sudah selesai. Saya disuruh tiduran dan kembali dibawa ke ruangan untuk istirahat. Besoknya, 1 Desember 2019 pukul 15.00 saya boleh pulang. 

Pada tanggal 11 Desember 2019 saya dapat kiriman cairan sebanyak 20 karton. Per karton berisi 6 kantong plastik cairan @ 2.000 mL. Cairan tersebut nantinya dimasukkan ke rongga perut. Setelah 6 jam dikeluarkan lagi, dan dimasukkan cairan baru sampai 4 kali dalam sehari. 

Dalam 20 karton itu, yang 15 karton berisi 1,5% dextrose, cairan tersebut untuk jangka waktu 6 jam harus diganti. Sedangkan yang 5 karton berisi 2,5% dextrose. Cairan dapat digunakan 8 jam baru diganti. Biasanya digunakan sebelum tidur. 

Ada lagi cairan 7,5% dextrose yang digunakan untuk bepergian. Tapi harus beli sendiri, harganya 1 kantong Rp. 225.000. 

Sebetulnya saya mendapat pelatihan memasang selang cairan 14 hari setelah operasi. Namun ketika saya ke rumah sakit PHC minta pelatihan cara memasang CAPD, ditolak karena belum 14 hari. 

Baru tanggal 14 Desember 2019 saya diberi pelatihan di rumah sakit PHC. Setelah paham, di rumah saya kerjakan sendiri dibantu isteri. 

Perlu diketahui di kantong tersebut tertera HET atau harga eceran Rp 76.032. Setiap bulan saya dapat kiriman 120 kantong. Selama 6 bulan sama dapat 720 kantong. Jika dirupiahkan = Rp. 54.743.040.

Di akhir tulisan ini saya perlu mengingatkan kepada teman-teman atau siapa pun, bahwa organ ginjal itu sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Karena itu, kesehatan ginjal mutlak diperhatikan. 

Di rumah sakit ada stiker yang berbunyi: “Sayangilah Ginjal Anda.” Tepat sekali! Pasalnya, sakit ginjal kronis tidak bisa diobati. Yang bisa dilakukan hanya cuci darah atau hemodialisis di rumah sakit. Tiap minggu dua sampai tiga kali. 

Atau, pasang CAPD di rumah dengan setiap 6 jam sekali ganti cairan. Yang harus dijaga dan diperhatikan, banyaklah minum air putih atau air mineral. Kalau sering minum air putih atau air mineral, ginjal akan dingin terus tidak akan panas. 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca. Bisa menjadi acuan apabila ada keluarga pembaca yang mengalami sakit seperti saya. Begitulah kegiatan saya sehari-hari setelah pensiun, dan sekarang di rumah saja. Wassalamualaikum warakhmatullah wabarakatuh. Terima kasih.(*)

DATA PENULIS

Nama: Chairul Anwar

Pekerjaan: Pensiunan PT. Petrokimia Kayaku, 

Sekarang: Usaha Foto copy di rumah

Alamat: Dusun Sambisari RT. 26 RW. 05 Desa Sambibulu Kec. Taman Sidoarjo.    

Catatan: Pro Cowas JP adalah rubrik anyar CoWasJP.com. Ruang ekspresi para pembaca (viewers). Tulisan yang positif dari para pembaca. Mohon maaf, tulisan yang bernada menghujat, beraroma SARA, dan bermuatan kepentingan politik, tidak ditayangkan.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda